Wall Street Mayoritas Merah, Saham–saham Perbankan Berguguran

Kompas.com - 01/03/2022, 06:35 WIB

NEW YORK, KOMPAS.com – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup mayoritas merah, pada Senin (28/2/2022) waktu setempat (Selasa WIB). Pergerakan Wall Street masih dipengaruhi oleh deretan sanksi yang diberikan AS dan sekutu, merespon invasi Rusia terhadap Ukraina.

Dow Jones Industrial Average tergelincir 166,15 poin, atau 0,49 persen, di posisi 33.892,60. S&P 500 ditutup turun 0,24 persen pada level 4.373,94, sedangkan Nasdaq reli di akhir sesi dengan kenaikan 0,41 persen menjadi 13.751,40.

Volatilitas mulai terjadi sejak munculnya gejolak atas konflik Rusia dan Ukraina, lebih tepatnya saat Rusia menguasai kota – kota penting termasuk Kiev. Namun demikian, para pejabat dari kedua negara mengadakan pertemuan untuk negosiasi di dekat perbatasan Belarusia.

Baca juga: IHSG Sesi I Ditutup Menguat, Asing Borong Saham Bank Jago

Ahli strategi Raymond James dari Tavis McCourt mengatakan, peperangan merupakan hal yang paling berisiko di bursa saham. Karena, investor akan beralih ke aset yang lebih aman, di tengah ketidakpastian global.

“Perang pada dasarnya sangat berisiko bagi aset berisiko karena investor global beralih ke obligasi negara dan aset aman lainnya sampai adanya kenormalan baru,” kata Raymond seperti dikutip dari CNBC.

Saham di sektor pertahanan seperti Lockheed Martin dan Northrop Grumman masing-masing naik 6,7 persen dan 7,9 persen. Saham keamanan siber juga menguat, seperti Crowdstrike yang melonjak 7,4 persen.

Di sisi lain, saham-saham perbankan mengalami tekanan, seperti JPMorgan yang ambles 4,2 persen dan Citigroup turun 4,4 persen.

Imbal hasil obligasi pemerintah turun tajam, untuk Treasury 10 tahun di 1,83 persen, turun 15 basis poin pada sesi tersebut. Imbal hasil obligasi yang lebih rendah membantu kinerja Nasdaq Composite, karena saham yang berorientasi pada pertumbuhan cenderung berkinerja lebih baik ketika suku bunga rendah. Seperti, saham Tesla yang melesat 7,5 persen.

Pasar mata uang mengalami volatilitas yang cukup tinggi. Bank Sentral Rusia menaikkan lebih dari dua kali lipat suku bunganya, menjadi 20 persen dari 9,5 persen sebagai reaksi terhadap pergerakan mata uang yang membuat rubel jatuh hampir 22 persen terhadap dollar AS.

Akhir pekan lalu, AS bergabung dengan sekutu di Eropa dan Kanada untuk memblokir bank-bank penting Rusia dari sistem pembayaran internasional, SWIFT. Sistem ini menghubungkan lebih dari 11.000 bank dan lembaga keuangan di lebih dari 200 negara dan wilayah.

Selain itu, AS dan sekutunya Eropa juga mengambil tindakan terhadap bank sentral Rusia, yang secara efektif membekukan cadangan devisa negara itu. Sanksi di pasar keuangan membuat beberapa investor beralih di luar pasar Rusia.

“Beberapa bank Rusia yang dikeluarkan dari SWIFT dan pembekuan akses bank sentral Rusia ke cadangan mata uang asing yang disimpan di Barat jelas meningkatkan risiko ekonomi,” kata Dennis DeBusschere dari 22V Research.

Baca juga: Rusia Terdepak dari SWIFT, Bursa Saham Eropa Anjlok

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber CNBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.