Lagi, Gubernur BI Minta Perbankan Turunkan Suku Bunga Kredit

Kompas.com - 19/10/2021, 18:20 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo DOKUMENTASI BANK INDONESIAGubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) mencatat, suku bunga kredit perbankan terus mengalami penurunan seiring dengan rendahnya suku bunga bank sentral dan juga longgarnya likuiditas perbankan.

Meskipun demikian, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, penurunan suku bunga kredit perbankan masih relatif terbatas.

Oleh karenanya, Perry mendorong perbankan untuk melanjutkan penyesuaian suku bunga kredit, dalam rangka mendukung upaya pemulihan ekonomi nasional.

Baca juga: Inflasi Terjaga dan Dukung Pemulihan Ekonomi, BI Tahan Suku Bunga Acuan di Level 3,5 Persen

“Bank Indonesia tetap mengharapkan perbankan untuk terus melanjutkan penurunan suku bunga kredit sebagai bagian dari upaya bersama untuk mendorong kredit kepada dunia usaha,” ujar dia, dalam konferensi pers virtual, Selasa (19/10/2021).

Perry melaporkan, di pasar uang dan pasar dana, suku bunga PUAB overnight dan suku bunga deposito 1 bulan perbankan telah menurun, masing-masing sebesar 50 bps dan 171 bps sejak September 2020, menjadi 2,80 persen dan 3,28 persen pada September 2021.

Kemudian, di pasar kredit, penurunan suku bunga dasar kredit (SBDK) perbankan disebut terus berlanjut, diikuti penurunan suku bunga kredit baru.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat yang meningkat mendorong perbaikan persepsi risiko perbankan, sehingga berdampak posistif bagi penurunan suku bunga kredit baru,” tutur Perry.

Adapun bank sentral pada Oktober ini, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI days (reserve) repo rate (BI-7DRR) di level 3,50 persen.

Lalu, BI juga pertahankan suku bunga deposit facility sebesar 2,75 persen dan suku bunga lending facility sebesar 4,25 persen.

Baca juga: Perusahaan Multifinance Turunkan Suku Bunga untuk Genjot Pembiayaan

Sementara itu, kondisi kuiditas perbankan sangat longgar, didorong kebijakan moneter yang akomodatif dari bank sentral.

Bank Indonesia telah menambah likuiditas (quantitative easing) di perbankan sebesar Rp 129,92 triliun pada tahun 2021 hingga 15 Oktober 2021.

Secara lebih rinci, BI melanjutkan pembelian SBN di pasar perdana untuk pendanaan APBN 2021 sebesar Rp 142,54 triliun hingga 15 Oktober 2021 yang terdiri dari Rp 67,08 triliun melalui mekanisme lelang utama dan Rp 75,46 triliun melalui mekanisme Greenshoe Option (GSO).

“Dengan ekspansi moneter tersebut, kondisi likuiditas perbankan pada September 2021 sangat longgar, tercermin pada rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang tinggi, yakni 33,53 persen,” ucap Perry.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.