BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Fintech Indonesia

Menuju IFS 2021: Fintech untuk Pemulihan Ekonomi, Tantangan, dan Pentingnya Kolaborasi

Kompas.com - 10/12/2021, 12:52 WIB

KOMPAS.com – Pandemi Covid-19 mendorong pertumbuhan sektor keuangan digital di Indonesia. Pasalnya, pada masa ini, masyarakat lebih memilih bertransaksi secara digital guna mengurangi penularan virus corona.

Data Bank Indonesia (BI) pada Agustus 2021 memperlihatkan bahwa nilai transaksi keuangan elektronik meningkat sebesar 43,66 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY) menjadi Rp24,8 triliun. Nilai transaksi perbankan digital pada bulan sebelumnya juga meningkat sebesar 39,39 persen YoY, yaitu mencapai Rp17.901,76 triliun.

Pertumbuhan keuangan digital tersebut tak dapat dilepaskan dari adopsi alias pemanfaatan financial technology (fintech). Seperti diketahui, selama pandemi Covid-19, penetrasi penggunaan fintech meningkat dengan cepat di dunia, termasuk Indonesia.

Baca juga: Kucuran Dana Fintech ke Sektor Produktif Capai Rp 69,39 Triliun

Tak heran, banyak perusahaan di sektor fintech justru berhasil bertahan dan bahkan dapat tumbuh di masa pandemi. Disadur dari Kontan.co.id, Jumat (4/12/2020), hasil Studi Penilaian Cepat Pasar Fintech Global Covid-19 membuktikan bahwa 12 dari 13 sektor fintech berhasil bertumbuh secara melesat selama pandemi.

Riset yang dilakukan oleh Cambridge Centre for Alternative Finance itu juga menyebutkan bahwa 60 persen perusahaan yang disurvei bahkan meluncurkan produk, layanan baru, atau mengembangkan produk yang telah ada.

Dorong pemulihan ekonomi nasional

Pemerintah optimistis bahwa pertumbuhan sektor fintech Indonesia dapat menjadi katalis pemulihan ekonomi nasional. Apalagi, ekonomi digital Indonesia terbukti tangguh dan resilient di tengah disrupsi yang terjadi akibat pandemi Covid-19.

“Salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia adalah sektor fintech yang jangkauan ekspansinya semakin luas dan tersebar,” ujar Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate, sebagaimana dikutip dari Kominfo.go.id, Rabu (29/9/2021)

Baca juga: Berantas Pinjol Ilegal, BPR Didorong Tingkatkan Kolaborasi dengan Fintech Lending

Pernyataan Menkominfo tersebut diperkuat data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Oktober 2021. Sektor fintech lending telah berhasil menyalurkan pembiayaan senilai Rp272,43 triliun dengan outstanding sebesar Rp27,91 triliun.

Dana pinjaman dari fintech lending atau Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi (LPMUBTI) pun memberikan angin segar kepada para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di tengah paceklik pandemi.

Melansir situs resmi Kementerian Perekonomian, ekon.go.id, Jumat, (23/4/2021), selama pandemi ada 52 penyelenggara fintech yang tergabung dalam Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) telah memberikan 55 program insentif, kemudahan, dan solusi finansial bagi masyarakat yang terdampak ekonomi, termasuk para pelaku UMKM.

Kucuran dana industri fintech lending ke sektor produktif pun terus mengalami peningkatan. Data OJK menunjukkan, akumulasi pembiayaan fintech kepada sektor produktif sampai dengan Oktober 2021 telah mencapai Rp 8,32 triliun atau 61,18 persen dari akumulasi penyaluran pembiayaan fintech lending secara total sampai dengan saat ini.

Baca juga: Mau Jadi Investor Fintech? Simak Untung Ruginya

Kategorisasi segmen produktif di antaranya adalah perdagangan besar dan eceran, penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum, transportasi, pergudangan dan telekomunikasi, serta bukan lapangan usaha lain.

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank OJK Riswinandi mengatakan dengan pertumbuhan tersebut, peran fintech lending atau pinjaman online untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan transformasi digital di Indonesia tak perlu diragukan.

"Fintech lending memiliki keunggulan dalam menjangkau masyarakat lebih luas dan kecepatan dalam melakukan transaksi. Hal ini bisa menjadi alat yang sangat baik untuk meningkatkan inklusi keuangan maupun jangkauan ke masyarakat yang belum bisa mengakses layanan keuangan perbankan (unbankable)," kata Riswinandi, Kamis (2/12/2021).

