Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Saat Peternak Ayam Tagih Janji Jokowi soal Swasembada Jagung

Kompas.com - 20/09/2021, 23:08 WIB
Muhammad Idris

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Muhammad Irham Faro (27) barangkali tak pernah menyangka keputusannya terjun ke usaha peternak ayam layer atau petelur bakal berakhir pahit.

Jebolan Jurusan Manejemen Pemasaran Universitas Negeri Semarang ini memang sudah berniat kembali ke desanya di Pati, Jawa Tengah, untuk berwirausaha dengan beternak ayam petelur usai lulus kuliah.

Keputusannya memilih ternak ayam petelur bukan tanpa alasan. Bisnis ayam petelur dinilai masih lebih memiliki prospek bagus ketimbang ayam pedaging atau broiler.

Sudah lazim di kalangan peternak, budidaya ayam pedaging atau ayam broiler mandiri sudah tak secerah dulu. Sudah banyak peternak ayam pedaging yang babak belur, bahkan bangkrut karena tak kuat bertahan.

Baca juga: Dilema Impor Jagung: Peternak Senang, Petani Meradang

"Lulus kuliah tahun 2017, langsung beternak ayam petelur. Mulai ternak 2018, uang tabungan ditambah dari pinjam orang tua sebagai modal awal," kata Faro saat dihubungi, Senin (20/9/2021).

Baru mulai beternak ayam, dirinya langsung frustasi karena sejak 2017 jagung yang jadi bahan utama pembuatan ransum ayam pasokannya sulit didapat. Kalau pun tersedia, harganya sudah terlampau tinggi bagi peternak kecil seperti dirinya yang hanya memelihara 1.000 ekor ayam.

Mengandalkan pakan jadi dari pabrikan juga bukan solusi. Karena jagung juga mahal, secara otomatis pabrikan pakan juga menaikan harga pakan ayam produksi mereka.

"Pakan jadi juga mahal. Dulu awal-awal masih bisa dapat Rp 250.000 per sak (50 kg). Sekarang Rp 350.000 ke atas. Bayangkan kenaikannya sampai Rp 100.000," ucap Faro.

Baca juga: Marak, Ayam Kampung Tidak Asli Beredar di Pasaran

Harga telur anjlok

Belum habis cerita pilu dengan kelangkaan jagung kering, peternak ayam layer harus menanggung beban lagi karena harga anakan ayam (DOC) layer juga terus melambung.

Puncak kegetiran peternak ayam layer, lanjut Faro, adalah saat harga telur anjlok tajam hingga Rp 14.000 per kg. Padahal HPP produksi telur adalah kisaran Rp 17.000-18.000 per kg.

"Ini terparah. Mau nangis mas. Enggak ada untung," ungkap dia.

Ia mengaku, kondisi ini dirasakan peternak ayam layer lainnya di daerahnya. Padahal, peternakan ayam selama ini jadi penggerak ekonomi pedesaan.

"Jangankan untung, bertahan saja susah. Bingung mau bayar utang. Banyak peternak di Pati yang sudah berhenti. Sudah banyak nggak kuat, ayam nggak makan jagung, tapi makan sertifikat (utang ke bank)," ucap Faro yang aktif di organisasi peternak ayam petelur di Pati dan Blora ini.

Baca juga: Ladang Uang Ternak Ayam Kampung, Modal Kecil, Peluang Menjanjikan

Faro bilang, kondisi sulit yang dialami peternak ayam layer ini seolah kontradiksi dengan slogan pemerintah yang gencar mendorong kaum milenial terjun ke sektor pertanian dan peternakan.

Ia juga masih mengingat dengan jelas janji kampanye Pilpres Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menjanjikan Indonesia bisa swasembada jagung.

"Jangankan mau ekspor jagung, peternak ayam saja susah dapat jagung, mahal pula. Dulu 2014 ada yang janji mau swasembada jagung. Kalau terpilih saat Pilpres mau usahakan swasembada jagung, sekarang sudah masuk periode kedua," ucap Faro getir.

Ia juga menanggapi soal peternak Blitar yang mendapatkan bantuan jagung dari pemerintah pusat. Menurutnya, hal itu bukan solusi, bahkan cenderung membuat peternak daerah lain merasa terabaikan.

"Peternak tidak perlu bantuan jagung seperti itu, kita cuma mau harga jagung terjangkau dan harga telur ayam bisa stabil," kata Faro.

Baca juga: Benarkah Banyak Ayam Kampung Tidak Asli Dijual di Rumah Makan?

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com