Ratifikasi Perjanjian Dagang RCEP Ditargetkan Rampung Kuartal I-2022

Kompas.com - 31/12/2021, 13:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah menargetkan proses ratifikasi perjanjian dagang Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) rampung pada kuartal I-2022 mendatang.

Padahal perjanjian ini akan mulai berlaku pada 1 Januari 2022. Indonesia merupakan salah satu negara ASEAN yang belum meratifikasi RCEP, selain Malaysia dan Filipina.

Hingga kini sudah ada 7 negara ASEAN yang telah meratifikasi RCEP yakni Brunei, Kamboja, Laos, Myanmar, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Begitu pula dengan 5 negara mitra yakni China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.

Baca juga: RCEP Diprediksi Dongkrak 20 Persen Investasi ke RI

"Diharapkan di kuartal I-2022 sudah bisa dibawa ke rapat paripurna DPR. sehingga RCEP sudah bisa diratifikasi," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers virtual, Jumat (31/12/2021).

Menurutnya, proses ratifikasi di parlemen masih berlangsung. Saat ini pembahasan ratifikasi RCEP di tingkat I atau Komisi VI DPR RI telah selesai, sehingga akan di bawa ke tingkat II dalam rapat paripurna mendatang.

"Ratifikasi ini sedang berproses dan di Komisi VI itu sudah selesai. Jadi tentu pembahasan selanjutnya adalah di tingkat dua yaitu di parlemen. Biasanya kalau pembahasan di tingkat komisi selesai maka tentu tinggal disahkan di rapat paripurna," jelas dia.

Ia menjelaskan, setelah disahkan di rapat paripurna maka pihak DPR RI akan menyampaikan hasil ratifikasi ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk pada akhirnya perjanjian itu diundangkan.

Baca juga: Ini Keuntungan RCEP bagi Indonesia Menurut Mendag

Airlangga mengatakan, dampak dari terlambatnya ratifikasi RCEP tersebut, maka Indonesia tak bisa mengimplementasikan perjanjian dagang multilateral itu per 1 Januari 2022. Indonesia hanya bisa menjalankan isi perjanjian ketika ratifikasi rampung.

"Konsekuensinya adalah kita tidak berlaku 1 Januari tapi berlaku setelah setelah diratifikasi DPR," imbuhnya.

Perjanjian dagang RCEP telah ditandatangani oleh 15 negara yang tergabung didalamnya pada 15 November 2020 lalu. Persetujuan RCEP sendiri diinisiasi oleh Indonesia sejak 2011.

RCEP menjadi perjanjian terbesar di dunia yang mencakup 27 persen perdagangan dunia, 29 persen PDB dunia, 30 persen dunia, dan 29 persen dunia.

Baca juga: Fakta RCEP, Blok Perdagangan Terbesar di Dunia yang Mengecualikan AS

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Inflasi Turki Capai 78,6 Persen, Rekor Tertinggi dalam 20 Puluh Tahun

Inflasi Turki Capai 78,6 Persen, Rekor Tertinggi dalam 20 Puluh Tahun

Whats New
Uji Coba LRT Jabodebek Diundur Jadi Desember 2022, Mulai Beroperasi 2023

Uji Coba LRT Jabodebek Diundur Jadi Desember 2022, Mulai Beroperasi 2023

Whats New
Biaya Admin, Setoran Awal, dan Cara Buka Rekening BRI Britama X

Biaya Admin, Setoran Awal, dan Cara Buka Rekening BRI Britama X

Whats New
Cara Cek Resi Shopee Express dengan Mudah dan Praktis

Cara Cek Resi Shopee Express dengan Mudah dan Praktis

Whats New
Syarat dan Cara Mengaktifkan Shopee PayLater dengan Mudah

Syarat dan Cara Mengaktifkan Shopee PayLater dengan Mudah

Whats New
Pengusaha Puji Sri Mulyani, Sudah Diberi Tax Amnesty, Lalu Dikasih PPS

Pengusaha Puji Sri Mulyani, Sudah Diberi Tax Amnesty, Lalu Dikasih PPS

Whats New
Rusia Minat Bikin Pembangkit Nuklir di RI, Ini Jawaban Menteri ESDM

Rusia Minat Bikin Pembangkit Nuklir di RI, Ini Jawaban Menteri ESDM

Whats New
Masuk Mal Wajib Vaksin Booster, Berlaku 2 Minggu Lagi

Masuk Mal Wajib Vaksin Booster, Berlaku 2 Minggu Lagi

Whats New
Luhut Umumkan Wajib Booster Bagi yang Bepergian, Berlaku 2 Minggu Lagi

Luhut Umumkan Wajib Booster Bagi yang Bepergian, Berlaku 2 Minggu Lagi

Whats New
Kementerian PUPR: Pembangunan 9 Bendungan Ditargetkan Rampung di 2022

Kementerian PUPR: Pembangunan 9 Bendungan Ditargetkan Rampung di 2022

Whats New
Hati-hati, Ada Pemeliharaan dan Rekonstruksi di Tol Jagorawi 5-9 Juli 2022

Hati-hati, Ada Pemeliharaan dan Rekonstruksi di Tol Jagorawi 5-9 Juli 2022

Whats New
Viral Video Petani Jual TBS Kelapa Sawit ke Malaysia, Apkasindo: Kami Harus Biayai Keluarga

Viral Video Petani Jual TBS Kelapa Sawit ke Malaysia, Apkasindo: Kami Harus Biayai Keluarga

Whats New
Jurus Mendag Zulhas Naikan Harga TBS Petani Sawit

Jurus Mendag Zulhas Naikan Harga TBS Petani Sawit

Whats New
BRI Prediksi Penyaluran KUR ke 10,7 Juta UMKM Serap 32,1 Juta Lapangan Kerja

BRI Prediksi Penyaluran KUR ke 10,7 Juta UMKM Serap 32,1 Juta Lapangan Kerja

Whats New
Soal Penyesuaian Tarif INA-CBG's, Bos BPJS Kesehatan: Itu Hal yang Menurut Saya Bagus...

Soal Penyesuaian Tarif INA-CBG's, Bos BPJS Kesehatan: Itu Hal yang Menurut Saya Bagus...

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.