Cerita Rachmat Kaimuddin, dari Penjaga Perpustakaan hingga Jadi CEO Bukalapak

Kompas.com - 09/12/2021, 06:31 WIB
Doc. Bukapalak Kiki SafitriDoc. Bukapalak

Seperti mahasiswa lainnya, Rachmat Kaimuddin juga sempat melakukan pekerjaan-pekerjaan lepas saat menjadi mahasiswa. Dia sempat bekerja sebagai grader, hingga menjaga perpustakaan yang gajinya hanya cukup untuk membeli makanan.

“Kalau pertama kali saya kerja, itu pas kuliah, pernah jadi grader dan bahkan menjadi penjaga perpustakaan. Itu gajinya cuma cukup untuk beli makanan,” kata Rachmat.

Lulus di tahun 2001, Rachmat sempat bekerja di salah satu perusahaan chip dengan posisi design enginer. Selang menjalani kerja di AS, tahun 2003 ia kembali ke Indonesia dan memulai karier sebagai Consultant di Boston Consulting Group Jakarta.

Tak mau buka-bukaan soal gaji, Rachmat membandingkan bahwa gaji yang ia terima di Indonesia adalah separuh dari gajinya saat ia bekerja di AS. Namun, dengan semangat nasionalis yang tertanam di bangku sekolah ia bertekad untuk turut berkontribusi untuk pembangunan negeri dengan kembali ke Indonesia dan memulai karier di tanah air.

“Dari pada jemput angka, saya bilang pas saya kerja di AS dan saya mau balik ke Indonesia, gaji saya berkurang kira-kira setengahnya. Jadi memang ada pengurangan gaji. Tapi karena saya memang ingin kerja di Indonesia yaudah engak apa-apa mulai dari awal lagi,” jelas dia.

Baca juga: Pendapatan Melesat, Rugi Bersih Bukalapak Menyusut

Di tahun 2006, Rachmat melanjutkan studinya Magisternya selama dua tahun di Stanford University Graduate School of Business mengambil gelar Master of Business Administration (MBA) hingga tahun 2008. Rachmat bercerita saat itu startup di Indonesia masih jarang, berbeda dengan AS yang mana dirinya sudah terpapar teknologi-teknologi startup kala itu.

Lanjutkan studi di Universitas Stanford yang merupakan kawasan perusahaan-perusahaan rintisan teknologi yang dikenal sebagai Silicon Valley, Rachmat cukup sering berbaur dengan teman-temannya yang bekerja di perusahaan startup teknologi.

“MIT itu seperti universitas yang sangat kental dengan teknologi, demikian juga dengan Stanford yang berada di Silicon Valley. Disitu ada Google, Apple dan perusahaan teknologi lainnya. Jadi pas ambil MBA, kita banyak terpapar dunia starup. Cuma waktu itu di tahun 2006-2008 belum ada starup yang gede, jadi saya banyak dengar dari teman-teman yang bekerja di startup,” lanjutnya bercerita.

Agar lebih jelas, Rachmat Kaimuddin merinci saat ia melanjutkan S2, Apple baru saja merilis generasi pertama iPhone. Rilis iPhone diikuti dengan rilis smartphone android. Barulah kemudian banyak perusahaan mengembangkan aplikasi. Namun, saat kembali ke Indonesia hal tersebut masih belum ada.

Kembali ke Indonesia pasca studi S2 tahun 2009, Rachmat menempati posisi Managing Director untuk PT Cardig Air Services sembari juga mengemban posisi Principal di Quvat. Di tahun 2012 ia juga sempat menduduki posisi Vice President di Baring Private Equity Asia, dan kemudian tahun 2014 ia menduduki posisi Chief Financial Officer / CFO di PT Bosowa Corporindo. Tahun 2016 sebagai Managing Director PT Semen Bosowa Maros.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jenis Tabungan, Jumlah Setoran Awal BRI, serta Biaya-biaya Lainnya

Jenis Tabungan, Jumlah Setoran Awal BRI, serta Biaya-biaya Lainnya

Whats New
Penuhi Pasokan Dalam Negeri, India Larang Ekspor Gandum

Penuhi Pasokan Dalam Negeri, India Larang Ekspor Gandum

Whats New
Kilang Balikpapan yang Kebakaran Masih Diperbaiki, Pertamina Pastikan Suplai BBM Tidak Terganggu

Kilang Balikpapan yang Kebakaran Masih Diperbaiki, Pertamina Pastikan Suplai BBM Tidak Terganggu

Whats New
Digugat Rp 322 Miliar gara-gara Tabungan Emas, PT Pegadaian Buka Suara

Digugat Rp 322 Miliar gara-gara Tabungan Emas, PT Pegadaian Buka Suara

Whats New
Pegadaian Digugat Rp 322 Miliar Gara-gara Tabungan Emas

Pegadaian Digugat Rp 322 Miliar Gara-gara Tabungan Emas

Whats New
Cara Membuat Sertifikat Tanah, Beserta Syarat dan Biayanya

Cara Membuat Sertifikat Tanah, Beserta Syarat dan Biayanya

Spend Smart
Long Weekend, KAI Catat 67.000 Penumpang Berangkat dari Stasiun Gambir dan Pasar Senen

Long Weekend, KAI Catat 67.000 Penumpang Berangkat dari Stasiun Gambir dan Pasar Senen

Whats New
Cek Besaran Biaya dan Limit Transfer Bank DKI di ATM

Cek Besaran Biaya dan Limit Transfer Bank DKI di ATM

Spend Smart
Awal Pekan, Harga Emas Antam Bertahan di Rp 967.000 per Gram

Awal Pekan, Harga Emas Antam Bertahan di Rp 967.000 per Gram

Whats New
Sambut Era Society 5.0, Berikut Peran dan Manfaat Digital Manufacturing bagi Bisnis

Sambut Era Society 5.0, Berikut Peran dan Manfaat Digital Manufacturing bagi Bisnis

BrandzView
Rincian Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, dari 0,5 Gram hingga 1 Kg

Rincian Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, dari 0,5 Gram hingga 1 Kg

Spend Smart
Cara Buka Rekening Bank DKI Online via Aplikasi JakOne Mobile

Cara Buka Rekening Bank DKI Online via Aplikasi JakOne Mobile

Whats New
Erick Thohir: Ekosistem Usaha Nelayan RI Harus Terus Disehatkan

Erick Thohir: Ekosistem Usaha Nelayan RI Harus Terus Disehatkan

Whats New
Perusahaan Kosmetik Wardah Buka Lowongan Kerja di Banyak Posisi, Ini Persyaratannya

Perusahaan Kosmetik Wardah Buka Lowongan Kerja di Banyak Posisi, Ini Persyaratannya

Whats New
Cara Daftar dan Aktivasi JakOne Mobile di Ponsel, Mudah dan Praktis

Cara Daftar dan Aktivasi JakOne Mobile di Ponsel, Mudah dan Praktis

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.