BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan UOB

Membangun Masa Depan dengan Memanfaatkan Listrik dari Energi Surya

Kompas.com - 03/11/2021, 09:05 WIB
Ilustrasi panel surya Shutterstock/Thinnapob ProongsakIlustrasi panel surya

KOMPAS.com – Pemanfaatan energi terbarukan dan bersih merupakan hal penting dalam membangun kota berkelanjutan. Penggunaan energi ini dapat mengurangi emisi karbon hingga nol atau zero carbon. Ini berarti, kualitas udara kota bisa semakin membaik.

Kemudian, lingkungan juga dapat ikut membaik karena aktivitas penambangan untuk pemenuhan energi fosil semakin berkurang.

Dari sekian pilihan, surya atau matahari dinilai sebagai sumber energi terbarukan paling berkelanjutan. Paparan sinar matahari takkan habis untuk waktu sekian abad.

Adapun untuk dapat “memanen” energi dari sinar matahari, dibutuhkan panel surya. Panel ini menjadi pembangkit listrik yang akan menghidupkan kota.

Cara panel tersebut bekerja cukup sederhana. Panel akan menyerap cahaya matahari menggunakan sel fotovoltaik (PV) untuk kemudian diubah menjadi listrik.

Dilansir dari Forbes.com, Selasa (26/1/2021), sel surya PV terletak di antara lapisan bahan semikonduktor yang umumnya berbahan silikon. Ketika cahaya menyinari panel tersebut, elektron akan terlepas dan menciptakan aliran listrik.

Sebagai salah satu negara tropis dengan paparan sinar matahari yang melimpah ruah sepanjang tahun, Indonesia memiliki potensi untuk memanfaatkannya sebagai sumber listrik.

Hal tersebut diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh sejumlah ilmuwan 100% Renewable Energy Australian National University College of Engineering and Computer Science pada 2020.

Salah satu anggota tim peneliti, David Firnando Silalahi, mengungkapkan bahwa Indonesia sebenarnya mampu menghasilkan 100 persen listrik yang berasal dari energi terbarukan seperti sinar matahari.

Dalam kalkulasi penelitian tersebut, setidaknya Indonesia dapat menghasilkan 640.000 terrawatt per jam (TWh) hanya dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Produksi listrik ini setara dengan 2.300 kali produksi listrik pada 2019.

Meski memiliki potensi besar, David mengungkapkan bahwa investasi pada sektor energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia masih tergolong rendah.

Berdasarkan laporan BloombergNEF, Bloomberg Philantropies, dan Institute for Essential Service Reform berjudul “Scaling up Solar in Indonesia: Reform and Opportunity 2021”, Indonesia baru memanfaatkan 1 persen dari potensi energi surya.

Padahal, potensi energi surya Indonesia dapat menarik dana investasi hingga 14.4 miliar dollar Amerika Serikat (AS). Dengan investasi ini, target total bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen pada 2025 bisa dipenuhi.

“(Karena investasi kecil), kontribusi energi surya pada 2019 hanya mencapai 1,7 persen dari total produksi listrik Indonesia,” terang David seperti dikutip dari The Conversation, Rabu (28/9/2020).

David juga menjelaskan, untuk menghasilkan 100 persen listrik yang berasal dari energi terbarukan, terdapat empat hal yang perlu dilakukan pemerintah Indonesia.

Pertama, pemerintah menyiapkan PLTS dengan total kapasitas 1.500 gigawatt (GW) agar konsumsi per kapita mampu mencapai 7,7 megawatt per jam (MWh) atau setara 2.600 TWh.

Kedua, pembangunan PLTS berkapasitas 1.500 GW membutuhkan lahan sekitar 8.000 kilometer persegi atau setara 0,4 persen dari total lahan di Indonesia.

Selain di lahan terbuka, luasan area PLTS tersebut bisa disiasati dengan memanfaatkan permukaan air. Jadi, PLTS dibuat mengapung di atas permukaan air. Dengan strategi ini, kebutuhan lahan PLTS hanya membutuhkan sekitar 0,1 persen dari total lahan di Indonesia.

Ketiga, percepatan pembangunan PLTS harus dimulai pada 2021. Selain itu, pemerintah harus menjamin pembangunan PLTS sebesar 50 GW per tahun dan terkoneksi ke jaringan Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Keempat, pemerintah perlu menerapkan kebijakan harga bersahabat bagi pelanggan dan penyedia listrik. Hal ini bertujuan untuk mendorong pengembangan energi terbarukan di Indonesia.

