Rudiyanto
Direktur Panin Asset Management

Direktur Panin Asset Management salah satu perusahaan Manajer Investasi pengelola reksa dana terkemuka di Indonesia. Wakil Ketua I Perkumpulan Wakil Manajer Investasi Indonesia periode 2019 - 2022. Penulis buku best seller reksa dana yang diterbitkan Gramedia Elexmedia. Buku Terbaru berjudul "Reksa Dana, Pahami, Nikmati!"

Menakar Efek Tapering dan Debt Ceiling Terhadap Reksa Dana

Kompas.com - 04/10/2021, 14:35 WIB
Ilustrasi dollar AS Thinkstock.comIlustrasi dollar AS

Akhir-akhir ini istilah tapering dan debt ceiling di Amerika Serikat banyak menjadi pembahasan di media massa. Kedua kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak negatif terhadap pasar modal.

Bagaimana efeknya terhadap investasi reksa dana di Indonesia? Apa yang sebaiknya dilakukan investor?

Tapering

Saat ini, Bank Sentral Amerika Serikat melakukan program stimulus dengan membeli 120 miliar dollar AS per bulan dengan perincian 80 miliar dollar AS untuk obligasi pemerintah dan 40 miliar dollar AS untuk surat utang swasta berbasis KPR. Tindakan ini dikenal dengan istilah Quantitave Easing (QE)

QE bertujuan untuk memastikan sumber pendanaan program pemerintah dan mencegah agar bank tidak sampai mengalami kesulitan likuiditas.

Baca juga: Ada Isu Evergrande dan Tapering, Apa yang Harus Dilakukan Investor?

 

Pencegahan atas risiko likuiditas sangat penting, karena krisis keuangan yang besar biasanya dipicu ada bank yang kolaps karena kesulitan likuiditas

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dengan membaiknya perekonomian, maka stimulus dianggap sudah tidak relevan sehingga perlu dikurangi secara perlahan. Caranya pembelian obligasi berjumlah 120 miliar dollar AS per bulan tersebut akan diturunkan bertahap dan ditargetkan menjadi 0 pada pertengahan atau kuartal 3 tahun 2022. Tindakan ini disebut tapering.

Ada kekhawatiran bahwa stimulus yang berkurang dan hilang nanti ini akan membuat dana asing kembali ke negara asalnya sehingga menyebabkan gejolak pada harga saham dan obligasi.

Debt Ceiling

Istilah ini lebih mengacu pada batasan jumlah hutang yang boleh diterbitkan oleh pemerintah. Biasanya batasan ini ditetapkan dalam Undang-Undang, bisa berbentuk persentase dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) atau dalam nominal tertentu.

Amerika Serikat dalam Undang-Undang terakhirnya menetapkan batasan nominal yaitu 28,4 triliun dollar AS (setara Rp 404.700 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.250 per dollar AS). Saat ini batasan tersebut sudah hampir terlewati, sehingga jika UU tidak direvisi, maka pemerintah Amerika Serikat tidak dapat menerbitkan utang baru.

Konsekuensinya bisa cukup gawat. Ibarat perusahaan, tidak dapat dana lagi sehingga tidak bisa gaji karyawan dan melaksanakan kegiatan usahanya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.