Perkuat Ketahanan Pangan, ASEAN Dinilai Butuh Kontribusi Swasta yang Lebih Besar

Kompas.com - 17/01/2022, 17:14 WIB
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai ketahanan pangan di kawasan ASEAN membutuhkan kontribusi swasta yang lebih besar, termasuk melalui foreign direct investment (FDI) atau penanaman modal asing.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Azizah Fauzi mengatakan, hal ini perlu dilakukan untuk memperkuat rantai pasokan pangan dan pertanian serta posisi kawasan dalam rantai nilai global.

“Kawasan ini membutuhkan lebih banyak investasi, termasuk foreign direct investment pada sektor pangan untuk memastikan akses dan keterjangkauan masyarakatnya terhadap pangan. Ketahanan pangan di ASEAN masih rentan terhadap fluktuasi harga dan gangguan pasokan. Hal itu memengaruhi keterjangkauan pangan masyarakatnya,” kata Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Azizah Fauzi dalam siaran resminya, Senin (17/1/2022).

Baca juga: Ini Alasan Pemerintah Pilih Nusantara Jadi Nama Ibu Kota Baru di Kaltim

Azizah menuturkan, realisasi FDI di bidang pertanian di ASEAN hingga 2020 kurang dari 10 persen dari total FDI di kawasan tersebut. FDI di sektor pertanian ASEAN telah menurun sejak tahun 2015 dan rata-rata realisasi FDI tahunan pertanian ke ASEAN pada tahun 2016 hingga 2019 lebih rendah 26,89 persen dibanding tahun 2015.

Azizah juga mengatakan, kerentanan k etahanan pangan di ASEAN antara lain terlihat dari masalah kekurangan gizi yang sudah berlangsung lama.

Menueut dia, prevalensi stunting dan wasting pada balita di ASEAN pada tahun 2020 masing-masing sebesar 27,40 persen dan 8,2 persen. Persentase tersebut lebih tinggi dari rata-rata global berdasarkan laporan dari Global Nutrition Report.

“Upaya mewujudkan ketahanan pangan dapat dilakukan melalui investasi, yang dapat membantu meningkatkan produktivitas pertanian. Namun hal ini membutuhkan kerangka peraturan yang lebih spesifik,” terangnya.

ASEAN sudah memiliki ASEAN Integrated Framework for Food Security and Strategic Plan (AIFS-SPA FS) yang merupakan pedoman dan rekomendasi bersifat sukarela bagi anggota untuk memastikan ketahanan pangan jangka panjang, perbaikan nutrisi dan peningkatan mata pencaharian petani.

Ia mengatakan pedoman yang bersifat sukarela tersebut pada akhirnya membuat implementasinya berbeda antar negara-negara ASEAN.

Baca juga: Kementerian ESDM: Uji Jalan Kendaraan dengan B40 Dimulai Februari 2022

Selain itu, ASEAN juga dinilai perlu mengurangi dominasi BUMN dan lembaga sejenis di sektor pangan seperti Bulog di Indonesia, Vinafood I dan II di Vietnam, NFA di Filipina dan Bernas di Malaysia juga dapat menghambat masuknya FDI dan memunculkan keengganan swasta untuk terlibat dalam pembangunan sektor pangan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.