Kompas.com - 08/12/2021, 13:10 WIB
Ilustrasi produk made in China. freepik.com/ibrandifyIlustrasi produk made in China.
Penulis Isna Rifka
|

KOMPAS.com - Perekonomian China berkembang pesat, berbagai produk negara tirai bambu ini nampaknya ada di mana-mana. Sebagian besar label mengatakan bahwa produk ini made in China sehingga membuat kita bertanya-tanya, kenapa semua produk made in China?

Sebagaian besar orang mungkin berpikir alasannya karena banyak tenaga kerja di China yang murah sehingga bisa menurunkan biaya produksi suatu barang.

Padahal selain biaya tenaga kerja yang rendah, China telah dikenal sebagai pabrik dunia karena ekosistem bisnisnya yang kuat, kurangnya kepatuhan terhadap peraturan, pajak dan bea yang rendah, dan praktik mata uang yang kompetitif.

Sementara pabrik asal negara barat mematuhi berbagai peraturan kesehatan, keselamatan, ketenagakerjaan, dan lingkungan dibanding pabrik China yang umumnya beroperasi di bawah lingkungan peraturan yang jauh lebih longgar.

Baca juga: Pasar Monopoli: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Contoh di Indonesia

Berikut beberapa alasan kenapa banyak produk made in China di dunia, dikutip dari laman Investopedia:

1. Upah pekerja rendah

China merupakan negara terpadat di dunia dengan populasi penduduk sekitar 1,39 juta orang. Hal ini membuat tenaga kerja di China membeludak sementara lapangan pekerjaan yang tidak dapat menampung semuanya.

Sesuai dengan hukum peawaran dan permintaan, jika tenaga kerja banyak dan lapangan kerja hanya sedikit tentu akan menjadikan upah para pekerja rendah. Selain itu, mayoritas warga negeri panda ini merupakan kelas menengah ke bawah atau miskin yang hidup di pedesaan.

China juga tidak mengikuti secara ketat undang-undang yang berkaitan dengan upah minimum pekerja, di mana hal ini yang lebih banyak dipatuhi negara barat.

Baca juga: Mengenal Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO dan Tujuan Berdirinya

Namun, situasi ini tampaknya berubah karena saat ini banyak provinsi di China melaporkan telah meningkatkan upah minimum daerahnya untuk mengikuti kenaikan biaya hidup sehari-hari.

Pada Januari 2020, tarif minimum pekerja di Shanghai adalah 3,16 dollar AS per jam atau Rp 45.297 dan 355,70 dollar AS per bulannya Rp5,09 juta. Sedangkan di Shenzen, tarifnya adalah 2,91 dollar AS per jam atau Rp 41.715 dan 315,55 dollar AS per jam atau Rp 4,52 juta.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.