Petugas membersihkan panel surya pada instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (PLTH) di Dusun Bondan, Desa Ujungalang, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.KOMPAS.COM/FADLAN MUKHTAR ZAIN Petugas membersihkan panel surya pada instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (PLTH) di Dusun Bondan, Desa Ujungalang, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Segera tingkatkan penggunaan PLTS

Pemerintah sendiri menyadari bahwa bauran EBT masih kecil. Khusus listrik dari PLTS Atap, menurut catatan Kementerian ESDM per Juli 2021, jumlah penggunanya baru 4.028 pelanggan dengan kapasitas total 35,56 megawatt peak (MWp).

Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen untuk mendorong peningkatan industri serta pembangunan infrastruktur PLTS dengan menyiapkan road map.

Road map tersebut tertuang dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030 yang disusun oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PLN.

Dalam RUPTL tersebut dijelaskan bahwa pembangkit listrik berbasis EBT diproyeksikan mencapai sekitar 51,6 persen atau lebih banyak dari energi fosil.

Diberitakan Kompas.com, Minggu (12/9/2021), keberadaan program tersebut bertujuan membantu Indonesia mencapai target pengembangan PLTS Atap sebesar 3,6 GW pada 2025.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan, pihaknya telah berkomunikasi dengan Kementerian Perindustrian terkait kesiapan industri penunjang PLTS saat ini.

"Dengan angka sekarang, kami punya 22 atau 26 pabrikan yang siap dengan kapasitas total (produksi listrik) 500 MW. Tujuan pengembangan PLTS Atap hingga 2025 adalah untuk membuka pasar dalam negeri. Kalau pasar dalam negeri makin besar, investasi akan bertambah baik, mulai dari industri laminating solar panel atau juga ke sisi hulu yang pembuatan cell-nya sekarang masih impor," ujar Dadan seperti diberitakan Kontan.co.id, Selasa (31/8/2021).

Dadan pun optimistis bahwa penambahan PLTS atap juga dapat menekan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) hingga 3,2 juta ton CO2e pada 2030.

Demi mewujudkan upaya tersebut, pemerintah akan melakukan penambahan kapasitas PLTS secara bertahap hingga 2,14 GW.

Adapun pembangunan PLTS tersebut menyasar ke berbagai sektor, seperti Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar 742 MW, industri dan bisnis 624,2 MW, rumah tangga 648,7 MW, pelanggan PLN dan kelompok sosial 68,8 MW, serta gedung pemerintah 42,9 MW.

Maka dari itu, saat ini pemerintah tengah menyelaraskan regulasi melalui Peraturan Presiden tentang Tarif Listrik EBT dan revisi Peraturan Menteri ESDM untuk menarik lebih banyak pihak menggunakan energi terbarukan.

Ilustrasi PLTS KOMPAS.com/ Bambang P. Jatmiko Ilustrasi PLTS

Pengaruhi ekonomi

Penggunaan panel surya dapat berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.

Menurut Dadan, dampak tersebut muncul dari pengembangan PLTS secara bertahap yang ditargetkan oleh pemerintah.

Seperti diberitakan Kontan.co.id, Sabtu (28/8/2021), penggunaan energi surya dapat menghemat konsumsi batu bara sekitar 3 juta ton, menyerap tenaga kerja hingga 121.500 orang, serta meningkatkan investasi meliputi pembangunan fisik PLTS sebesar Rp 45 triliun hingga Rp 63,7 triliun dan untuk pengadaan kWh ekspor-impor sebesar Rp 2,04 triliun hingga Rp 4,08 triliun.
Tak hanya itu, melansir laman esdm.go.id, Jumat (27/8/2021), Kementerian ESDM juga memproyeksikan bahwa pemanfaatan PLTS ikut menurunkan subsidi dan kompensasi listrik.

Keberadaan PLTS sebesar 3,6 GW dapat menurunkan biaya pokok penyediaan (BPP) listrik hingga Rp 12,61 per kWh.

Besaran tersebut berasal dari penurunan subsidi sebesar Rp 900 miliar dan kompensasi sebesar Rp 2,7 triliun. Pengembangan PLTS Atap dinilai juga bakal mendorong kebutuhan industri akan green product.

"Green product dapat mendukung terciptanya industri yang lebih hijau sebagaimana disampaikan oleh Presiden Joko Widodo. Salah satu stream utama dari pemulihan ekonomi adalah pengembangan ekonomi hijau," ujar Dadan.

Butuh dukungan

Untuk mewujudkan RUPTL, pemerintah membutuhkan kerja sama dari berbagai sektor, salah satunya sektor pembiayaan dan perbankan.

Sebagai salah satu bank terbesar Asia, UOB Indonesia siap membantu pemerintah Indonesia dalam membangun infrastruktur PLTS melalui program U-solar.

Sebagai informasi, U-Solar merupakan program yang dirancang untuk kebutuhan individu dan pelaku industri.

U-Solar bertujuan untuk meningkatkan potensi penghematan biaya listrik sekaligus berperan menjaga keseimbangan lingkungan.

