Ditopang Pemulihan Ekonomi dan Likuiditas Melimpah, Kredit Perbankan 2022 Diproyeksi Tumbuh hingga 8 Persen

Kompas.com - 02/12/2021, 13:56 WIB
Ilustrasi Thinkstockphotos.comIlustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan, kredit perbankan tumbuh lebih cepat pada tahun 2022, dibanding tahun ini, seiring dengan mulai pulihnya permintaan pembiayaan dan melimpahnya likuiditas perbankan.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pertumbuhan kredit perbankan pada 2022 diproyeksi tumbuh pada kisaran 6 persen sampai 8 persen.

Proyeksi ini lebih tinggi dibanding proyeksi pertumbuhan keseluruhan tahun 2021 di kisaran 4 persen sampai 6 persen.

Baca juga: BRI Kuasai 67,4 Persen Pasar Kredit UMKM Nasional

“Tahun depan Insya Allah pertumbuhan kredit di kisaran 6 persen sampai 8 persen,” kata Perry dalam gelaran Bank Indonesia Bersama Masyarakat (BIRAMA) 2021, Kamis (2/12/2021).

Proyeksi itu selaras dengan prediksi pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2022 pada kisaran 4,7 persen hingga 5,5 persen, juga lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di kisaran 3,2 persen hingga 4 persen.

Asisten Gubernur BI Juda Agung menyebutkan, berbagai sektor perekonomian tengah berada dalam tren pemulihan. Hal ini tercermin dari tumbuhnya kredit di berbagai segmen.

“Sektor korporasi sudah mulai membaik. Kinerja dari korporasi terus membaik, begitu juga sektor rumah tangga. Kalau kita lihat KPR itu sekarang di 8,67 persen. Besar sekali,” tutur dia.

Bukan hanya itu, penyaluran kredit modal kerja juga membukukan pertumbuhan positif. Berdasarkan data BI, kredit jenis tersebut sudah tumbuh di atas 4 persen.

Baca juga: 5 Tips Menjaga Kerahasiaan PIN Kartu Debit dan Kredit Anda

“Ini yang menumbuhkan optimisme dari sektor keuangan, bahwa pemulihan di tahun ini akan terus berlangsung,” ujar Juda.

Pada saat bersamaan, perbankan memiliki kemampuan yang cukup untuk memfasilitasi pemulihan ekonomi itu. Likuiditas perbankan berada di level yang baik, bahkan terbilang sangat longgar.

Hingga 16 November 2021, BI mencatat, rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 34,05 persen, diikuti dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh sebesar 9,44 persen secara tahunan.

“Sangat besar. Dan itu belum pernah terjadi di dalam sejarah perbankan kita. Artinya likuiditas masih cukup, masih banyak uang yang belum pernah disalurkan,” ucap Juda.

Sebagai informasi, BI mencatat, pada Oktober 2021 intermediasi perbankan tumbuh 3,24 persen secara tahunan, didorong oleh permintaan dan penawaran.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.