Kata Menkeu, Ini Industri yang Belum Pulih Usai Dihantam Pandemi Covid-19

Kompas.com - 02/02/2022, 17:40 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, masih ada sektor-sektor yang belum tumbuh baik usai dihantam pandemi Covid-19. Dia merinci, setidaknya ada sekitar 27 sektor yang pertumbuhannya di bawah level pra-pandemi.

Bendahara negara ini menuturkan, sektor ini memang sangat bergantung pada besar atau kecilnya penularan Covid-19. Bila penularan meninggi, mereka sulit bertahan.

Asal tahu saja selama pandemi Covid-19, penularan kasus Covid-19 tidak bisa diprediksi. Usai mengalami lonjakan varian Delta tahun lalu, kini Indonesia mengalami lonjakan varian Omicron.

Baca juga: Bukan Cuma Saat Covid-19, UMKM Beromzet Rp 500 Juta Bebas Pajak Permanen

"Industri ini berkaitan erat dengan pandemi. Kalau pandemi bisa terjaga maka berbagai jasa seperti restoran, transportasi, akan kembali (meningkat) dengan adanya normalisasi," ucap Sri Mulyani dalam konferensi pers KSSK, Rabu (2/2/2022).

Wanita yang karib disapa Ani ini menuturkan, sektor yang pertumbuhannya berada di bawah level sebelum pandemi, yakni, jasa pendidikan, jasa angkutan laut, jasa keuangan lainnya, industri mesin, industri manufaktur lain, industri kulit dan alas kaki, serta industri perdagangan mobil dan motor.

Lalu, industri kertas, industri kayu, jasa lainnya, industri semen, alat angkut, pengadaan gas, pelayanan makanan dan minuman, tembakau, industri batubara, migas, industri karet, dan pertambangan migas.

Kemudian industri barang logam elektronik, industri tekstil pakaian jadi, angkutan sungai, pergudangan, akomodasi, angkutan rel, dan angkutan udara.

"Penyediaan makanan dan minuman berarti seperti restoran, masih left behind. Dan ini yang kemudian kita perlu memberikan perhatian," ucap dia.

Di sisi lain, ada beberapa sektor yang sudah pulih, yaitu pertambangan logam, jasa kesehatan, perkebunan, industri kimia dan farmasi, jasa informasi dan komunikasi, industri logam dasar, dan jasa pertanian.

Baca juga: Jumlah Penduduk Miskin RI Capai 26,50 Juta Orang, Lebih Tinggi Dibanding Pra-pandemi

Lalu, holtikultura, pengelolaan air dan limbah, industri makanan dan minuman, tanaman pangan, jasa penunjang keuangan, industri pertambangan secara umum termasuk batubara, perbankan, real estat, kehutanan, ketenagalistrikan, serta perdagangan besar dan eceran.

Kemudian, industri asuransi dan dana pensiun, industri perikanan, industri furnitur, penggalian, konstruksi, peternakan, dan angkutan darat.

Wanita yang karin disapa Ani ini menjelaskan, beberapa industri tersebut didukung oleh kebijakan fiskal maupun paket kebijakan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

"Seperti industri otomotif dan perumahan yang sudah diberi insentif, baik dari sisi PPnBM maupun PPN DTP, di-combine (dicampur) dengan kebijakan Pak Perry (makroprudensial) dan Pak Wimboh (mikroprudensial) dari sisi ATMR. Ini diharapkan bisa mengungkit sektor yang kita anggap punya multiplier," tandas Ani.

Baca juga: Catat, Berikut 3 Tip Kelola Keuangan agar Tak Salah Perhitungan Selama Pandemi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.