Pada Agustus 2021, data AFTECH menunjukkan bahwa jumlah investor turut mengalami peningkatan menjadi 6,1 juta. Ketertarikan investor ritel pada perkembangan fintech menjadi pendorong utamanya.

Selain itu, perkembangan fintech juga menggeliatkan pasar komoditas berjangka aset kripto di Indonesia. Menurut data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan RI (Juli 2021), jumlah investor aset kripto di Indonesia telah mencapai 7,4 juta orang. Angka tersebut tumbuh sebesar 85 persen YoY dengan nilai transaksi mencapai Rp478,5 triliun.

Baca juga: Apa Itu NFT, Aset Kripto yang Tengah Naik Daun

Angka menjanjikan dari sisi konsumen fintech juga terlihat dari peningkatan investasi di sektor fintech. Mengutip DailySocial, data pada 2020 memperlihatkan terjadinya penanaman modal investasi perusahaan rintisan atau startup yang mencapai 113 transaksi.

Nilai transaksi tersebut mencapai total 3,3 miliar dollar AS. Dari 113 transaksi, sebanyak 18 investasi berasal dari perusahaan rintisan fintech.

Tidak tertutup kemungkinan, arus modal tersebut terus meningkat seiring pasar fintech yang akan terus tumbuh.

Agenda IFS 2021: Tantangan fintech di Indonesia dan pentingnya kolaborasi

Meski merasa optimistis, AFTECH pun menyadari bahwa fintech akan terus menghadapi tantangan di masa depan. Beberapa di antaranya adalah cybercrime, pelanggaran perlindungan data pribadi, dan kemunculan fintech ilegal.

Khusus cybercrime, data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat, sebanyak lebih dari 741 kasus anomali lalu lintas atau serangan siber terjadi sejak Januari hingga Juli 2021. Sebanyak 21,8 persen di antaranya merupakan kasus di sektor jasa keuangan.

Kehadiran fintech ilegal, baik investasi maupun peer to peer (P2P) lending, pun diprediksi akan meningkat. Menurut data Kompas.com (27/9), sejak 2020 hingga pertengahan Juli 2021 tercatat sebanyak 425 penyelenggara investasi ilegal dan 1.500 fintech P2P lending ilegal telah ditutup oleh OJK.

Wakil Ketua Umum IV AFTECH Marshall PribadiDok. AFTECH Wakil Ketua Umum IV AFTECH Marshall Pribadi

AFTECH menyadari bahwa risiko-risiko di atas harus menjadi perhatian penting bagi semua stakeholder terkait. Dengan demikian, keberadaan tata kelola serta implementasi prinsip-prinsip perlindungan konsumen segera diwujudkan oleh pemerintah.

Dukungan pemerintah ini juga meliputi perlindungan kepada masyarakat luas sebagai pengguna layanan fintech.

AFTECH juga menilai bahwa pemerintah perlu ikut campur tangan melalui pembuatan kebijakan dan peraturan yang dapat mendukung inovasi dan terobosan yang dilakukan perusahaan fintech.

Hal tersebut sesuai dengan hasil AFTECH Annual Member Survey 2019/2020. Laporan ini menyebutkan, sebanyak 350 perusahaan fintech anggota AFTECH telah menyepakati perlunya keseimbangan antara inovasi dan tata kelola yang baik (good governance) demi percepatan pemulihan ekonomi nasional.

Dari keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (10/12/2021), Wakil Ketua Umum IV AFTECH Marshall Pribadi mengatakan bahwa perkembangan regulasi selalu tertinggal dengan perkembangan teknologi dan sektor keuangan.

Baca juga: Aftech Sebut Transformasi UMKM ke Digital Perlu Diimbangi Literasi Keamanan Siber

Selama ini, lanjutnya, pemerintah telah memberikan dukungan dan ruang agar perusahaan fintech dapat terus berinovasi. Hal ini harus disambut dengan inovasi yang tetap mengedepankan tata kelola dan manajemen risiko yang baik oleh perusahaan.

Marshall juga berharap layanan fintech dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dengan semangat positif dan itikad baik. Selain itu, Marshall menilai, pemerintah perlu mendukung perusahaan fintech yang sudah sesuai jalur.

