Reksa Dana di Era Old Economy vs New Economy

Kompas.com - 03/09/2021, 15:09 WIB
ilustrasi investasi FREEPIK/JCOMPilustrasi investasi

Perkembangan yang pesat pada teknologi informasi dan komunikasi, telah merevolusi dan mendisrupsi aktivitas ekonomi yang sebelumnya.

Ada perusahaan lama yang bertransformasi dengan mengadopsi teknologi dalam proses bisnisnya, ada juga yang sejak awal pendirian sudah berbasis teknologi.

Perusahaan-perusahaan yang melakukan transformasi di atas disebut sebagai sektor New Economy.

Baca juga: Simak Strategi Investasi Reksa Dana untuk Milenial

 

Contoh perusahaan ecommerce yang sudah kita kenal seperti Bukalapak, Tokopedia, Blibli, Lazada Shopee, kemudian sektar terkait seperti Bank Digital, pergudangan dan transportasi yang mendukung transaksi di ecommerce, layanan kesehatan, wisata dan penjualan produk keuangan via 100 persen digital juga masuk dalam kategori tersebut.

Sebagian dari perusahaan di atas, sudah IPO sehingga sahamnya bisa dibeli seperti Bukalapak. Kemudian ada juga yang berencana IPO seperti Blibli, Traveloka, dan GoTo. Untuk sektor terkait seperti bank digital juga sama, ada yang sedang atau sudah mendapat izin sebagai bank digital, ada juga menyatakan diri akan bertransformasi ke arah tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Untuk perusahaan-perusahaan yang sudah IPO dan laporan keuangannya sudah bisa diakses oleh publik, kebanyakan masih rugi. Atau kalaupun untung, angkanya masih kecil dan terkadang kontribusinya bukan dari kegiatan operasional tapi dari yang sifatnya non operasional sehingga tidak diketahui apakah mampu dipertahankan atau tidak.

Sebagai contoh, per Juni 2021, Bukalapak (BUKA) masih merugi Rp 766 miliar. Bank Jago (ARTO) yang dikenal sebagai bank digital afiliasi dengan Gojek dan Tokopedia masih mencetak juga masih rugi Rp 46 miliar.

Secara fundamental atau kemampuan menghasilkan laba, jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan old economy yang sudah mapan seperti BBCA, BBRI, TLKM, BMRI, BBNI, GGRM, UNVR, ASII yang labanya sudah triliunan bahkan puluhan triliun per tahun rasanya seperti langit dan bumi.

Tapi tidak demikian untuk harga sahamnya. Dari awal tahun hingga 1 September 2021, harga saham ARTO telah naik 237,21 persen. Sementara 4 bank terbesar yang merupakan perwakilan Old Economy malah negatif.

BBCA -3,03 persen dengan Laba Semester 1-2021 Rp 14,5 triliun
BBRI -6,72 persen dengan Laba Semester 1-2021 Rp 12,54 triliun
BBNI -13,77 persen dengan Laba Semester 1-2021 Rp 5,03 triliun
BMRI - 5,14 persen dengan Laba Semester 1-2021 Rp 14,50 triliun

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.