BRIN

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) adalah lembaga pemerintah yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. BRIN memiliki tugas menjalankan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, serta invensi dan inovasi yang terintegrasi.

Dua Sisi Cukai Tembakau

Kompas.com - 04/10/2021, 05:09 WIB
Ilustrasi tembakau kering. PIXABAY/HUMUSAKIlustrasi tembakau kering.

Korban kenaikan tarif adalah para petani sedangkan perusahaan nyaris tidak terpengaruh karena mereka memiliki modal tinggi dan bisa menentukan harga. Pengusaha rokok tetap saja kaya dengan keuntungan tinggi meskipun tariff dinaikkan.

Alih fungsi lahan tembakau ke jenis pertanian lain juga bukan solusi yang dinginkan petani saat ini. Jika keadaan ini terjadi, petani kembali menjadi korban karena tembakau akan dikuasai oleh perusahaan dari hilir hingga hulu. Petani kembali dikurbankan ditengah usaha menurunkan konsumsi tembakau yang tidak tepat.

Baca juga: Bank Dunia Sarankan Indonesia Naikkan Cukai Tembakau, Apa Alasannya?

Pendapatan dari cukai tembakau memang dapat dialokasikan untuk biaya kesehatan dan pembangunan di daerah penghasil tembakau. Akan tetapi para petani tentu lebih memilih tembakau mereka menguntungkan dan dapat membayar sendiri ke rumah sakit. Merekapun lebih memilih punya tabungan dari tembakau dan dapat membangun daerah sendiri meski tanpa cukai tembakau.

Secara singkat petani memilih tidak ada kenaikan cukai yang berdampak langsung terhadap penurunan pendapatan mereka.

Penutup

Dua sisi dari cukai tembakau memberi gambaran tingginya motif ekonomi kenaikan cukai tembakau. Di sisi lain, tujuan untuk menurunkan konsumsi tembakau di masyarakat tidak pernah terwujud. Terbukti meskipun cukai meningkat hingga 23 persen pada tahun 2020, persentase perokok di Indonesia tidak juga berkurang.

Kenaikan cukai tembakau mesti dipertimbangkan lagi karena hanya menambah beban para petani tembakau di Indonesia. Jika terus meningkat, petani akan terus menjadi korban bahkan suatu saat petani akan meninggalkan tembakau dalam kondisi terpaksa. Dalam kondisi demikian perusahaan besar dikhawatirkan akan memonopoli penguasaan tembakau dari hulu hingga hilir.

*Ngadi Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.