BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Gojek

Fitur Carbon Offset GoTo Group dan Jejak.in Resmi Diadopsi Kemenparekraf

Kompas.com - 17/01/2022, 18:35 WIB

KOMPAS.com – Fitur pengurangan jejak karbon GoGreener Carbon Offset yang digagas GoTo Group dan Jejak.in sukses diadopsi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Jumat (7/1/2022).

Adopsi itu dilakukan dengan mengembangkan fitur tersebut menjadi Carbon Footprint Calculator dan Offsetting Kemenparekraf. Fitur ini dapat diakses melalui tautan di situs Indonesia Travel.

Melalui tautan tersebut, Sobat Pesona—sapaan untuk pengunjung laman Indonesia Travel—akan diarahkan ke beranda halaman fitur Indonesia Travel Carbon Calculator.

Dengan fitur itu, mereka dapat menghitung jejak karbon yang dihasilkan dari penggunaan berbagai moda transportasi dan konsumsi listrik sehari-hari. Misalnya, dalam penggunaan laptop, air conditioner (AC), televisi (TV), dan kulkas.

Setelah dihitung, kalkulator akan menunjukkan jumlah pohon yang dibutuhkan untuk menyerap jejak karbon itu.

(Baca juga: Punya Komitmen Wujudkan Three Zeros, Gojek Diganjar Peringkat Emas di Asia Sustainability Reporting Rating 2021)

Kemudian, Sobat Pesona dapat berkontribusi dengan menanam pohon sesuai hasil hitungan tersebut di sejumlah wilayah konservasi dan hutan kota di Indonesia.

Adapun perhitungan kalkulator karbon ilmiah itu merujuk pada standar Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) serta rekomendasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (Kementerian LHK).

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf)/Kepala Badan Ekonomi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan, kehadiran fitur Carbon Footprint Calculator dan Offsetting diharapkan dapat menciptakan pariwisata serta ekonomi kreatif (parekraf) yang lebih lestari, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

“Kami ingin memastikan bahwa inisiatif itu dapat menjadi gerakan nasional yang bisa mengatasi berbagai krisis akibat perubahan iklim dan mencapai pembangunan yang berkelanjutan menuju netral karbon atau net zero emission,” ujar Sandiaga dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (17/1/2022).

Sandiaga melanjutkan bahwa pengembangan pariwisata ke depan akan berfokus pada peningkatan kualitas dan prinsip keberlanjutan. Prinsip ini mencakup aspek 3P, yakni planet (alam), people (manusia), dan prosperity (kesejahteraan).

Menurut Sandiaga, Kemenparekraf memiliki tanggung jawab dalam mencapai pembangunan berkelanjutan. Pasalnya, secara global, sektor parekraf menyumbang 8 persen emisi karbon dunia.

Selain itu, kolaborasi Kemenparekraf dengan Jejak.in dinilai menjadi langkah awal dalam membuka peluang kerja sama bagi 34 juta ekosistem parekraf.

Ekosistem tersebut mencakup 14 juta ekosistem pariwisata dengan 13 subsektor dan 20 juta ekosistem ekonomi kreatif (ekraf) dengan 17 subsektor.

(Baca juga: Inisiasi Anak Negeri Mengurangi Masalah Sampah Plastik Sekali Pakai)

Sandiaga juga berharap, Kemenparekraf dapat menjalin lebih banyak kerja sama dengan GoTo Group, terutama yang melibatkan generasi muda.

Sementara itu, Chief Public Policy and Government Relations GoTo Group Shinto Nugroho mengapresiasi langkah Kemenparekraf mengadopsi fitur Carbon Offset.

“Langkah tersebut dapat memberikan peluang kolaborasi dengan GoTo Group sekaligus memperluas penggunaan fitur Carbon Offset,” kata Shinto.

Jika dilakukan secara kolektif dan berkelanjutan, lanjut Shinto, upaya itu bisa menjadi dasar dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang rendah karbon.

Pihaknya juga meyakini bahwa fitur Carbon Footprint Calculator dan Offsetting Kemenparekraf pada laman Indonesia Travel akan menjadi salah satu kontribusi nyata Indonesia sebagai presidensi G20 dan masyarakat global untuk menekan emisi karbon.

Untuk diketahui, fitur GoGreener Carbon Offset telah digarap startup Jejak.in melalui program Gojek Xcellerate. Fitur ini diluncurkan dalam aplikasi Gojek pada 2020.

(Baca juga: GoPay Perkuat Edukasi Literasi Digital dan Sistem Keamanan Transaksi demi Lindungi Konsumen)

Inisiatif tersebut menjadikan Gojek sebagai aplikasi ride-hailing pertama di Indonesia serta dunia yang mengedukasi serta memfasilitasi konsumen untuk berperan aktif dalam pelestarian dan pengembangan hutan kota.