“Kami berharap, pemerintah semakin adaptif terhadap perkembangan industri fintech dan memberikan dukungan penuh fintech legal yang telah menjalankan tata kelola dan manajemen risiko yang baik,” ujar Marshall.

Bentuk dukungan, termasuk berbagai perspektif tentang potensi dan tantangan fintech di Indonesia, tersebut akan menjadi pembahasan pada Indonesia Fintech Summit (IFS) 2021 yang akan berlangsung pada 11-12 Desember di Bali. IFS juga merupakan acara puncak sekaligus penutup Bulan Fintech Nasional 2031.

IFS 2021 akan dihadiri tokoh kunci di pemerintahan, perusahaan fintech, dan industri perbankan di kawasan, serta dapat diikuti oleh masyarakat luas secara virtual melalui platform www.fintechsummit.co.id. Registrasi sekarang di www.fintechsummit.co.id. Pendaftaran IFS 2021 tidak dipungut biaya.


Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

ILO: Transisi Energi Bakal Ciptakan 5 Juta Lapangan Pekerjaan

ILO: Transisi Energi Bakal Ciptakan 5 Juta Lapangan Pekerjaan

Whats New
Krakatau Steel Tandatangani Kerja Sama Pengembangan Pabrik 'Blast Furnace'

Krakatau Steel Tandatangani Kerja Sama Pengembangan Pabrik "Blast Furnace"

Whats New
Likuiditas Melimpah, Suku Bunga Kredit Belum Akan Naik Signifikan

Likuiditas Melimpah, Suku Bunga Kredit Belum Akan Naik Signifikan

Whats New
PNBP Perikanan Tangkap Terus Meningkat, Kini Capai Rp 512,38 Miliar

PNBP Perikanan Tangkap Terus Meningkat, Kini Capai Rp 512,38 Miliar

Whats New
Semangat Kerja di Usia Senja, Driver Ojol ini Masih Giat Ngaspal

Semangat Kerja di Usia Senja, Driver Ojol ini Masih Giat Ngaspal

Earn Smart
Deteksi Wabah PMK, Kementan Minta Pemda Optimalkan Puskeswan

Deteksi Wabah PMK, Kementan Minta Pemda Optimalkan Puskeswan

Whats New
Netflix Bakal Pasang Iklan, Apa Pengaruhnya pada Jumlah Pelanggan?

Netflix Bakal Pasang Iklan, Apa Pengaruhnya pada Jumlah Pelanggan?

Spend Smart
OJK: Kinerja Intermediasi Lembaga Keuangan Terus Meningkat

OJK: Kinerja Intermediasi Lembaga Keuangan Terus Meningkat

Whats New
Dalam Gelaran WEF 2022, Bos GoTo Tekankan Pentingnya Inklusi Digital dalam Mengatasi Kesenjangan Ekonomi

Dalam Gelaran WEF 2022, Bos GoTo Tekankan Pentingnya Inklusi Digital dalam Mengatasi Kesenjangan Ekonomi

Whats New
Cegah Penyebaran Penyakit PMK, Kementan Perketat Pengawasan Hewan Kurban

Cegah Penyebaran Penyakit PMK, Kementan Perketat Pengawasan Hewan Kurban

Whats New
MCAS Group Gandeng PT Pos Indonesia Kembangkan Fitur Kendaraan Listrik di Aplikasi Pospay

MCAS Group Gandeng PT Pos Indonesia Kembangkan Fitur Kendaraan Listrik di Aplikasi Pospay

Whats New
Askrindo Jadi Mitra Asuransi Resmi Java Jazz Festival 2022

Askrindo Jadi Mitra Asuransi Resmi Java Jazz Festival 2022

Whats New
Niat Bikin Kolam Renang untuk Cucu, Pensiunan Anggota Dewan Ini Bangun 'Waterpark' di Bogor

Niat Bikin Kolam Renang untuk Cucu, Pensiunan Anggota Dewan Ini Bangun "Waterpark" di Bogor

Smartpreneur
Terbaru, Ini Daftar 100 Pinjol Ilegal 2022 yang Ditutup OJK

Terbaru, Ini Daftar 100 Pinjol Ilegal 2022 yang Ditutup OJK

Whats New
Ini Aneka Tantangan Bisnis Asuransi Jiwa di Tahun 2022?

Ini Aneka Tantangan Bisnis Asuransi Jiwa di Tahun 2022?

Work Smart
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.