Lonjakan Harga Ikan hingga Cabai Rawit Picu Inflasi 3,75 Persen di Bangka Belitung

Kompas.com - 05/01/2022, 13:26 WIB

BANGKA, KOMPAS.com - Indonesia hanya mengalami inflasi sebesar 1,87 persen ditingkat nasional  pada 2021. Namun di Bangka Belitung, inflasi selama 2021 mencapai 3,75 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun 2020 yang hanya 1,08 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kepulauan Bangka Belitung Tantan Heroika mengatakan, inflasi tahunan yang cukup tinggi dipengaruhi oleh faktor penawaran, terutama gangguan pasokan ikan, aneka cabai yang dipengaruhi faktor La Nina, tren peningkatan harga minyak goreng, dan tren peningkatan harga angkutan udara menjelang libur akhir tahun.

Sedangkan dari faktor permintaan, inflasi didorong oleh meningkatnya harga komoditas unggulan Bangka Belitung seperti timah, CPO, dan lada yang berdampak pada peningkatan pendapatan dan tingkat konsumsi masyarakat.

"Secara bulanan, inflasi tertinggi terjadi pada bulan Desember 2021 yaitu sebesar 1,22 persen. Inflasi Desember 2021 utamanya didorong oleh peningkatan indeks harga konsumen komoditas angkutan udara, cabai rawit, kangkung, ikan selar dan daging ayam ras," kata Tantan dalam keterangan tertulis, Selasa (4/1/2022).

Baca juga: Aturan Vaksinasi Booster Berbayar Bakal Terbit Awal Minggu Depan

Secara spasial, pada Desember 2021, kota Pangkalpinang mengalami inflasi sebesar 1,27 persen secara bulanan atau 3,60 persen secara tahunan. Inflasi pada bulan Desember 2021 terutama didorong oleh meningkatnya indeks komoditas angkutan udara, kangkung, dan cabai rawit.

Sementara itu, kota Tanjungpandan mengalami inflasi sebesar 1,14 persen secara bulanan atau 4,01 persen secara tahunan pada Desember 2021. Hal itu didorong oleh peningkatan indeks komoditas cabai rawit, bahan bakar rumah tangga dan ikan ekor kuning.

Melonjaknya harga cabai rawit didorong oleh rendahnya pasokan pasca panen seiring panen yang tidak optimal di musim tanam sebelumnya. Sementara permintaan akhir tahun cenderung meningkat sehingga mendorong koreksi harga ke atas.

Berdasar data EWS Kementan terkini, produksi cabai rawit diprakirakan menurun pada Desember 2021 ke level 88.001 ton dibandingkan prakiraan produksi November 2021 di kisaran 99.629 ton.

Demikian pula dengan realisasi pasokan cabai rawit di Pasar Induk Keramat Jati yang juga terpantau menurun dari 1.453 ton pada bulan lalu menjadi 904 ton pada periode laporan.

Baca juga: APBN 2021 Bikin Sri Mulyani Girang, Pajak hingga PNBP Kinclong

Lebih lanjut, kondisi cuaca dengan curah hujan yang tinggi menyebabkan gagal panen di berbagai daerah, seperti di Lampung, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Selatan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.