Untar untuk Indonesia
Akademisi

Platform akademisi Universitas Tarumanagara guna menyebarluaskan atau diseminasi hasil riset terkini kepada khalayak luas untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Peduli Energi Melalui Revisi SNI Konservasi

Kompas.com - 16/12/2021, 14:28 WIB
Foto ilustrasi Standar Nasional Indonesia (SNI) PrimusFoto ilustrasi Standar Nasional Indonesia (SNI)

Oleh: Endah Setyaningsih, Ida Zureidar, dan Luthfi Arifandi

Tak tahu SNI, standar nasional Indonesia, bukan karakter kita saat ini. SNI adalah standar yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) dan berlaku di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Label SNI menempel pada banyak produk, termasuk produk elektronik, sebagai tanda produk telah lolos uji oleh Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) dan Laboratorium Pengujian.

Label SNI sering juga disebut sebagai logo SNI. Logo SNI, termasuk jenis logo tipografi, yaitu bentuk logo yang terdiri dari huruf, atau tulisan (Hardy 2011, dalam Setyowulan, 2020, Jurnal BMI).

Baca juga: Langkah Mengurus Label SNI

 

Menurut wikipedia, logo merupakan suatu gambar atau sekadar sketsa dengan arti tertentu, dan mewakili suatu arti dari perusahaan, daerah, organisasi, produk, negara, lembaga, dan hal lainnya yang membutuhkan sesuatu yang singkat dan mudah diingat sebagai pengganti dari nama sebenarnya. Apapun sebutannya yang utama adalah produk tanpa adanya logo SNI bukan produk pilihan kita.

Salah satu produk BSN adalah SNI 6197:2020, merupakan SNI konservasi energi pada sistem pencahayaan (energy conservation for lighting), dengan isi utama berupa perancangan, pengoperasian, dan pemeliharaan bangunan gedung, merupakan revisi SNI 6197:2011 dengan judul yang sama. SNI ini disusun dengan jalur metode pengembangan sendiri, ditetapkan oleh BSN tahun 2020.

Semangat revisi SNI konservasi, meliputi revisi pada tingkat pencahayaan (satuan lux) yang direkomendasikan dalam ruangan dan densitas daya lampu (watt/m2) maksimum yang ditetapkan sebagai kondisi perancangan, mengajak kita siap peduli energi.

SNI mengajak semua pihak untuk menggunakan acuan yang sama sebagai dasar perhitungan beban dan kualitas pencahayaan, dengan tetap menggunakan energi secara optimal.

Tabel perbandingan tingkat pencahayaan dan densitas daya terhadap fungsi ruangan, sebelum dan sesudah revisi (Sumber SNI 6197:2011 dan SNI 6197:2020).

Nomor Fungsi ruangan

Sebelum revisi 

(SNI 6197:2011)

 

Sesudah revisi

(SNI 6197:2020) 

-
    Tingkat pencahaya (lux) Densitas daya (W/m2) Tingkat pencahaya (lux) Densitas daya (w/m2)
1 Ruang kerja kantor 350 12 350 7,53
2 Ruang kelas 350 15 350 11,95
3 Laboratorium sekolah 500 13 500 12,16
4 Perpustakaan 300 11 350 10,33
5 Ruang operasi 300 10 1000 24,33
6 Pekerjaan menengah-industri 500 15 500 8,61
7 Lobi hotel 350 12 200 5,49
8 Ruang pemeriksaan imigrasi - - 300 5,49

Tampak dari tabel, semangat peduli energi terlihat pada nilai tingkat pencahayaan (lux), yang dibuat optimal sesuai fungsi ruang, dengan tujuan supaya kenyamanan visual terjamin. Namun dengan menggunakan energi yang rendah, terlihat dari nilai densitas daya lampu (W/m2) yang menurun lebih dari 50 persen terhadap SNI sebelumnya (2011).

Sebagai contoh ruang kerja di kantor, densitas daya lampu 7,53 W/m2, maknanya dalam 1 (satu) m2 luas ruang kantor, cukup menggunakan 7,53 watt daya lampu, yang akan menghasilkan tingkat pencahayaan sebesar 350 lux.

Penurunan itu berkat dari teknologi perlampuan, terutama lampu LED yang meningkat pesat perkembangannya. Jika sebelumnya lebih mengandalkan lampu dari golongan fluorescent (seperti TLD, CFL/lampu spiral) dan juga lampu pijar, maka saat ini lampu-lampu tersebut mulai ditinggalkan, kecuali lampu fluorescent jenis T5.

Untuk lampu pijar bahkan sudah tidak digunakan lagi, karena sangat boros energinya, dan sifat panas yang dihasilkan.

Ada istilah baru untuk penamaan lampu pijar, sering disebut sebagai lampu kandang. Sifat panasnya yang dihasilkan dimanfaatkan untuk kandang ayam, sebagai penghangat anak-anak ayam dan atau menetaskan telur ayam.

Semangat peduli energi, bisa berlanjut melalui penggunaan cahaya alami untuk pencahayaan bangunan. Sistem ‘menyampingkan pencahayaan’, dengan menggunakan peneduh, memantulkan sinar matahari dan cahaya siang kedalam ruang bagian dalam.

Sistem ‘tabung cahaya’, juga dapat dimanfaatkan, untuk meneruskan cahaya matahari masuk kedalam ruang (SNI 6197:2020).

Pemeliharan lampu dan luminer/rumah lampu tak kalah penting untuk dilakukan, yaitu dengan membersihkan peralatan pencahayaan dan permukaan ruang serta mengganti lampu yang rusak atau yang sudah mencapai umur teknisnya. SOP pemeliharaan perlu disiapkan oleh setiap pengelola bangunan gedung.

Aspek teknologi terkini melalui penggunaan sensor untuk sistem kontrol pencahayaan bangunan gedung, saat ini mulai dilirik oleh banyak pihak. Semua untuk semangat peduli energi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.