Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Optimalkan Lahan Sekitar Stasiun, KAI Kembangkan Kawasan TOD

Kompas.com - 23/09/2021, 13:34 WIB
Yohana Artha Uly,
Ambaranie Nadia Kemala Movanita

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI akan mengoptimalkan pemanfaatan lahan di sekitar stasiun dengan mengembangkan kawasan yang terintegrasi transportasi massal atau transit oriented development (TOD).

Hal itu sebagai salah satu strategi perusahaan untuk optimalisasi aset yang dimiliki. Setidaknya ada 108 titik stasiun di Daop I Jakarta dan 18 titik stasiun LRT Jabodebek yang bisa dikembangkan menjadi TOD.

“Pengembangan TOD menjadi salah satu strategi jangka panjang KAI dalam mengoptimalkan aset-aset, terutama yang ada di kawasan stasiun,” ujar Direktur Perencanaan Strategis dan Pengembangan Usaha KAI Jeffrie Korompis dalam webinar Parpenka, Kamis (23/9/2021).

Baca juga: Perluas Investasi ke Startup Indonesia, Capria Ventures Gandeng Perusahaan Investasi Milik Pandu Sjahrir

Ia menjelaskan, TOD merupakan konsep pengembangan kawasan di dalam dan sekitar simpul transit dengan radius antara 400 meter hingga 1 kilometer, yang meniktikberatkan pada intergasi antarmoda.

Pengembangannya bisa berupa hunian, komersil atau ritel, hingga perkantoran. Jeffrie mengatakan, pengembangan tersebut membuat lahan lebih bernilai tambah.

“Potensi pendapatan akan muncul sebagai akibat adanya kawasan TOD, di mana pengembangan itu tidak semata-semata mengembangkan stasiun namun juga meningkatkan nilai lahan disekitarnya,” kata dia.

Jeffrie menyebutkan ada 3 topologi yang kawasan TOD yang dipersiapkan KAI.

Pertama, kawasan TOD tipologi urban yang merupakan campuran dari komersil, perkantoran, dan hunian di wilayah perkotaan yang memiliki intensitas tinggi atau pusat kegiatan primer.

Baca juga: Sebut Gernas BBI dan Penanganan Covid-19 Baik, Luhut: Itu karena Leadership Presiden yang Kuat

Proporsi pemanfaatan ruang dari kawasan TOD tipologi urban yakni 20 persen-60 persen untuk perumahan dan 40 persen-80 persen untuk non perumahan.

Contoh kawasan yang sedang dikembangkan studinya adalah Stasiun Tanah Abang, Senen, Dukuh Atas, Jakarta Kota, Bekasi, hingga Bogor.

Kedua, kawasan TOD tipologi sub-urban yang merupakan campuran dari komersil, perkantoran, dan hunian di perkotaan dengan intensitas sedang atau pusat kegiatan sekunder.

Proporsi pemanfaatan ruangnya non-perumahan sekitar 40–60 persen.

Contoh kawasan yang sedang dikembangkan studinya untuk TOD tipologi sub-urban adalah Stasiun Manggarai, Tanjung Barat, Pondong Cina, Pondok Ranji, Cisauk, dan Citayam.

Baca juga: Penerimaan Pajak Tembus Rp 741,3 Triliun, Sri Mulyani: Konsumsi Mulai Membaik

Ketiga, kawasan TOD tipologi lingkungan yang merupakan campuran dari komersil, perkantoran, dan hunian. Namun pemanfataan lahannya untuk perumahan menjadi lebih dominan.

“Ini sedang kami kembangkan dengan bekerja sama pengembang. Contohnya sedang dilakukan dialog untuk pengembangan TOD di sekitar Stasiun Maja,” jelas Jeffrie.

Ia mengatakan, KAI terus mematangkan rencana pengembangan kawasan TOD dengan melakukan pembagian klaster dan melakukan studi lebih mendetail terkait potensi-potensi pengembangan.

“Seperti akan dimulai dari stasiun mana, tekait status lahannya sudah clear and clean atau belum, termasuk investor yang mau bekeeja sama dengan KAI untuk mengembangkan kawasan TOD di stasiun-stasiun,” pungkas dia.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Bisa Berimbas ke Harga Barang Elektronik

Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Bisa Berimbas ke Harga Barang Elektronik

Whats New
Pendaftaran UM-PTKIN 2024 Sudah Dibuka, Ini Link, Jadwal, hingga Alurnya

Pendaftaran UM-PTKIN 2024 Sudah Dibuka, Ini Link, Jadwal, hingga Alurnya

Whats New
Rincian Harga Emas di Pegadaian Hari Ini 23 April 2024

Rincian Harga Emas di Pegadaian Hari Ini 23 April 2024

Spend Smart
Pembentukan Badan Penerimaan Negara Masuk Dokumen Rencana Kerja Pemerintah 2025

Pembentukan Badan Penerimaan Negara Masuk Dokumen Rencana Kerja Pemerintah 2025

Whats New
Neraca Dagang RI Kembali Surplus, BI: Positif Topang Ketahanan Eksternal Ekonomi

Neraca Dagang RI Kembali Surplus, BI: Positif Topang Ketahanan Eksternal Ekonomi

Whats New
Sambut Putusan MK soal Sengketa Pilpres, Kadin: Akan Berikan Kepastian bagi Dunia Usaha

Sambut Putusan MK soal Sengketa Pilpres, Kadin: Akan Berikan Kepastian bagi Dunia Usaha

Whats New
Simak Rincian Kurs Rupiah Hari Ini di CIMB Niaga hingga BCA

Simak Rincian Kurs Rupiah Hari Ini di CIMB Niaga hingga BCA

Whats New
Anjlok Rp 18.000 Per Gram, Simak Harga Emas Antam Hari Ini 23 April 2024

Anjlok Rp 18.000 Per Gram, Simak Harga Emas Antam Hari Ini 23 April 2024

Spend Smart
IHSG Awal Sesi Tancap Gas, Rupiah Malah Melemah

IHSG Awal Sesi Tancap Gas, Rupiah Malah Melemah

Whats New
Harga Emas Dunia Anjlok, Ini Penyebabnya

Harga Emas Dunia Anjlok, Ini Penyebabnya

Whats New
Bahan Pokok Hari Ini 23 April 2024: Harga Tepung dan Telur Naik, Daging Sapi dan Ayam Turun

Bahan Pokok Hari Ini 23 April 2024: Harga Tepung dan Telur Naik, Daging Sapi dan Ayam Turun

Whats New
Reksadana RDPT adalah Apa? Ini Pengertian dan Keuntungannya

Reksadana RDPT adalah Apa? Ini Pengertian dan Keuntungannya

Work Smart
Dana Pinjaman dari China Rp 6,9 Triliun Sudah Cair, KAI: Untuk Bayar Kontraktor Kereta Cepat Whoosh

Dana Pinjaman dari China Rp 6,9 Triliun Sudah Cair, KAI: Untuk Bayar Kontraktor Kereta Cepat Whoosh

Whats New
Indonesia Lebih Banyak Impor dari Israel Dibanding Iran, Bagaimana dengan Ekspor?

Indonesia Lebih Banyak Impor dari Israel Dibanding Iran, Bagaimana dengan Ekspor?

Whats New
Melemahnya Rupiah Bisa Bikin Harga Bawang Putih dan Kedelai Naik

Melemahnya Rupiah Bisa Bikin Harga Bawang Putih dan Kedelai Naik

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com