Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rudiyanto
Direktur Panin Asset Management

Direktur Panin Asset Management salah satu perusahaan Manajer Investasi pengelola reksa dana terkemuka di Indonesia.
Wakil Ketua I Perkumpulan Wakil Manajer Investasi Indonesia periode 2019 - 2022 dan Wakil Ketua II Asosiasi Manajer Investasi Indonesia Periode 2021 - 2023.
Asesor di Lembaga Sertifikasi Profesi Pasar Modal Indonesia (LSPPMI) untuk izin WMI dan WAPERD.
Penulis buku Reksa Dana dan Obligasi yang diterbitkan Gramedia Elexmedia.
Tulisan merupakan pendapat pribadi

Meneropong Prospek Reksa Dana Pendapatan Tetap Tahun 2022

Kompas.com - 09/02/2022, 16:37 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KINERJA dari rata-rata reksa dana pendapatan di Indonesia dalam 3 tahun terakhir sebagai berikut +9 persen (2019), +9 persen  (2020) dan +2,32 persen (2021). Kinerja yang sangat baik pada 2019 dan 2020 ini ditopang pada tingkat inflasi dan suku bunga yang sangat rendah karena pandemi.

Kondisi ini agak berbalik di 2021, tingkat inflasi mulai melonjak tinggi terutama di negara Amerika Serikat dan karena perekonomian mulai kembali normal, suku bunga yang tadinya sangat rendah tersebut perlahan mau dinaikkan mendekati level normalnya.

Dalam kondisi demikian, bagaimana kinerja reksa dana pendapatan tetap pada 2022?

Suku bunga Amerika Serikat yang dijadikan sebagai acuan Bank Sentral berbagai negara di dunia saat ini adalah 0 persen yang sudah ditetapkan sejak 2020 sebagai antisipasi krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19. Sementara level yang “normal” adalah di sekitar 2 persen.

Karena kondisi ekonomi yang berangsur-angsur kembali normal, maka Bank Sentral AS juga berencana mengembalikan kembali ke level yang normal di 2 persen.

Baca juga: Bingung Mau Mulai Berinvestasi Dari Mana? Coba Reksa Dana dan Nikmati 4 Keuntungan Berikut

Sebagai Bank Sentral terbesar, kenaikan suku bunga kembali ke level normal ini perlu dilakukan secara bertahap dan dikomunikasikan dengan baik supaya tidak menimbulkan gejolak pasar.

Sejauh ini komunikasinya amat baik, karena rencana awalnya kenaikan ini akan terjadi secara bertahap dalam 3 tahun sehingga suku bunga diperkirakan mencapai 2 persen di tahun 2024. Dengan kenaikan secara bertahap ini, diharapkan tidak menimbulkan gejolak pasar yang berlebihan.

Namun inflasi menjadi masalah. Saat ini, Amerika Serikat membukukan inflasi sebesar 7 persen pada akhir 2021. Biasanya angka inflasi AS berkisar di 1 – 2 persen, terakhir kali inflasi 7 persen itu terjadi di 1982.

Tingkat inflasi yang sangat tinggi ini menyebabkan spekulasi pasar akan kenaikan suku bunga lebih cepat. Bisa jadi dari 0 ke 2 persen yang tadinya bertahap 3 tahun, dipercepat menjadi 2 tahun.

Spekulasi ini sebenarnya sudah terjadi sejak akhir tahun lalu dan masih berlanjut hingga awal Februari 2022 ini. Akibatnya kinerja reksa dana pendapatan tetap di tahun 2021 tidak begitu bagus, hanya 2,32 persen di 2021 dan -0,04 persen dari awal tahun hingga 7 Februari 2022.

Bagaimana kinerjanya hingga akhir 2022?

Reksa dana pendapatan tetap diperkirakan masih bisa membukukan kinerja antara 3–7 persen di 2022. Memang benar, ada sentimen negatif yang membayangi. Namun terdapat juga sentimen positif yang menopang, antara lain:

Pertama, Inflasi di Indonesia memang juga meningkat, namun masih di level yang ditargetkan pemerintah di 3 persen plus minus 1 persen. Dengan tingkat inflasi yang serendah ini, bisa saja Bank Indonesia ikut menaikkan suku bunga, tapi tidak sampai 2 persen. Cukup 0,5–1 persen saja.

Kedua, Indonesia termasuk negara yang sangat diuntungkan dengan booming harga komoditas yang terjadi saat ini. Dengan surplus ekspor yang besar ini, nilai rupiah terhadap dollar AS diperkirakan dapat bertahan di bawah level 15.000. Prediksi Panin AM di 14.500 – 14.700 untuk 2022.

Baca juga: Tips Investasi Cerdas di Reksa Dana dan SBN di Tahun Macan Air

Ketiga, Permasalahan tingkat inflasi yang tinggi di Amerika Serikat tidak semata-mata karena faktor permintaan yang tinggi, tapi juga karena supply disruption seperti gangguan pada transportasi (akibat kebijakan lockdown Pelabuhan), produksi pabrik yang belum kembali normal karena kekurangan tenaga kerja. Supply disruption ini bersifat sementara dan mau bunga dinaikkan juga tidak ada dampak langsungnya. Sehingga belum tentu spekulasi pasar akan terjadi

Keempat, obligasi memiliki kupon. Tergantung isinya, apakah obligasi negara atau korporasi, nilai kupon yang tetap ini bisa berkisar antara 5–8 persen (sebelum pajak). Harga obligasi memang bisa naik turun, tapi bisa saja masih bisa tertutupi dari kupon yang dibagikan sehingga tingkat return masih positif.

Memang untuk bisa mengulangi kinerja mendekati double digit seperti pada 2019 dan 2020 cukup sulit, namun antara 3-7 persen masih sangat dimungkinkan. Momentum penurunan harga obligasi juga bisa dijadikan sebagai momentum untuk mendapatkan harga rata-rata pembelian yang rendah.

Demikian artikel ini, semoga bermanfaat.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com