Esther Sri Astuti S.A.
Direktur Program INDEF

Direktur Program INDEF

Memaknai Ekstensifikasi Cukai

Kompas.com - 12/10/2021, 06:09 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Adanya peta jalan akan memberikan arah bagi pemerintah dalam melihat industri rokok khususnya penerapan kenaikan tarif CHT tiap tahunnya dan mencegah industri HT digunakan sebagai komoditas politis. Idealnya, formulasi peningkatan tarif cukai perlu diatur menggunakan beberapa indikator seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan faktor kesehatan.

Dengan peliknya persoalan CHT, perlu ada arah untuk melakukan ekstensifikasi cukai. Di Indonesia, berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 39 tahun 2007 tentang Cukai, Barang Kena Cukai (BKC) terdiri dari 3 jenis etil alkohol (EA) atau etanol, minuman yang mengandung etil alkohol (MMEA), dan hasil tembakau. Jumlah ini relatif sedikit jika dibandingkan dengan negara tetangga. Malaysia, Singapura, dan Myanmar memiliki 5 hingga 7 objek cukai.

Sedangkan Laos dan Kamboja masing-masing memiliki 9 dan 11 objek cukai. Hal ini yang membuat rencana esktensifikasi cukai mencuat karena masih berpeluang untuk diperluas cangkupan objek di Indonesia.

Baca juga: Cukai Rokok Bakal Naik, Bagaimana Dampaknya ke Petani Tembakau?

Unik

Secara teoritis, cukai memiliki keunikan yaitu berperan ganda, tidak hanya menjadi sumber penerimaan negara tetapi juga mengontrol konsumsi masyarakat.

Pertama, cukai dapat menghasilkan pendapatan pemerintah yang signifikan. Apalagi di Indonesia, pungutan cukai memiliki biaya politik dan ekonomi yang lebih rendah dan menjadi alternatif selain pajak pendapatan. Selanjutnya, cukai dapat dibebankan sebagai pajak kepada masyarakat yang mendapat manfaat dari layanan pemerintah seperti DBH CHT yang digunakan untuk membantu keuangan BPJS.

Kedua, cukai berfungsi untuk membatasi konsumsi masyarakat secara berlebihan untuk barang yang berdampak negatif bagi kesehatan seperti alkohol dan tembakau.

Di beberapa negara, cukai juga diberikan untuk barang-barang yang berbahaya bagi lingkungan hidup. Dalam UU Nomor 39 tahun 2007 telah disebutkan bahwa tidak semua barang dapat dijadikan BKC, tetapi wajib memenuhi beberapa kriteria seperti konsumsi harus dikendalikan, peredarannya perlu diawasi, penggunaannya dapat menimbulkan efek negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup, dan pemakaiannya perlu pembebanan pungutan negara negara demi keadilan dan keseimbangan.

Baca juga: Bank Dunia Rekomendasikan Indonesia Naikkan Tarif Cukai Rokok Untuk Dongkrak Pendapatan Negara

Oleh sebab itu, semangat yang dibangun dari ekstensifikasi cukai bukan semata untuk memenuhi pundi-pundi kebutuhan untuk mengisi kantong APBN yang besar tetapi untuk mengendalikan konsumsi masyarakat yang memiliki pengaruh negatif terhadap kesehatan maupun lingkungan hidup. Beberapa barang yang berpotensi untuk bisa dikategorikan sebagai BKC baru seperti minuman berpemanis dan emisi karbon.

Selain itu, dalam kondisi penurunan ekonomi, pemerintah perlu cermat memperhatikan objek pengenaan cukai. Misalnya, dalam kondisi perekonomian yang belum stabil, seyogyanya insentif masih diberikan untuk sektor-sektor yang menyerap investasi dan penyerapan tenaga kerja yang besar. Pengenaan cukai yang diskriminatif juga dapat berpotensi memberi sinyal negatif pada investor.

Ke depannya, pendapatan yang berasal dari cukai juga sebaiknya difokuskan untuk alokasi belanja negara yang berkaitan dengan kesehatan dan pelestarian lingkungan hidup. Misalnya, memperbesar alokasi CHT dan minuman berpemanis untuk anggaran kesehatan khususnya pembangunan sarana dan pra sarana fasilitas kesehatan.