Sejauh ini, UOB Indonesia telah memfasilitasi pemasangan pembangkit listrik tenaga surya dengan total kapasitas 163,9 GW di empat negara.

Jumlah tersebut sebanding dengan pengurangan emisi GRK lebih dari 81.500 ton, penanaman 1,35 juta bibit pohon baru selama 10 tahun, dan pengurangan terhadap 17.737 mobil.

Adapun program U-Solar mencakup semua hal terkait pemasangan panel surya, mulai dari pembiayaan hijau untuk rekayasa surya, pengadaan, konstruksi dan contractor commissioning, tarif preferensial untuk paket pemasangan, serta pemeliharaan panel surya untuk pengguna baru.

UOB Indonesia meyakini, U-Solar merupakan cara berkelanjutan untuk menghasilkan lebih banyak listrik tanpa menciptakan limbah atau emisi berbahaya.

UOB Indonesia juga percaya bahwa tenaga surya merupakan sumber energi yang ideal untuk memenuhi kesenjangan permintaan listrik. Khususnya, untuk negara seperti Indonesia yang beriklim tropis dan terus disinari oleh cahaya matahari sepanjang waktu.

Artikel ini merupakan bagian ketiga dari seri Membangun Kota Berkelanjutan hasil kerja sama KG Media dan UOB Indonesia.

UOB IndonesiaDok. UOB Indonesia UOB Indonesia


Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cara Bayar Pajak Motor Online Melalui Tokopedia

Cara Bayar Pajak Motor Online Melalui Tokopedia

Whats New
Menengok Penyebab Mengapa Minyak Goreng Murah Masih Susah Didapatkan di Ritel Modern

Menengok Penyebab Mengapa Minyak Goreng Murah Masih Susah Didapatkan di Ritel Modern

Whats New
[POPULER MONEY] Harga Emas Antam Anjlok | Mengenal Skema Ponzi | Harga Minyak Goreng Turun Jadi Rp 11.500

[POPULER MONEY] Harga Emas Antam Anjlok | Mengenal Skema Ponzi | Harga Minyak Goreng Turun Jadi Rp 11.500

Whats New
BCA Siapkan Rp 400 Miliar untuk Suntik Modal ke Startup

BCA Siapkan Rp 400 Miliar untuk Suntik Modal ke Startup

Whats New
Cara Bayar Pajak Kendaraan Bermotor di Alfamart

Cara Bayar Pajak Kendaraan Bermotor di Alfamart

Whats New
Kejar Target Investasi Rp 1.200 Triliun, Bahlil: Memang Tidak Mudah...

Kejar Target Investasi Rp 1.200 Triliun, Bahlil: Memang Tidak Mudah...

Whats New
Bank Indonesia dan The People’s Bank Of China Sepakat Perbarui Perjanjian Swap Bilateral

Bank Indonesia dan The People’s Bank Of China Sepakat Perbarui Perjanjian Swap Bilateral

Whats New
Pembangunan Ibu Kota Nusantara Terbagi atas 3 Wilayah

Pembangunan Ibu Kota Nusantara Terbagi atas 3 Wilayah

Whats New
Penjelasan Bos Grup Lippo Seputar Aksi XL Axiata Akuisisi Link Net

Penjelasan Bos Grup Lippo Seputar Aksi XL Axiata Akuisisi Link Net

Rilis
Di Hadapan Tony Blair, Jokowi Tegaskan Tak Mau Ekspor Bahan Mentah

Di Hadapan Tony Blair, Jokowi Tegaskan Tak Mau Ekspor Bahan Mentah

Whats New
Bangun Sistem Transportasi IKN Butuh Rp 582,6 Miliar di 2022, Menhub Undang Swasta Berpartisipasi

Bangun Sistem Transportasi IKN Butuh Rp 582,6 Miliar di 2022, Menhub Undang Swasta Berpartisipasi

Whats New
Tumbuh 66,8 Persen, Laba Bersih Bank Mandiri Capai Rp 28 Triliun pada 2021

Tumbuh 66,8 Persen, Laba Bersih Bank Mandiri Capai Rp 28 Triliun pada 2021

Whats New
Pengembangan Kawasan Industri Terus Digenjot

Pengembangan Kawasan Industri Terus Digenjot

Whats New
Mentan RI dan Mentan Australia Bahas 3 Hal Penting, dari Ekspor Beras hingga Impor Daging

Mentan RI dan Mentan Australia Bahas 3 Hal Penting, dari Ekspor Beras hingga Impor Daging

Whats New
Laba BCA Melampaui Perkiraan, Tumbuh 15,8 Persen di 2021

Laba BCA Melampaui Perkiraan, Tumbuh 15,8 Persen di 2021

Whats New
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.