Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cara Meningkatkan Omzet UMKM Selama Pandemi Covid-19

Kompas.com - 15/09/2021, 07:42 WIB
Elsa Catriana,
Yoga Sukmana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melakukan berbagai cara agar meningkatkan omzet selama pandemi Covid-19.

Salah satu cara yang umum dilakukan yaitu masuk ke dalam ekosistem digital atau menjual produk secara online.

Sebab saat ini tren belanja masyarakat yang mengandalkan layanan digital seperti platform e-commerce untuk telah meningkat.

Baca juga: Ini Isu Penting yang Akan Jadi Menu Utama Pertemuan G20 pada 2022

Novi, pemilik usaha Dendeng Kukuruyuk mengungkapkan omzetnya meningkat setelah berjualan online.

Ia berangkat dari keinginannya untuk membuktikan bahwa kelezatan dendeng buatan ibunya berbeda dengan dendeng lain pada umumnya.

“Produk kami terinspirasi dari dendeng Singapura yang kebanyakan non-halal, namun dendeng yang kami miliki ini dibuat khusus dengan bahan-bahan yang halal agar sesuai dengan tradisi, selera dan kebutuhan masyarakat Indonesia," ujarnya dalam siaran persnya, dikutip Kompas.com, Rabu (15/9/2021).

Novi hanya menggunakan daging ayam asli sebagai bahan utama dendeng dan dapat dikonsumsi langsung tanpa dimasak terlebih dahulu.

Pada 2019, Novi akhirnya bergabung dengan Tokopedia. Pada saat itu, usahanya terbilang cukup lancar. Namun sejak PPKM, omzet Dendeng Kukuruyuk menurun drastis.

Di tengah pandemi, Tokopedia membuka kampanye Tokopedia Nyam. Novi lantas memutuskan untuk bergabung dengan kampanye tersebut

“Selama pandemi, 60 persen penjualan kami berasal dari Tokopedia. Setelah 2 bulan mengikuti kampanye Tokopedia Nyam, masyarakat dari Aceh hingga Papua dapat dengan mudah menemukan produk Dendeng Kukuruyuk. Kampanye ini membantu omzet kami meningkat,” ungkap Novi.

Baca juga: Kimia Farma Pecat Karyawannya yang Jadi Terduga Teroris

Galih Ruslan, pemilik usaha Kylafood juga punya pengalaman yang sama. Usaha Galih dimulai dari 2 varian camilan khas Jawa Barat. Namun kini Kylafood memiliki lebih dari 40 varian camilan tradisional khas berbagai daerah yang sering dicari oleh masyarakat.

Galih mengungkapkan 2 produk favorit yang paling laris adalah seblak original dan batagor kuah.

“Saat awal pandemi, produk kami laku keras. Omzet melonjak sebesar 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya," kata Galih Ruslan.

Lonjakan transaksi tersebut membuat Galih harus menambah karyawan. Ia bekerja sama dengan Ketua RW setempat untuk merekrut karyawan tetap maupun paruh waktu. Galih juga memantapkan diri untuk mengembangkan terus bisnisnya lewat kanal online.

“Agar tetap relevan dengan perkembangan zaman khususnya di tengah pandemi, pemanfaatan platform digital seperti Tokopedia kini sudah menjadi sebuah keniscayaan bagi pegiat UMKM yang ingin mempertahankan bisnis,” jelas Galih.

Ia pun mengaku, berkat kampanye Tokopedia Nyam omzetnya meningkat hingga 70 persen.

Baca juga: 3,000 UMKM Binaan BUMN Telah Dapat Sertifikat TKDN

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Pemerintah Klaim Target Produksi Minyak 1 Juta Barrel Dongkrak Investasi

Pemerintah Klaim Target Produksi Minyak 1 Juta Barrel Dongkrak Investasi

Whats New
BPK: Negara Berpotensi Kehilangan PNBP Rp 3 Triliun dari Kebijakan Bebas Visa Kunjungan

BPK: Negara Berpotensi Kehilangan PNBP Rp 3 Triliun dari Kebijakan Bebas Visa Kunjungan

Whats New
Tingkatkan Akurasi dan Percepat Proses Akuntansi hingga 83 Persen, Software ERP Jadi Kunci Pertumbuhan Bisnis pada 2024

Tingkatkan Akurasi dan Percepat Proses Akuntansi hingga 83 Persen, Software ERP Jadi Kunci Pertumbuhan Bisnis pada 2024

Whats New
Bulog Akan Akusisi Sumber Beras di Kamboja, Ombudsman Sebut Terobosan Bagus

Bulog Akan Akusisi Sumber Beras di Kamboja, Ombudsman Sebut Terobosan Bagus

Whats New
HSG Ambles 1,42 Persen, Rupiah Anjlok ke Level Rp 16.412

HSG Ambles 1,42 Persen, Rupiah Anjlok ke Level Rp 16.412

Whats New
Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp 16.400 per Dollar AS di Pasar Spot

Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp 16.400 per Dollar AS di Pasar Spot

Whats New
Jaga Inflasi, Pemerintah Sudah Kucurkan Rp 52,56 Triliun

Jaga Inflasi, Pemerintah Sudah Kucurkan Rp 52,56 Triliun

Whats New
Bakal Ada Peta Jalan Industri Dana Penisun, Apa Pentingnya buat Kita?

Bakal Ada Peta Jalan Industri Dana Penisun, Apa Pentingnya buat Kita?

Whats New
KKP: 500 Juta Benih Lobster Keluar dari RI secara Ilegal Setiap Tahun, Negara Rugi Triliunan

KKP: 500 Juta Benih Lobster Keluar dari RI secara Ilegal Setiap Tahun, Negara Rugi Triliunan

Whats New
Ini Kata Menko Airlangga soal Usulan Korban Judi Online Dapat Bansos

Ini Kata Menko Airlangga soal Usulan Korban Judi Online Dapat Bansos

Whats New
Lowongan Kerja BUMN Yodya Karya, Ini Posisi dan Persyaratannya

Lowongan Kerja BUMN Yodya Karya, Ini Posisi dan Persyaratannya

Work Smart
OJK Dorong Penerbitan Ketentuan Baku Asuransi Kendaraan Listrik

OJK Dorong Penerbitan Ketentuan Baku Asuransi Kendaraan Listrik

Whats New
Tujuh Tips Bijak Menggunakan Produk Deposito di BPR

Tujuh Tips Bijak Menggunakan Produk Deposito di BPR

Whats New
Perkokoh Ekonomi Nasional, Shopee Dorong UMKM Bertransformasi dan Berdaya Saing

Perkokoh Ekonomi Nasional, Shopee Dorong UMKM Bertransformasi dan Berdaya Saing

Whats New
Relaksasi Aturan Impor Dinilai Picu Pabrik Tekstil Tutup, Pengusaha Minta Jokowi Turun Tangan

Relaksasi Aturan Impor Dinilai Picu Pabrik Tekstil Tutup, Pengusaha Minta Jokowi Turun Tangan

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com