Cukai produk dan plastik bisa diprioritaskan untuk alokasi belanja pemerintah dengan fokus program pelestarian lingkungan hidup. Alhasil, rencana ekstensifikasi cukai nantinya menjadi lebih tepat sasaran.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cek Tabel Iuran BPJS Ketenagakerjaan BPU atau Perorangan 2022

Cek Tabel Iuran BPJS Ketenagakerjaan BPU atau Perorangan 2022

Whats New
Sri Mulyani: 523 Pemda Sudah Anggarkan Rp 3,4 Triliun buat Bansos

Sri Mulyani: 523 Pemda Sudah Anggarkan Rp 3,4 Triliun buat Bansos

Whats New
Sebut Ekonomi 2023 Akan Gelap, Jokowi: Saya Menyimpulkan Perang Rusia-Ukraina Akan Lama

Sebut Ekonomi 2023 Akan Gelap, Jokowi: Saya Menyimpulkan Perang Rusia-Ukraina Akan Lama

Whats New
Belanja Kompensasi dan Subsidi Capai Rp 244,6 Triliun, Mayoritas untuk Bayar BBM dan Energi

Belanja Kompensasi dan Subsidi Capai Rp 244,6 Triliun, Mayoritas untuk Bayar BBM dan Energi

Whats New
Tak Sengaja Beli Saham Perusahaannya, Direktur SLIS Jual Lebih Murah 1,5 Juta Sahamnya

Tak Sengaja Beli Saham Perusahaannya, Direktur SLIS Jual Lebih Murah 1,5 Juta Sahamnya

Whats New
Dukung Ekonomi Kreatif, ICCN Gelar Rakornas

Dukung Ekonomi Kreatif, ICCN Gelar Rakornas

Whats New
Tingkatkan Nilai Produk Kakao Ri, Kemendag Jajaki Kemitraan dengan Produk Indikasi Geografis Italia

Tingkatkan Nilai Produk Kakao Ri, Kemendag Jajaki Kemitraan dengan Produk Indikasi Geografis Italia

Rilis
Merosot 2 Persen, Harga Minyak Dunia di Bawah 85 Dollar AS

Merosot 2 Persen, Harga Minyak Dunia di Bawah 85 Dollar AS

Whats New
Dibayangi Pelemahan Rupiah, IHSG Hari Ini Masih Lesu?

Dibayangi Pelemahan Rupiah, IHSG Hari Ini Masih Lesu?

Whats New
Tanggapi Gaji Para Guru Bandar Lampung Tersendat, Komisi X DPR Minta Mendikbud Nadiem Gerak Cepat

Tanggapi Gaji Para Guru Bandar Lampung Tersendat, Komisi X DPR Minta Mendikbud Nadiem Gerak Cepat

Whats New
[POPULER MONEY] BSU 2022 Tahap 3 Mulai Cair | Jokowi Sebut Tahun 2023 Akan Lebih Gelap

[POPULER MONEY] BSU 2022 Tahap 3 Mulai Cair | Jokowi Sebut Tahun 2023 Akan Lebih Gelap

Whats New
Cara Buat Kartu ASN Virtual secara Online, Klik mysapk.bkn.go.id

Cara Buat Kartu ASN Virtual secara Online, Klik mysapk.bkn.go.id

Work Smart
Utang Turun, Garuda Indonesia Raup Laba Bersih Rp 57 Trilun pada Semester I 2022

Utang Turun, Garuda Indonesia Raup Laba Bersih Rp 57 Trilun pada Semester I 2022

Whats New
Cara Membuat CV Lamaran Kerja yang Baik dan Menarik agar Dipanggil HRD

Cara Membuat CV Lamaran Kerja yang Baik dan Menarik agar Dipanggil HRD

Work Smart
5 Cara Cek Tarif Tol di Indonesia dengan Mudah dan Praktis

5 Cara Cek Tarif Tol di Indonesia dengan Mudah dan Praktis

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.