Hampir 50 Persen Sampah di Jawa Barat dan Jawa Tengah Berasal dari Makanan

Kompas.com - 12/10/2021, 13:48 WIB
Ilustrasi sampah makanan, limbah makanan. Evan Lorne/ShutterstockIlustrasi sampah makanan, limbah makanan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Sampah makanan masih berkontribusi besar terhadap total sampah di Indonesia. Hal ini tecermin dari laporan bersama Kementerian PPN/Bappenas bertajuk Laporan Food Loss and Waste di Indonesia.

Team Leader Kajian Food Loss and Waste, Annisa Ratna Putri mengatakan, fenomena mubazir ini tak hanya terjadi di level nasional.

Berdasarkan temuan awal, buang-buang makanan juga terjadi di level provinsi terlihat dari dominasi sampah makanan di beberapa wilayah.

Baca juga: Indonesia Negara yang Suka Buang Makanan, Kerugian Ekonomi hingga Rp 551 Triliun

"Kami berencana untuk kajian di level regional atau provinsi bersama Bappenas, yang sudah berkomitmen dengan low carbon development, yaitu provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali. Saat ini kami sedang konfirmasi berapa banyak food loss and waste di 3 provinsi tersebut," kata Annisa dalam webinar di Jakarta, Selasa (12/10/2021).

Berdasarkan data awal yang diolah dari data sekunder tiap provinsi, sampah makanan di Jawa Barat dan Jawa Tengah cukup mendominasi total sampah di dua wilayah tersebut.

Dia menemukan, sekitar 49,74 persen atau hampir separuhnya sampah di Jawa Barat adalah sampah makanan. Sementara di Jawa Tengah, totalnya setara dengan 45,79 persen dari keseluruhan sampah. Adapun di Bali, persentasenya sekitar 27,71 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Saat ini tim dalam proses konfirmasi dan akan melakukan studi lapangan segera, apakah benar data sekunder sampah makanan memang seperti ini? Dan berapa banyak timbulan sampah makanan per orang," beber Annisa.

Annisa menuturkan, penyebab besarnya sampah makanan di level nasional hingga provinsi terjadi karena 5 hal. Pertama, kurangnya good handling practice dalam pengelolaan makanan (food processing) ketika didistribusikan.

Kedua, kurangnya pemahaman ibu rumah tangga tentang tata cara penyimpanan makanan yang baik. Sejatinya, tidak semua makanan bisa ditaruh di lemari pendingin alias kulkas. Ada pula makanan yang justru cepat berjamur bila diletakkan di sana.

Kemudian, buang-buang makanan juga dipengaruhi oleh preferensi konsumen saat membeli bahan pangan. Biasanya, orang cenderung memilih bentuk makanan yang lebih bagus. Padahal, nutrisi makanan tersebut sama saja.

"Kemudian ada perilaku konsumen. Kita sering berpikir lebih banyak lebih baik dibanding kurang. Pola pikir yang seperti ini harus mulai dievaluasi. Kalau tidak sanggup menghabiskan, sebaiknya tidak dipesan. Kalau memang bersisa, usahakan selalu dibawa pulang untuk dikonsumsi kembali," pungkas Annisa.

Baca juga: Suka Membuang-buang Makanan? Ini Dampaknya ke Perubahan Iklim dan Ekonomi


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.