Penarikan Utang Berkurang, Sri Mulyani: Kita Bisa Biayai Pakai Kas

Kompas.com - 22/02/2022, 22:05 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembiayaan APBN melalui utang tercatat menyusut pada Januari 2022. Menteri Keuangan Sri Mulyani indrawati mengatakan, pembiayaan utang di Januari 2021 menurun Rp 3 triliun.

Nilainya setara -0,3 persen terhadap target APBN yang sebesar Rp 973,6 triliun sepanjang tahun 2022. Penarikan utang tersebut -101,8 persen dari periode yang sama tahun lalu, yang mencapai Rp 165,8 triliun.

"Berarti kita bisa membiayai berasal dari kas yang ada maupun dari penerimaan negara baik dari sisi perpajakan, pajak, bea cukai, maupun PNBP," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, Selasa (22/2/2022).

Baca juga: Sri Mulyani Beberkan 3 Negara yang Terbelit Utang Parah

Wanita yang karib disapa Ani ini merinci, penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) untuk penarikan utang tercatat susut Rp 15,9 triliun atau -1,6 persen dari target Rp 991,3 triliun. Secara tahunan, pertumbuhannya -109,3 persen dari Rp 169,7 triliun di Januari 2021.

Dia bilang, susutnya pembiayaan utang terjadi karena adanya pembayaran utang jatuh tempo dan belum diterbitkannya SBN valas seperti di awal tahun lalu.

"Kita mengeluarkan SBN tahun lalu 2021 pada bulan pertama Rp 169,7 triliun. Tahun ini bulan Januari kita mengalami neto negatif Rp 15,9 triliun. Artinya kita bayar utang lebih besar dari issuance," ucap Sri Mulyani.

Baca juga: 3 Negara Miskin Minta Keringanan Bayar Utang ke G20

Di sisi lain, pemerintah masih memanfaatkan skema tanggung renteng (burden sharing) dengan Bank Indonesia (BI). Per 18 Februari 2022, incoming pembelian surat utang oleh BI mencapai Rp 9,2 triliun dengan awarded Rp 4,5 triliun.

"Dengan situasi ini sebetulnya kita sangat baik, untuk tetap menjaga strategi pembiayaan kita secara aman, fleksibel, pruden, dan oportunistik karena suasana pasar surat berharga di seluruh dunia mengalami dampak dari potensi tapering yang terjadi di negara maju terutama AS," jelas dia.

Adapun pinjaman (neto) sampai Januari 2022 mencapai Rp 12,8 triliun. Menurut Sri Mulyani, adanya penyusutan pembiayaan utang dibarengi dengan pengunaan SAL berpotensi menurunkan kebutuhan pembiayaan APBN sepanjang tajun 2022.

"Dengan kondisi APBN yang kuat dan makin sehat, issuance (penerbitan) akan jauh lebih rendah dan memberi ruangan untuk bertahan secara lebih baik," tandas Sri Mulyani.

Baca juga: Utang Luar Negeri Indonesia Turun Jadi Rp 5.935 Triliun pada Kuartal IV-2021

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.