Restrukturisasi Kredit Turun, OJK Minta Perbankan Tetap Lakukan Pencadangan

Kompas.com - 09/12/2021, 15:18 WIB
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso saat acara peringatan 40 tahun Bursa Efek Indonesia di Main Hall BEI, Jakarta, Jumat (11/8/2017). KOMPAS.com/PRAMDIA ARHANDO JULIANTOKetua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso saat acara peringatan 40 tahun Bursa Efek Indonesia di Main Hall BEI, Jakarta, Jumat (11/8/2017).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat restrukturisasi kredit perbankan terus mengalami penurunan. Meskipun demikian, perbankan diminta untuk tetap melakukan pencadangan dana.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, hingga Oktober 2021, restrukturisasi kredit nasabah perbankan mencapai Rp 714 triliun. Nilai ini lebih rendah dibanding bulan sebelumnya, yakni sebesar Rp 738,7 triliun.

"Kredit yang direstrukturisasi jumlahnya sudah mulai menurun. Jumlahnya Rp 714 triliun per Oktober 2021, mencakup 4,4 juta debitur," kata dia dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI, Kamis (9/12/2021).

Baca juga: Ada Kewajiban Pajak atas Penghasilan dari Uang Kripto

Walaupun restrukturisasi tengah berada dalam tren penurunan, Wimboh meminta kepada perbankan untuk mengedepankan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN). Hal ini dinilai perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya "cliff effect" ketika kebijakan restrukturisasi kredit dampak pandemi Covid-19 berakhir.

Sebagaimana diketahui, OJK memutuska untuk memperpanjang kebijakan restrukturisasi kredit debitur terdampak pandemi Covid-19 hingga Maret 2023. Keputusan ini diambil guna mendukung tren pemulihan ekonomi nasional.

"Kita tetap meminta kepada perbankan membentuk pencadangan, agar nanti pada saat dinormalkan pada 2023 ini tidak terjadi permodalannya tidak cukup atau cliff effect," tutur Wimboh.

Lebih lanjut Wimboh menyebutkan, di tengah penurunan restrukturisasi kredit, rasio kredit macet (non performing loan) juga masih relatif terjaga. Tercatat hingga Oktober 2021 gross NPL perbankan berada di level 3,22 persen.

"Mudah-mudahan dengan ekonomi yang tumbuh lebih baik, kredit-kredit yang direstrukturisasi akan membaik dan jumlahnya semakin kecil," ucap Wimboh.

Baca juga: Menko Airlangga Sebut RI Mampu Tangani Pandemi dan Pemulihan Ekonomi secara Seimbang

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.