Skystar Capital
Pemodal Ventura

Skystar Capital adalah pemodal ventura yang berfokus pada pendanaan awal untuk membantu akselerasi bisnis rintisan teknologi. Skystar Capital hadir sebagai solusi bagi para pendiri untuk memberikan bantuan modal, saran, dan kemitraan strategis untuk meningkatkan skala bisnis.

Skystar Capital didukung oleh berbagai grup perusahaan terkemuka di berbagai bidang seperti media, telekomunikasi, layanan keuangan, layanan kesehatan, sektor pendidikan, dan lain-lain. Kami memberikan akses melalui jaringan profesional untuk pengembangan bisnis perusahaan rintisan.

Ingin lebih kenal dengan kami? Bisa follow kami di Instagram (@skystar.vc) atau Linkedin Skystar Capital. Juga kunjungi situs kami www.skystarcapital.com atau kalau ingin berbincang dengan kami, kirimkan surel ke contact@skystarcapital.com 

Meneropong Peluang Industri Healthtech di Indonesia

Kompas.com - 03/12/2021, 15:36 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh karena itu, pemerintah maupun masyarakat Indonesia harus berpikir strategis untuk dapat memaksimalkan keuntungan ini. Sebab, jika tidak, Indonesia harus kehilangan peluang besar lain yang disebabkan oleh kesehatan, seperti hilangnya produktivitas karena sakit.

Menurut laporan Oliver Wyman, penurunan produktivitas Indonesia akibat penyakit diperkirakan mendekati 30 persen dari produk domestik bruto (PDB) per tahun. Lebih dari 201 miliar dollar AS, hampir 19 persen dari produk domestik bruto hilang setiap tahunnya karena produktivitas yang rendah, yang disebabkan oleh penyakit tidak menular, seperti gagal jantung, masalah pernapasan, dan kanker. Selain itu, 101 miliar dollar AS PDB juga hilang karena penyakit menular seperti tifus dan malaria.

Angka-angka yang diakibatkan oleh penyakit tidak menular ini jauh melebihi negara-negara tetangga lainnya seperti India sebesar delapan persen dan China 12 persen. Lebih jauh, untuk mengukurnya juga dapat dilihat dari angka kematian yang disebabkan karena disabilitas (disability-adjusted life years), di mana Indonesia kehilangan lebih dari 31 persen, lebih banyak daripada rata-rata yang diperkirakan oleh Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development, OECD).

Masalah utama yang mengganggu Sistem Kesehatan Indonesia

Agar lebih memaksimalkan peluang dalam industri kesehatan, ada beberapa masalah yang perlu ditangani:

1. Rendahnya kesadaran akan kesehatan pribadi: 

Rendahnya kesadaran terhadap kesehatan ditunjukkan dengan 29 persen masyarakat Indonesia yang masih tidak memiliki akses layak terhadap layanan sanitasi dasar. Hal ini menyebabkan angka kematian yang lebih tinggi disebabkan oleh air, sanitasi, dan kebersihan yang buruk, yang mengakibatkan 7,1 kematian per 100.000 pada penduduk di tahun 2016.

Salah satu akar masalah dari fenomena ini adalah kurangnya edukasi mengenai kesehatan. Akibatnya, terdapat kesenjangan angka harapan hidup sebesar 15 tahun antara penduduk desa dan kota, yang menunjukkan kontribusi tantangan geografis pada akses layanan kesehatan di negara kepulauan seperti Indonesia.

2. Persebaran tenaga medis yang tidak merata dapat menghambat pertumbuhan klinik atau rumah sakit

SSCSSC SSC

Indonesia hanya memiliki 0,36 dokter per 1.000 penduduk, jumlah ini masih di bawah standar minimal 1 dokter per 1.000 penduduk yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia. Dengan distribusi 56 persen total penduduk Indonesia berdomisili di Pulau Jawa, tidak mengherankan lantas apabila sebagian besar dokter Indonesia juga berbasis di Pulau Jawa. Oleh karena itu, dokter lebih mempertimbangkan untuk mendapatkan izin bekerja di pulau Jawa atau Sumatera. Hal ini semakin mengukuhkan fakta ketidakmerataan infrastruktur dan pembangunan ekonomi dengan daerah lain di Indonesia.

Situasi ini diperparah dengan dibatalkannya Peraturan Presiden No.4/2017 oleh Pemerintah; peraturan tersebut menyatakan bahwa dokter spesialis harus bekerja (pasca tamat) di daerah tertinggal. Akibatnya, distribusi antar dokter spesialis semakin tidak merata. Namun, sebagai langkah cepat, pemerintah telah menyiapkan Peraturan Presiden Nomor 31 Tahun 2019 yang mengizinkan dokter spesialis bekerja secara sukarela di daerah tertinggal, dengan insentif tertentu dari pemerintah.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.