Mengenal "Sunk Cost Fallacy", Istilah "Bucin" di Dunia Investasi

Kompas.com - 19/09/2021, 12:14 WIB
Ilustrasi investasi. SHUTTERSTOCK/SERGEY NIVENSIlustrasi investasi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Istilah sunk cost dan sunk cost fallacy banyak diperbincangkan di media sosial saat ini. Dalam ilmu akuntansi, sunk cost merujuk pada biaya hangus atau biaya yang terjadi di masa lalu dan tidak dapat diubah sekarang maupun di masa mendatang.

Berangkat dari istilah tersebut, pada akhirnya muncul fenomena sunk cost fallacy. Sunk cost fallacy merujuk pada kekeliruan sikap terhadap biaya hangus.

Dalam investasi sendiri, sering kali ditemukan beberapa orang yang tetap memilih setia pada suatu saham meskipun saham tersebut tren nya sedang turun.

Baca juga: Bappebti Blokir 249 Situs Investasi Bodong pada Agustus 2021

Beberapa orang tersebut memilih untuk tetap berinvestasi karena mereka sudah terlanjur banyak mengeluarkan uang dan merasa sayang untuk meninggalkan saham tersebut. Pemikiran itu lah yang disebut sebagai sunk cost fallacy.

Gembong Suwito, CFP®, QWP selaku perencana keuangan finansialku menggambarkan fenomena sunk cost fallacy dengan istilah ‘kebucinan’ atau rasa sayang berlebih.

“Sebenarnya ini sudah turun saham-sahamnya, tapi karena sudah sayang banget terus ditambah. Ya bucin lah bahasa cinta nya ya. Sudah bucin jadi apapun keadaanya ya tetap ditambah,” ujarnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sunk cost fallacy baik atau buruk?

Perihal baik dan buruk, Gembong menyampaikan bahwa hal tersebut bergantung pada tipe pemain saham. Menurutnya ada dua tipikal orang dalam bermain saham, yaitu sebagai investor dan trader.

Mari ambil contoh dari saham yang bergerak pada bidang consumer goods atau barang konsumsi sehari-hari. Kondisi pandemi menyebabkan saham perusahaan yang bergerak pada bidang ini menurun, seperti yang terjadi pada Unilever.

Orang dengan tipe investor akan melihat ini sebagai sebuah kesempatan karena harga di pasar bisa dikatakan murah. Dengan membeli di harga yang murah ke depannya jika harga naik mereka akan menjualnya.

Sedangkan bagi orang dengan tipe trader, tren turun mungkin akan memengaruhi mereka. Hal ini disebabkan karena mereka butuh keuntungan yang instan dan dalam waktu yang singkat, biasanya mingguan atau bulanan.

“Kalau dia memahami apa yang dia beli, maka istilah itu baik. Tapi kalau misalkan sebagai trader dan tidak punya rencana, maka sunk cost fallacy ini menjadi buruk,” tegas Gembong.

Baca juga: Ini Investasi yang Sesuai untuk Usia 30 hingga 50 Tahun

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.