Daftar 6 BUMN yang Punya Utang Menumpuk, dari AP I hingga Waskita Karya

Kompas.com - 08/12/2021, 09:31 WIB

Sementara dari sisi pengeluaran atau investasi, AP I telah menggelontorkan kurang lebih sekitar Rp 19,2 triliun untuk pembangunan dan pengembangan bandara nasional. Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) menjadi proyek yang paling banyak menghabiskan anggaran.

Baca juga: AP I Tambah Deretan BUMN dengan Utang Jumbo

Tercatat proyek pembangunan Bandara YIA menghabiskan anggaran sekitar Rp 12 triliun. Di sisi lain, pembangunan sejumlah terminal baru turut menyedot banyak biaya, seperti di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin sebesar Rp 2,3 triliun dan d Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang sebesar Rp 2,03 triliun.

Seluruh proyek tersebut dibiayai melalui skema penggunaan dana internal dan berbagai sumber lain, seperti kredit sindikasi perbankan serta obligasi.

Kondisi keuangan perusahaan yang berdarah-darah ini terutama disebabkan oleh sejumlah bandara yang sepi selama masa pandemi. Salah satunya Bandara YIA Kulon Progo.

"Pandemi Covid-19 melanda pada saat Angkasa Pura I tengah dan telah melakukan pengembangan berbagai bandaranya yang berada dalam kondisi lack of capacity," ujar Faik, Minggu (5/12/2021).

Baca juga: Erick Thohir Angkat Darmawan Prasodjo Jadi Dirut PLN

2. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk

Kinerja keuangan Garuda Indonesia yang buruk sudah lama menjadi sorotan. Kementerian BUMN mencatat, hingga akhir September 2021, utang maskapai pelat merah ini sudah mencapai 9,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 138,87 triliun (asumsi kurs Rp 14.200 per dollar AS).

Tiko mengatakan, liabilitas atau kewajiban Garuda mayoritas berasal dari utang kepada lessor mencapai 6,35 miliar dollar AS. Selebihnya ada utang ke bank sekitar 967 juta dollar AS, dan utang dalam bentuk obligasi wajib konversi, sukuk, dan KIK EBA sebesar 630 juta dollar AS.

Menurutnya, secara teknis Garuda sudah dalam kondisi bangkrut, namun belum secara legal. Sebab maskapai milik negara ini punya utang yang lebih besar ketimbang asetnya, sehingga mengalami ekuitas negatif.

Garuda memiliki ekuitas negatif sebesar 2,8 milliar dollar AS atau sekitar Rp 40 triliun, di mana liabilitasnya mencapai 9,8 miliar dollar AS, sedangkan asetnya hanya sebesar 6,9 miliar dollar AS.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.