Senada dengan Shinto, Chief Executive Officer (CEO) Jejak.in Arfan Arlanda mengatakan bahwa isu lingkungan dan perubahan iklim merupakan tanggung jawab semua pihak.

“Kita harus berkolaborasi untuk menyelesaikan masalah perubahan iklim. Peluncuran fitur Carbon Footprint Calculator dan Offsetting Kemenparekraf merupakan milestone penting dalam mendorong perwujudan eco-friendly tourism di Indonesia,” ucap Arfan.

Kolaborasi yang digagas GoTo Group, Jejak.in, dan Kemenparekraf tersebut juga mendapat apresiasi dari Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL).

Expert LTKL Gita Syahrani menilai bahwa langkah inovatif itu merupakan wujud nyata Kemenparekraf dalam menindaklanjuti komitmen global yang disepakati Presiden Joko Widodo di Konferensi Perubahan Iklim atau Climate Change Conference of the Parties ke-26 (COP26).

“Kami ucapkan selamat kepada GoTo sebagai ride-hailing pertama yang membantu memudahkan konsumen untuk menjadi ujung tombak perubahan,” imbuh Gita.

Baca tentang

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ini Cara Badan Pangan Nasional Jaga Stabilitas dan Ketersediaan Gula

Ini Cara Badan Pangan Nasional Jaga Stabilitas dan Ketersediaan Gula

Whats New
Cara Bayar Pajak Motor Secara Online, Mudah dan Bisa dari Rumah

Cara Bayar Pajak Motor Secara Online, Mudah dan Bisa dari Rumah

Spend Smart
Cara Daftar Internet Banking BNI dengan Mudah

Cara Daftar Internet Banking BNI dengan Mudah

Spend Smart
Terlalu Banyak Pupuk Kimia, 72 Persen Lahan Pertanian RI Kini Kritis

Terlalu Banyak Pupuk Kimia, 72 Persen Lahan Pertanian RI Kini Kritis

Whats New
Apakah Fasilitas Kendaraan Kantor Termasuk Natura yang Dipajaki?

Apakah Fasilitas Kendaraan Kantor Termasuk Natura yang Dipajaki?

Whats New
Biaya dan Syarat Nikah Terbaru di KUA Tahun 2022

Biaya dan Syarat Nikah Terbaru di KUA Tahun 2022

Spend Smart
Full Cashless, Ini Cara Beli Tiket Kapal Jepara–Karimunjawa 2022

Full Cashless, Ini Cara Beli Tiket Kapal Jepara–Karimunjawa 2022

Spend Smart
Hari Senin Diperkirakan Padat Imbas Rute Baru KRL, 3 Kereta 'Standby' di Bukit Duri

Hari Senin Diperkirakan Padat Imbas Rute Baru KRL, 3 Kereta "Standby" di Bukit Duri

Whats New
Terowongan 'Headrace' Selesai Dibor, Pembangunan PLTA Asahan 3 Capai 55 Persen

Terowongan "Headrace" Selesai Dibor, Pembangunan PLTA Asahan 3 Capai 55 Persen

Whats New
Kereta Api Pertama di Sulawesi Selatan, Jalur Maros-Barru Ditargetkan Beroperasi Oktober 2022

Kereta Api Pertama di Sulawesi Selatan, Jalur Maros-Barru Ditargetkan Beroperasi Oktober 2022

Whats New
Forum B20 Indonesia, Kadin Soroti Permasalahan Pendidikan di Era Digital

Forum B20 Indonesia, Kadin Soroti Permasalahan Pendidikan di Era Digital

Whats New
Kekuatan UKM Lokal dalam Menghidupi Wisata dan Masyarakat Lokal

Kekuatan UKM Lokal dalam Menghidupi Wisata dan Masyarakat Lokal

Smartpreneur
BCA Raih Penghargaan “The Best Overall Big Caps” dari IICD

BCA Raih Penghargaan “The Best Overall Big Caps” dari IICD

Whats New
RUPST PGN 2022 Setujui Deviden 67,8 Persen dari Laba Bersih 2021

RUPST PGN 2022 Setujui Deviden 67,8 Persen dari Laba Bersih 2021

Whats New
Antisipasi Kecelakaan, Tempat Wisata Diminta Sediakan Tempat Istirahat Sopir Bus yang Memadai

Antisipasi Kecelakaan, Tempat Wisata Diminta Sediakan Tempat Istirahat Sopir Bus yang Memadai

Whats New
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.