Di Balik Menghilangnya Kentang Goreng Ukuran Large dari Menu Restoran Cepat Saji

Kompas.com - 04/02/2022, 19:09 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai, kelangkaan kentang untuk konsumsi industri makanan saat ini, yang sudah mengakibatkan hilangnya kentang goreng ukuran large dari menu restoran cepat saji ternama, menggambarkan betapa tergantungnya negeri ini pada impor dalam pemenuhan kebutuhan industrinya.

Diketahui sebelumnya, restoran cepat saji McDonald's mengumumkan mulai 2 Februari akan membatasi penjualan menu kentang goreng alias French Fries kemasan besar untuk sementara waktu lantaran adanya kendala pengiriman pasokan kentang terkait pandemi Covid-19.

“Kelangkaan kentang saat ini terjadi karena disrupsi rantai pasok global. Namun disrupsi ini hanya temporer. Secara jangka panjang, Indonesia tetap membutuhkan impor kentang dari luar negeri untuk memenuhi konsumsi,” ujar Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Ananta dalam siaran persnya, Jumat (4/2/2022).

 Baca juga: McDonalds Hapus Menu Kentang Goreng Large, Kenapa?

Felippa menilai, bagi kebanyakan rumah tangga, kelangkaan kentang ini tidak terasa karena selain bukan merupakan bahan pokok, pasokan kentang sayur yang biasa dikonsumsi rumah tangga, memang masih mencukupi.

Namun kelangkaan terasa pada pasokan kentang olahan untuk keperluan industri makanan, seperti untuk french fries atau keripik misalnya.

Felippa membeberkan, Indonesia hanya dapat memproduksi sekitar 25 persen dari kebutuhan kentang olahan industri makanan.

Defisitnya dipenuhi dengan mengimpor kentang olahan, terutama varietas Atlantic, dari Eropa dan Amerika Serikat yang mutu olahnya lebih baik dan lebih stabil. Sebagian juga menggunakan kentang dari surplus kentang sayur dengan mutu olahan yang lebih rendah.

 Baca juga: Olahan Kentang Medians Tembus Pasar Amerika dan China

Data Balai Penetlitian Tanaman Sayuran (BALISTA) tahun 2020 menunjukkan Indonesia mengimpor 25.410 ton kentang dari Belgia, 20.850 ton dari Amerika Serikat, dan 19.100 ton dari Belanda dengan total nilai nilai impor mencapai 69,79 juta dollar AS.

Kemudian untuk produksi kentang Indonesia sendiri, kata Felippa, terus fluktuatif dalam beberapa tahun terakhir ini. Tapi volumenya selalu melebihi kebutuhan konsumsi rumah tangga.

Sekitar 80 persen produksi kentang di Indonesia merupakan kentang sayur untuk kebutuhan rumah tangga. Sementara sisanya kentang olahan untuk industri makanan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.