Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 31 Bulan Berturut-turut

Kompas.com - 15/02/2022, 12:26 WIB
Fika Nurul Ulya,
Yoga Sukmana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Neraca perdagangan Indonesia kembali mencetak surplus pada Januari 2022. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, surplus neraca perdagangan mencapai 930 juta dollar AS atau sekitar Rp 13,29 triliun (kurs Rp 14.300 per dollar AS).

Surplus neraca perdagangan terjadi lantaran nilai ekspor Indonesia masih lebih besar ketimbang nilai impor. Tercatat sepanjang Januari 2022, ekspor mencapai 19,16 miliar dollar AS atau naik 25,31 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Sementara itu, nilai Impor Januari 2022 sebesar 18,23 miliar dollar AS atau meningkat 36,77 persen secara tahunan. Dengan demikian neraca dagang Indonesia mengalami surplus 31 bulan berturut-turut.

"Pada Januari 2022 ini kita masih mengalami surplus sebesar 0,93 miliar dollar AS. Neraca perdagangan kita telah membukukan surplus selama 31 bulan beruntun," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto dalam konferensi pers, Selasa (15/2/2022).

Baca juga: Utang Luar Negeri Indonesia Turun Jadi Rp 5.935 Triliun pada Kuartal IV-2021

Setianto mengungkapkan, komoditas penyumbang ekspor terbesar selama Januari 2022 adalah lemak dan minyak hewan nabati (HS 15), bahan bakar mineral (HS 27), serta besi dan baja (HS 72).

Ada tiga negara penyumbang surplus terbesar yakni AS, Filipina, dan India. Dengan AS misalnya, Indonesia masih mengalami surplus mencapai 1,96 miliar dollar AS.

Surplus ditopang oleh komoditas pakaian dan aksesories rajutan serta komoditas pakaian dan aksesories bukan rajutan. Selain AS, RI juga mengalami surplus dengan Filipina dan India.

"Filipina kita surplus 537,8 juta dollar AS untuk kendaraan dan bagiannya serta bahan bakar mineral. Surplus dari India 428,8 juta dollar AS untuk komoditas lemak dan minyak hewan nabati serta bijih logam, terak, dan abu," beber Setianto.

Baca juga: 3 Perusahaan Sawit Bakal Salurkan Minyak Goreng Murah Rp 9.300 Per Kg

Kendati demikian, RI masih mengalami defisit dengan beberapa negara, salah satunya China. Defisit neraca perdagangan dengan negeri Tirai Bambu itu mencapai 2,23 miliar dollar AS.

Komoditas dominan penyumbang defisit yakni mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84), serta mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85).

Indonesia juga mengalami defisit dengan Thailand dan Australia. Dengan Thailand, neraca perdagangan defisit sekitar 430,2 juta dollar AS, karena nilai ekpor yang sebesar 504,3 juta dollar AS lebih rendah dibanding nilai impor yang sebesar 934,5 juta dollar AS.

Komoditas penyumbang defisit dengan negara ini adalah plastik dan barang dari plastik, serta gula dan kembang gula.

"Kemudian, defisit dengan Australia mencapai 233,6 juta dollar AS, di mana ekspor 262,5 juta dollar AS, sementara impor 496,1 juta dollar AS. Komoditasnya adalah serelia (HS 10) dan bahan bakar mineral (HS 27)," kata Setianto.

Baca juga: Hari Ini Mayoritas Harga Sembako Naik, Cabai Rawit Merah Tembus Rp 55.150 Per Kg

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com