OJK Yakin Perkembangan Teknologi Bisa Genjot Tingkat Inklusi Keuangan

Kompas.com - 28/09/2021, 16:30 WIB
Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara . KOMPAS.com/Mutia FauziaAnggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara .
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Perkembangan teknologi pada industri keuangan diyakini dapat membantu upaya pemerintah untuk meningkatkan angka pemanfaatan produk layanan keuangan atau tingkat inklusi keuangan.

Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara mengatakan, sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 114 Tahun 2020 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusi, tingkat inklusi keuangan ditargetkan terus tumbuh secara bertahap setiap tahunnya, dan mencapai 90 persen pada 2024.

"Apakah target itu lebih cepat tercapai (dengan adanya digitalisasi)? Kalau saya optimis bisa lebih cepat tercapai," kata dia dalam diskusi virtual, Selasa (28/9/2021).

Namun demikian, Tirta menekankan, target inkusi keuangan tidak bisa tercapai tanpa adanya tingkat pemahaman produk keuangan atau literasi yang memadai. Pasalnya, guna meningkatkan angka inklusi nasional, seluruh lapisan masyarakat perlu difasilitasi.

Baca juga: Simak Strategi Cuan Investasi di Penghujung Tahun 2021

"Karena kalau tidak paham, banyak yang membeli produk keuangan tapi tidak tahu dengan risikonya," katanya.

Oleh karenanya, saat ini OJK masih terus fokus melakukan edukasi kepada masyarakat terkait produk-produk industri keuangan. OJK memanfaatkan momen pandemi untuk memperluas cakupan edukasi melalui platform digital.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dengan adanya percepatan digitalisasi di sektor keuangan, edukasi yang disampaikan oleh OJK tidak hanya berfokus pada produk keuangan saja, tetapi juga pada pemahaman teknologi industri keuangan.

"Begitu mereka paham, mereka bisa akses," ucapnya.

Sebagai informasi, pemerintah menargetkan tingkat inklusi dapat tumbuh secara bertahap setiap tahunnya, yakni sebesar 82 persen pada tahun 2021, 85 persen pada tahun 2022, 88 persen pada tahun 2023, dan 90 persen pada tahun 2024.

Baca juga: Utang Tembus Rp 6.625 Triliun, Pemerintah Diminta Hati-hati

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.