Buyung Wijaya Kusuma
Komisaris di sebuah BUMN

Komisaris BUMN yang bergerak di bidang energi, PT Brantas Energi. Memiliki pengalaman puluhan tahun di harian KOMPAS dan mendalami bidang energi dan sumber daya mineral. Ketika berkarir di KOMPAS, memiliki hubungan yang erat dengan berbagai narasumber, baik dari pemerintah, pengamat, DPR hingga kalangan industri. Berkat hubungan baik tersebut, selalu mendapatkan berita ekslusif dan tak jarang menjadi trend setter bagi media-media nasional lainnya.

Hingga kini, di tengah kesibukan, penulis terus mengikuti perkembangan energi dan sumber daya mineral di Tanah Air dan mancanegara yang dituangkan dalam sejumlah tulisan.

Menyongsong Sandyakala Batu Bara

Kompas.com - 25/11/2021, 16:34 WIB
Kapal Tagboat sedang menarik tongkang berisi batu bara di perairan Sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur belum lama ini. Dok. Biro Humas Pemprov Kaltim Kapal Tagboat sedang menarik tongkang berisi batu bara di perairan Sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur belum lama ini.

BATU BARA, menjadi trending topic dalam pertemuan KTT Iklim (COP26) di Glasgow, Skotlandia, pada awal bulan ini. Hampir perwakilan dari 200 negara sepakat untuk mengurangi penggunaan batu bara sebagai bagian dalam mengatasi laju pemanasan global.

Komoditas itu dikenal sebagai kontributor terbesar pada pencemaran karbon dunia yang berakibat pada polusi udara dan juga meningkatkan suhu Bumi.

Bahkan India, yang merupakan salah satu negara eksportir batu bara terbesar di dunia, memutuskan untuk menutup aktivitas sekolah, menghentikan kegiatan konstruksi dan menyetop operasi PLTU batu bara di New Delhi dalam waktu yang tidak ditentukan.

Hal itu dilakukan sebagai upaya pemerintah setempat untuk memperbaiki kualitas udara yang sangat buruk. Ibu Kota India tersebut hampir sebulan terakhir diselimuti oleh kabut asap.

Baca juga: COP26 Rampung, Diwarnai Drama Batu Bara di Menit-menit Terakhir

Kesepakatan negara-negara maju dan bahkan langkah ekstrem India tersebut adalah bukti nyata bahwa batu bara berpotensi menjadi sumber energi “masa lalu.”

Kiamat kecil sepertinya akan menghampiri komoditas tersebut. Bahkan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menyebutnya sebagai “lonceng kematian bagi tenaga batu bara.”

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Negara kita adalah salah satu importir batu bara terbesar di dunia, selain Rusia dan Australia.

Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia memiliki 38,38 juta ton cadangan batu bara.  

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Ridwan Djamaludiinpada satu kesempatan bahkan mengatakan, dengan asumsi rata-rata produksi nasional mencapai 600 juta ton per tahun, maka negara kita tercinta ini akan dapat terus memproduksi emas hitam itu hingga 65 tahun ke depan atau hingga 2086.

Baca juga: Gas Pol Pensiunkan Batu Bara

Itu pun belum memperhitungkan adanya sumber daya batu bara yang masih berada di dalam Bumi yang belum tereksploitasi, yang diperkirakan mencapai 143,7 miliar ton.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.