Dia mencontohkan, seperti pada Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang dalam 4 tahun terakhir jumlah penerimaan pegawai perempuan dan laki-laki seimbang. Namun, jika melihat posisi perempuan untuk jabatan tinggi seperti setingkat eselon I jumlahnya hanya berkisar 16-17 persen.
Itu pun perhitungannya sudah mencakup posisi staf khusus yang tingkat jabatannya disetarakan dengan eselon I. Sri Mulyani bilang, jika hanya murni posisi eselon I yang berasal dari meniti karir, hanya ada dua perempuan yang mengisi jajaran eselon I.
Bendahara Negara itu menjelaskan, perempuan yang sudah menikah ketika berkarir sebagai ASN pun, ketika diihadapkan untuk naik jabatan melalui sistem merit, seringkali kalah dari laki-laki. Lantaran, perempuan menjadi kalah dari sisi pengalaman dan pengetahuan.
Ia mengungkapkan, seringkali perempuan yang sudah berkeluarga hanya meniti karir di kantor yang sama terus-menerus, sebab mempertimbangkan mengurus keluarga atau anak-anaknya. Sementara laki-laki, cenderung memiliki kesempatan yang besar untuk melanjutkan pendidikan dan ditempatkan di berbagai kantor.
"Ketika perempuan ikut sistem merit untuk masuk eselon 4,3,2 itu ditanya pengalamannya, hanya di kantor yang sama, sementara laki-laku sudah sekolah, ditempatkan diberbagai kantor. Sehingga dia (laki-laki) punya leadership dan knowledge yang lebih berkembang," paparnya.
"Itu yang menyebabkan tidak level playing field, makannya (perempuan) drop out, yang tadinya jumlahnya bagus, seimbang ketika masuk, saat ke tingkat eselon 4,3,2 makin lama makin turun. Bahkan untuk posisi pure eselon i yang berasal dari karir, itu hanya dua perempuan," ungkap Sri Mulyani.
Baca juga: Sri Mulyani: Inklusi Keuangan Perempuan Indonesia Lebih Rendah dari Laki-laki
Oleh sebab itu, ia menekankan, siapa pun yang berkesempatan menjadi pemimpin, terutama bila dia perempuan, harus mengkompensasi wanita karir dengan sejumlah afirmasi yang mendukung mereka untuk bisa mengatasi keseimbangan antara keluarga dan dunia kerja. Di antaranya dengan menyediakan fasilitas day care, breastfeeding, dan sebagainya.
"Kita sebagai leader kita harus bisa bikin afirmasi bagaimana membuat perempuan bisa mengatasi persoalan dalam mengambil keputusan-keputusan yang tidak mudah itu," pungkas dia.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!
Syarat & KetentuanSegera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.