Pemerintah Bidik Industri Pengolahan dan Manufaktur Masuk Dalam KEK

Kompas.com - 16/09/2021, 20:02 WIB
Pekerja melakukan perakitan mobil wuling di Pabrik Wuling Motors, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (9/5/2018). Pabrik seluas 60 hektar yang terdiri dari pabrik manufaktur dan supplier park mampu memproduksi 120.000 unit kendaraan pertahun. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGPekerja melakukan perakitan mobil wuling di Pabrik Wuling Motors, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (9/5/2018). Pabrik seluas 60 hektar yang terdiri dari pabrik manufaktur dan supplier park mampu memproduksi 120.000 unit kendaraan pertahun.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelaksana Tugas Sekretaris Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Elen Setiadi menargetkan banyak industri pengolahan dan industri manufaktur masuk dalam kawasan khusus tersebut.

Elen menuturkan, masuknya industri-industri tersebut akan mampu meningkatkan kinerja ekspor Indonesia dari industri nonmigas.

Begitu pula sesuai dengan target Presiden RI Joko Widodo mengubah struktur ekonomi dari berbasis konsumsi menjadi berbasis konsumsi melalui ekspor dan investasi.

Baca juga: Tekan Penyebaran Covid-19, Kemenperin Pantau Operasional Industri Manufaktur

"KEK diminta adaptif dengan perkembangan industri terutama kebutuhan dalam negeri dan dunia sehingga demikian memerlukan beberapa sektor yang perlu ditetapkan masuk dalam KEK adalah manufaktur atau industri lebih banyak di sektor jasa," kata Elen dalam Kompas Talks, Kamis (16/9/2021).

Badan Pusat Statistik mencatat, ekspor nonmigas pada Agustus 2021 tumbuh 21,75 persen (mtm) di angka 16,72 miliar dollar AS.

Secara tahunan, ekspor komoditas andalan ini meningkat 63,43 persen (yoy) dari 12,45 miliar 2021.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Komoditas yang mengalami peningkatan nilai ekspor tertinggi yakni lemak dan minyak hewan dan nabati naik 1,54 miliar dollar AS, serta bahan bakar mineral naik 573,2 juta dollar AS.

Baca juga: PMI Manufaktur Anjlok, Kemenkeu: Negara Lain di ASEAN Juga Mengalami

Lalu, komoditas biji logam, terak, dan abu naik 213,1 juta dollar AS, besi dan baja naik 180,2 dollar AS, serta timah dan barang daripadanya naik 106 juta dollar AS.

Elen menuturkan, momentum surplus neraca perdagangan karena tingginya ekspor komoditas nonmigas harus dimanfaatkan dengan adanya KEK.

"Pokok dari ekspor kita yang paling besar selain migas adalah industri pengolahan. Dan ini adalah salah satu yang kita ingin tuju untuk dan kita dorong untuk masuk di dalam KEK. Bijih logam juga yang menjadi target kita untuk bagian sektor yang kita dorong untuk dikembangkan di KEK," beber Elen.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.