KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant
Eileen Rachman dan Emilia Jakob
HR Consultant/Konsultan SDM EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia. EXPERD diperkuat oleh para konsultan dan staf yang sangat berpengalaman dan memiliki komitmen penuh untuk berkontribusi pada perkembangan bisnis melalui layanan sumber daya manusia.

Menemukan Diri Sendiri

Kompas.com - 13/11/2021, 07:57 WIB
Ilustrasi kekuatan dalam diri Dok. ShutterstockIlustrasi kekuatan dalam diri

BANYAK orang merasa bahwa kemajuan karier dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, mulai dari pendidikan yang memadai, perusahaan yang baik, sampai atasan yang mendukung.

Namun, bagaimana pengaruh faktor tersebut dalam kondisi sekarang ketika disrupsi membuat dunia bisnis gonjang-ganjing? Tak jarang, perusahaan yang tadinya terlihat kokoh dan berada di urutan teratas dalam bidangnya, tiba-tiba merosot dan sulit untuk bangkit kembali.

Apa yang perlu kita lakukan untuk menghadapi situasi seperti itu? Menyerah pada keadaan? Apakah kita masih bisa mengandalkan pertolongan?

Sebenarnya, ada satu sumber yang sering tidak terlihat oleh kita, bahkan tidak banyak kita sapa, perhitungkan, kembangkan, dan manfaatkan, yaitu diri kita sendiri.

Sejarah membuktikan bahwa pemimpin-pemimpin besar harus mengalahkan kompleksitas dirinya untuk dapat menjadi pemimpin yang hebat.

Napoleon bisa menjadi contoh dalam hal tersebut. Ia memiliki ukuran badan yang tidak seperti orang Eropa lainnya. Pada zamannya, pemimpin seperti Napoleon adalah kasus langka.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sekarang, dengan populasi dunia yang semakin banyak dan pesaing di depan mata, kita perlu mempertanyakan kembali bagaimana cara untuk bisa bergerak maju. Kita akan terkejut dengan apa yang kita lakukan ketika berhasil “menguasai dan mengendalikan” diri sendiri.

Kita baru menyadari, ternyata kita sering kalah sebelum bertanding dan tidak termotivasi dalam memasuki tantangan yang rasanya bukan kekuatan kita.

Apakah perasaan ini obyektif? Apakah kita sudah benar-benar mengenal diri kita?

Kenali siapa kita: feedback analysis

Banyak orang merasa bahwa mereka sangat kenal dengan diri mereka sehingga tidak pernah lagi duduk mengevaluasi diri sendiri. Padahal, sering kali perkiraan kita itu salah.

Orang memang harus tahu kekuatannya sehingga dapat memberdayakan dan memahami kelemahan diri. Dengan begitu, kelemahan yang dimiliki dapat segera diperbaiki.

Kita tidak lagi hidup pada zaman ketika keterampilan atau keahlian diturunkan. Misalnya, seperti zaman dahulu ketika tukang sepatu mewariskan keahliannya pada anaknya.

Saat ini, kita sudah mengandalkan kompetensi yang lebih kompleks. Untuk itulah, kita perlu melakukan feedback analysis bagi diri sendiri. Caranya, dengan mengamati apa saja keputusan yang sudah kita ambil untuk diri sendiri. Tuliskan dalam sebuah catatan dan lakukan evaluasi 6–12 bulan kemudian.

Hasilnya sering kali membuat kita terkejut. Sebab, metode tersebut akan membuka sisi lain dari diri kita yang mungkin selama ini luput dari perhatian.

Temukan faktor yang menentukan keberhasilan kita dalam beberapa bulan ini. Hal ini merupakan sumber informasi yang berharga akan kekuatan kita. Kemudian, pikirkan cara kita memperkuat kelebihan ini.

Setelah itu, temukan titik intellectual arrogance kita. Pasalnya, kesombongan sering kali membuat kita terbutakan. Apalagi, jika menyangkut bidang yang kita kuasai.

Eileen RachmanDok. EXPERD Eileen Rachman

Seorang insinyur, misalnya, merasa sudah ahli di bidang permesinan sehingga pengetahuan mengenai manusia tidak dianggap penting. Lalu, profesional di bidang sumber daya manusia (SDM) yang merasa bahwa pengetahuan mengenai bisnis dan keterampilan teknis lainnya tidak sepenting pengetahuannya.

Arogansi tersebut dapat membuat kita menjadi orang yang close minded dan biased. Sikap arogan ini harus kita hentikan dengan perlahan-lahan menguatkan sikap belajar akan hal-hal di luar keahlian.

Arogansi juga dapat membuat kita melupakan tata krama. Padahal, ini penting untuk mendapatkan dukungan sosial yang dapat menentukan kesuksesan kita. Kata-kata, seperti "terima kasih", "maaf", dan "tolong" memang perlu melekat di dalam perbendaharaan kata kita.

Kita juga perlu menelaah kebiasaan-kebiasaan buruk yang ternyata membuat diri sendiri kurang efektif dalam mencapai hasil. Dalam feedback yang diterima, biasanya terlihat beberapa kebiasaan buruk yang menghambat kinerja kita.

Banyak orang memiliki perencanaan yang indah, tetapi kemudian tidak berhasil mencapai sasarannya. Penyebabnya bisa dari kebiasaan menunda ataupun terlalu cepat menyerah. Hal-hal inilah yang perlu kita identifikasi dan atasi segera.

Dari hal-hal yang ditemukan melalui feedback analysis ini, kita dapat memfokuskan energi pada hal-hal yang memang menunjang kinerja kita.

Cara kerja kita

Banyak orang yang selama bekerja tidak sempat menelaah cara kerjanya. Padahal, bisa saja cara kerja seseorang berpengaruh besar pada kinerjanya. Bisa menahan, tetapi bisa juga mendorong.

Ada orang yang lebih reader daripada listener ataupun sebaliknya. Seorang reader harus membaca teks agar dapat memahami suatu pesan. Namun, ada orang yang lebih mudah belajar atau memahami secara auditif.

Cara belajar orang pun berbeda-beda. Mantan Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill, merasa bahwa kegiatan belajar di kelas adalah siksaan besar. Sebab, ia belajar dengan menulis. Ia harus menyalin baru bisa memasukkan materi pelajaran ke dalam pemikirannya.

Sementara itu, Beethoven membuat banyak catatan walaupun tidak pernah terlihat dalam komposisi lagunya. Ia mengatakan bahwa dengan mencatat, ia dapat mengingat semuanya dalam pikiran. Some people learn by doing. Others learn by hearing themselves talk.

Ada orang yang ketika menjadi bawahan memiliki kinerja yang sangat baik, tetapi kinerjanya mengempis ketika menjadi orang nomor satu. Ada juga orang yang lebih bagus bila bekerja sendiri ketimbang di dalam tim.

Terlepas dari semua perbedaan itu, mengubah diri sendiri tentunya lebih berat daripada sekadar mengenali kekuatan-kekuatan kita. Kita memang perlu bekerja keras untuk menguatkan kinerja, tetapi berfokus pada kekuatan akan membawa kemajuan yang nyata.

Kita juga perlu mengenal apa sebenarnya yang kita anggap paling penting dalam hidup. Apakah ini sejalan dengan pekerjaan kita? Bagaimana menyeimbangkan misi pekerjaan dengan nilai-nilai yang kita junjung tinggi sehingga kita dapat berkontribusi dengan optimal?

“Hak istimewa seumur hidup adalah menjadi diri Anda yang sebenarnya.” Carl Jung


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.