Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gerbong Kereta Cepat Berdesain Komodo dan Batik, KCIC: Minim Getaran dan Kebisingan

Kompas.com - 02/11/2021, 05:03 WIB
Erlangga Djumena

Editor

Sumber Antara

JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah segala polemik mengenai membengkaknya biaya dan molornya target operasional Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) memberikan bocoran mengenai desain rangkaian gerbong atau Electric Multiple Unit (EMU) kereta cepat.

Menurut dia, desain EMU kereta cepat Jakarta-Bandung ini akan menggunakan desain Komodo dan Batik.

"Desain EMU yang digunakan pada kereta cepat Jakarta-Bandung memiliki muatan lokal," kata Direktur Utama PT KCIC, Dwiyana Slamet Riyadi dalam pernyataan di Jakarta, Senin (1/11/2021).

Dwiyana menyebutkan, desain eksterior EMU untuk transportasi massal modern ini akan memiliki warna merah dan silver dengan bentuk luar yang menggunakan motif corak segitiga serta merepresentasikan sisik Komodo.

Baca juga: Kenapa APBN Perlu Nombok Proyek Kereta Cepat? Ini Alasan Pemerintah

Kemudian, warna merah yang juga mengambil inspirasi dari Merah Putih, bendera kebangsaan Indonesia, pada dinding samping dan bagian depan yang bergerak saat kereta melaju, akan mengingatkan pada bendera yang berkibar serta memupuk rasa bangga.

Muatan lokal lain yang diangkat adalah Batik Mega Mendung yang dapat dilihat pada panel di kursi penumpang yang ada di setiap kelasnya. Batik ini merupakan motif khas area Jawa Barat yang menjadi rute utama kereta cepat Jakarta-Bandung.

Menurut rencana, kereta cepat akan menggunakan EMU yang telah diproduksi sejak akhir Mei 2021 dan memiliki teknologi canggih dan modern. EMU dengan tipe CR400AF didesain dengan penggunaan energi yang rendah sehingga sangat ramah lingkungan dan mempunyai fitur keselamatan terbaru.

Dengan bantuan dari Operation Command Center (OCC), EMU ini juga dihubungkan dengan peralatan pemantau bahaya akibat gejala alam, diantaranya curah hujan tinggi, angin kencang, gempa bumi, serta obyek asing dan tahan api.

"Kereta yang digunakan lebih cepat dari kereta konvensional yang sudah ada, lebih modern. Termasuk dilengkapi dengan monitoring system di dalam kabinnya, seperti monitoring pantograf, suhu ruangan, tegangan dan arus listrik, status pintu di tiap kereta dan lain sebagainya. Selain itu Material EMU dibuat fire resistance atau tahan api menyesuaikan standar yang ada," sebut dia.

Baca juga: Ini 3 Alasan China Dipilih Jokowi Garap Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Minimal getaran dan kebisingan

Menurut Dwiyana, EMU untuk kereta cepat dirancang mampu meminimalkan getaran dan kebisingan sehingga penumpang dapat merasakan pengalaman menaiki kereta yang dapat melaju hingga kecepatan operasi 350 kilometer per jam dengan nyaman (kecepatan desain 400 kilometer per jam).

"Kebisingan dan getaran EMU yang digunakan untuk rangkaian kereta cepat berada di level yang paling rendah atau minimum," ujarnya.

Salah satu alasan kenyamanan adalah adanya adopsi dari teknologi canggih Bogie yang menggunakan sistem suspensi primer dengan cylindrical helical spring dan suspensi sekunder yang menggunakan air spring serta dilengkapi dengan peredam.  Comfort index beserta Stability index juga dipantau dengan sangat ketat.

Kecanggihan EMU ini juga dapat ditemukan pada sistem pengoperasian unit serupa yang sudah menggunakan teknologi ATP (Automatic Train Protection) sesuai dengan standar yang disyaratkan. Sistem ini sudah terbukti mampu menunjang keselamatan dan diakui oleh industri kereta cepat dunia.

Dwiyana menambahkan rangkaian kereta cepat ini akan dibagi menjadi beberapa kelas, mulai dari VIP Class, First Class, hingga Second Class dengan jarak tempat duduk yang nyaman.

Halaman:
Baca tentang
Sumber Antara
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com