Dunia Belum Kompak Hadapi Pandemi, Sri Mulyani: Banyak Aspek Geopolitiknya

Kompas.com - 03/09/2021, 17:42 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (24/2/2019). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIAMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin (24/2/2019).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, respons dunia menangani pandemi Covid-19 masih sangat kompleks. Hal ini dipengaruhi oleh banyak aspek, termasuk aspek geopolitik.

Sri Mulyani menilai dunia seolah masih tidak kompak merespons krisis akibat pandemi Covid-19. Padahal mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengungkapkan, seharusnya ada mekanisme tersusun bagi dunia untuk menangani pandemi.

"Karena ini (Covid-19) jadi masalah global, harusnya ada yang disebut mekanisme global menangani pandemi. Namun diakui respons global itu tidak terjadi secara mudah dan sangat kompleks. Banyak sekali aspek geopolitiknya," kata Sri Mulyani ketika menyampaikan kuliah umum secara virtual, Jumat (3/9/2021).

Baca juga: Sri Mulyani Atur Ulang Barang Bebas PPN, Ini Rinciannya

Perempuan yang kerap disapa Ani itu menyebut, aspek geopolitik itu terlihat ketika negara di dunia saling tuding-menuding dari mana pandemi berasal.

Salah satu tudingan sempat dilayangkan oleh mantan Presiden AS, Donald Trump, kepada China.

"Sampai saat ini saja, melihat dalam berita internasional, masih terus adanya tensi saling menunjuk, ini siapa virusnya mulai dari mana, penyebabnya dari apa, sampai kepada masalah cara menanganinya gimana," ucap Sri Mulyani.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain faktor geopolitik, faktor keuangan dan sistem kesehatan menjadi tantangan lainnya. Dunia masih bergulat mencari jalan keluar untuk membantu negara miskin yang tidak memiliki ketahanan fiskal untuk mendapatkan vaksin Covid-19. Sebab, pandemi hanya bisa selesai jika seluruh dunia kompak dan bekerja sama.

Baca juga: Satgas Waspada Investasi: Sebenarnya Tujuan Pinjol Sangat Mulia, tetapi...

"Sementara kalau virus bergentayangan, maka virus akan berubah dan bermutasi. Dan dia kemudian semakin bermutasi, dunia semakin sulit lagi untuk menghadapi. Ini adalah persoalan public policy secara global yang sangat rumit," beber Sri Mulyani.

Meski begitu, Sri Mulyani menuturkan, kejadian ini bisa dijadikan pelajaran dan bekal ketika dunia kembali menghadapi krisis ke depan.

Risiko dunia menghadapi krisis serupa ke depan akan selalu ada, sehingga terus belajar adalah kunci penanganan yang lebih baik.

"Dan harus diakui sampai hari ini respons global terhadap pandemi masih luar biasa belum memadai dibanding ancaman yang terjadi akibat pandemi. Implikasi dengan adanya living with endemic sangat besar," pungkas Ani.

Baca juga: Sri Mulyani: Selama 22 Tahun Pemerintah Tanggung Bunga dan Pokok Utang BLBI

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.