Komut PGN Arcandra: Energi Gheotermal Bisa Berfungsi Layaknya Batu Bara

Kompas.com - 12/01/2022, 18:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisaris Utama PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk Arcandra Tahar mengatakan, geothermal alias panas bumi menjadi energi yang paling cocok memenuhi kebutuhan masyarakat di Indonesia.

Malah, geothermal menurut dia bisa dimanfaatkan layaknya komoditas batu bara. Lantaran, geothermal tidak bergantung dengan sumber angin maupun panas matahari.

Baca juga: Pertamina Geothermal Gandeng BPPT untuk Kaji Sistem Pembangkit Panas Bumi

"Apa energi yang kira-kira di Indonesia secara local wisdom-nya lebih bisa diharapkan atau mampu memenuhi kebutuhan kita, geothermal. Geothermal ini bisa berfungsi seperti batu bara yang bisa menghasilkan energi sepanjang waktu," kata dia dalam PGN Energy Economic Outlook 2022 ditayangkan secara virtual, Rabu (12/1/2022).

"Tidak bergantung terhadap adanya matahari atau tidak, tidak bergantung ada angin atau tidak. Tidak semua negara di dunia ini diberi anugerah Yang Maha Kuasa, geothermal," lanjutnya.

Baca juga: Mengenal Panas Bumi, Sumber Energi Ramah Lingkungan yang Hemat Devisa Negara

Ongkos energi geothermal lebih mahal ketimbang batu bara

Namun demikian, kata mantan Wakil Menteri ESDM ini, dari sisi pengembangan dan life less cost energy-nya atau biaya yang dibangkitkan oleh geothermal lebih mahal dari energi batu bara.

"Dari sisi kebersihan, dari sisi suplai yang continued lebih mengembangkan geothermal untuk Indonesia," ucapnya.

Baca juga: Meski Dihadapi Pandemi, Produksi Listrik Pertamina Geothermal Lampaui Target

Beberapa waktu lalu, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, melakukan transisi dari energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT) membutuhkan biaya yang sangat besar. Setidaknya dibutuhkan Rp 3.500 triliun untuk mencapai target net zero emission (NZE).

Seperti diketahui, Indonesia menargetkan bisa mencapai nol emisi karbon atau NZE pada 2060. Dalam peta jalan untuk mencapai itu, ditargetkan terjadi penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29-41 persen pada 2030.

Ia mengungkapkan, berdasarkan penghitungan yang dilakukan, kebutuhan biaya untuk mencapai target penurunan emisi karbon di Indonesia, terbesar ada pada sektor energi. Sektor ini memang menyumbang karbon dioksida (CO2) atau emisi karbon.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.