Kementerian ESDM Dinilai Perlu Buka Suara soal Blok Wabu

Kompas.com - 23/09/2021, 19:20 WIB
Pemandangan area tambang Grasberg Mine di Kabupaten Mimika, Papua, yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia, Minggu (15/2). Lubang menganga sedalam 1 kilometer dan berdiameter sekitar 4 kilometer itu telah dieksploitasi Freeport sejak 1988. Hingga kini, cadangan bijih tambang di Grasberg Mine tersisa sekitar 200 juta ton dan akan benar-benar habis pada 2017 nanti.

Kompas/Aris Prasetyo (APO)
15-02-2015     ARIS PRASETYOPemandangan area tambang Grasberg Mine di Kabupaten Mimika, Papua, yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia, Minggu (15/2). Lubang menganga sedalam 1 kilometer dan berdiameter sekitar 4 kilometer itu telah dieksploitasi Freeport sejak 1988. Hingga kini, cadangan bijih tambang di Grasberg Mine tersisa sekitar 200 juta ton dan akan benar-benar habis pada 2017 nanti. Kompas/Aris Prasetyo (APO) 15-02-2015

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat pertambangan Ferdy Hasiman menilai Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) perlu buka suara terkait status Blok Wabu.

Seperti diketahui, Blok Wibu yang berlokasi di Kabupaten Intan Jaya, Papua itu jadi perhatian publik menyusul perseteruan antara Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dengan dua aktivis yaitu Direktur Eksekutif Lokataru Haris Azhar bersama Koordinator Kontras Fatia Maulidiyanti.

“Mestinya, kementerian ESDM keluar mematikan kobaran api agar masalah ini tak meruncing ke jalur hukum seperti sekarang," ujarnya dalam siaran pers, Jakarta, Kamis (23/9/2021).

 

Ferdy melanjutkan, Kementerian ESDM perlu buka suara soal status Blok Wabu yang disebut-sebut sejumlah organisasi dikuasai oleh pihak swasta.

Salah satu perusahaan yang disebut-sebut terlibat di Blok Wabu tersebut yaitu PT Tobacom Del Mandiri, anak usaha Toba Sejahtera Group. Luhut sendiri adalah pemegang saham di Toba Sejahtera Group.

Baca juga: Bertambah 5, Ini Daftar Obligor/Debitor yang Temui Satgas Seminggu Terakhir

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Ferdy, setelah dilepas PT Freeport Indonesia, prioritas utama Blok Wabu adalah harus diserahkan ke perusahaan tambang BUMN, seperti Mind ID atau PT Aneka Tambang (Tbk) alias Antam, sebagaimana diamanatkan UU Nomor 3 Tahun 2020 tentang Mineral dan Batubara.

“Tambang yang diserahkan asing ke pemerintah pusat harus melalalui proses tender dan lelang secara transparan dan terbuka di Kementerian ESDM. Prioritasnya adalah perusahaan BUMN, jika BUMN tak tertarik baru ke BUMD dan terakhir barulah ke perusahaan swasta melalui mekanisme lelang,” kata Ferdy.

Ia menyebut Antam tertarik dan sudah siap masuk ke Blok Wabu. Namun ada laporan dari sejumlah organisasi bahwa pihak swasta sudah menguasasi blok tersebut.

"Kok sekarang tiba-tiba ada data terbaru dari Kontras dkk, Blok Wabu sudah di perusahaan swasta?," kata dia

Ferdy menilai Kementerian ESDM semestinya mengumumkan ke publik terkait posisi Blok Wabu saat ini. Jika Blok Wabu tak diberikan kepada ke perusahaan tambang BUMN, harus jelas alasannya ditenderkan ke swasta.

Ia mengatakan Blok Wabu adalah salah satu konsensi yang berjarak 50 kilometer dari tambang emas, Grasberg di Mimika, Papua yang dimiliki Freeport Indonesia dan Mind ID.

Berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2020 kata da, potensi sumber daya Blok Wabu sekitar 117.26 ton bijih dengan rata-rata kadar emas 2,16 gram per ton emas (Au) dan 1,76 gram per ton perak.

Artinya kata dia, setiap 1 ton materal emas dari tanah memiliki kadar sebesar 2,16 gram per ton emas dan 1,76 gram per ton perak.

Baca juga: Mengenal Blok Wabu, Gunung Emas dalam Konflik Luhut Vs Haris Azhar

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.