Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Presiden Jokowi: Nanti Akan Banyak Investasi Masuk ke Energi Terbarukan...

Kompas.com - 20/11/2021, 15:11 WIB
Fika Nurul Ulya,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden RI Joko Widodo menyatakan akan ada investasi besar-besaran untuk mendorong transisi energi fosil menjadi energi terbarukan dari negara maju.

Investasi ini menyasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Pembicaraan mengenai investasi ini sempat dilakukan oleh Jokowi bersama Presiden AS Joe Biden dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson di beberapa pertemuan tahunan.

Untuk itu Jokowi meminta dua perusahaan BUMN yang masih banyak mengandalkan energi fosil, PLN dan Pertamina, segera menggambar peta jalan (roadmap) transisi energi setiap tahun.

Baca juga: Pakai Energi Fosil, Jokowi: Sampai Kapanpun Neraca Pembayaran RI Nggak Akan Beres...

"Memang harus sudah ada tahapan seperti itu. Di sini ada gap, murah dan mahal, nah gap ini bagaimana caranya menyelesaikan karena nanti akan banyak investasi karena kita bicara dengan Boris Johnson, dengan Joe Biden mengenai ini," kata Jokowi saat memberi arahan kepada komisaris dan direksi PLN dan Pertamina, Sabtu (20/11/2021).

Jokowi menjelaskan, transisi energi terbarukan memang membutuhkan biaya yang sangat besar. Komitmen negara berkembang untuk mengurangi emisi perlu didukung oleh bantuan pendanaan oleh negara-negara maju.

Berdasarkan pembicaraan tingkat dunia, negara-negara maju sudah berkomitmen untuk menggelontorkan dana hingga 100 miliar dollar AS setiap tahun mendukung transisi energi.

Namun di pertemuan yang sama, Jokowi menekankan janji pendanaan tidak bisa hanya menjadi bualan semata.

"Negara gede ini jangan hanya bicara saja. Tapi ini ada problem, gap (pembiayaan) ini siapa yang nanggung, siapa yang harus selesaikan. Kalau negara berkembang, enggak mungkin. Saya sampaikan kepadanya. Mereka kelihatannya sudah mau," ucap Jokowi.

Lebih lanjut Jokowi meminta PLN dan Pertamina mencari teknologi yang murah untuk transisi energi hijau. Semakin cepat negara beralih, semakin banyak keuntungan yang didapat.

Baca juga: Energi Terbarukan dan Target Indonesia

Khusus Indonesia, keuntungan bisa diperoleh dari realisasi neraca pembayaran yang positif. Kata Jokowi, neraca pembayaran Indonesia selalu melempem selama bertahun-tahun karena selalu mengandalkan impor minyak berskala besar.

Keuntungan lainnya adalah mampu menggaet investasi besar yang ramah lingkungan lebih cepat. Sebab dunia akan mendukung industri untuk berinvestasi di bidang energi terbarukan di negara yang sudah berhasil menurunkan tingkat emisi.

"Ini yang harus mulai disiapkan, mana yang bisa digeser ke hydro, mana geothermal, ke surya, ke bayu, semua mulai diidentifikasi. Karena akan ditekan kita, jangan berinvestasi di Indonesia krn masih gunakan fosil. Nekennya pasti kayak gitu. Ini yang harus kita antisipasi," tandas Jokowi.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com