Naik Lagi, Subsidi Elpiji hingga BBM Tembus Rp 88,2 Triliun

Kompas.com - 26/10/2021, 10:30 WIB
Tabung gas LPG berukuran 3 kg ditata di agen gas Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat, Kamis (23/1/2020). Pemerintah mengeluarkan harga patokan elpiji 3 kg. KOMPAS.com/M ZAENUDDINTabung gas LPG berukuran 3 kg ditata di agen gas Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat, Kamis (23/1/2020). Pemerintah mengeluarkan harga patokan elpiji 3 kg.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Subsidi energi yang terdiri dari elpiji, listrik, dan Bahan Bakar Minyak (BBM), kembali menanjak di bulan September 2021. Kementerian Keuangan mencatat, subsidi energi tembus Rp 88,2 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, subsidi tersebut setara dengan 79,8 persen dari pagu anggaran atau naik 18,3 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibanding tahun lalu yang sebesar Rp 74,6 persen.

"Selain bansos, masyarakat juga menikmati subsidi. Dan belanja subsidi kita tahun ini mengalami kenaikan dibanding tahun lalu. subsidi energi naik lumayan besar, yaitu 18,3 persen yaitu Rp 88,2 triliun," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, Senin (25/10/2021).

Baca juga: Dana Pemda Masih Menumpuk di Bank, Totalnya Capai Rp 194,2 Triliun

Jika dilihat realisasi sampai Agustus 2021, volume tiap subsidi mengalami kenaikan. Subsidi BBM termasuk solar dan minyak tanah naik dari 9,3 juta kilo liter menjadi 10,2 juta kilo liter.

Kemudian subsidi elpiji naik dari 4,7 juta kilogram menjadi 4,9 juta kilogram. Begitu pula dengan subsidi listrik yang mengalami kenaikan dari 40,2 Twh menjadi 41,74 Twh.

"Subsidi listrik naik dari 36,65 juta pelanggan, tahun ini menjadi 37,84 juta pelanggan. Ini menggambarkan bahwa subsidi meningkat seiring dengan aktivitas masyarakat yang meningkat," tutur Sri Mulyani.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain subsidi energi, pemerintah juga mencatat kenaikan dalam subsidi non energi. Hingga September ini, subsidi non energi yang sudah tersalur mencapai Rp 43,8 triliun atau 67,5 persen dari pagu.

Realisasi tersebut naik 10,1 persen dari realisasi periode yang sama tahun lalu yakni Rp 39,7 triliun. Realisasi yang lebih tinggi ini didukung oleh percepatan pelaksanaan terutama program PEN, subsidi bunga KUR, dan subsidi IJP.

"Debitur subsidi bunga KUR mengalami lonjakan dari 3,9 juta menjadi 5,6 juta debitur. Dan jumlah saluran KUR tahun lalu Rp 130 triliun naik ke Rp 209,2 triliun. APBN hadir untuk membantu masyarakat dalam bentuk subsidi di atas bansos," pungkas Sri Mulyani.

Baca juga: Belum Ada Penerbangan Internasional ke Bali, Begini Kata Sandiaga Uno

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.