Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Di 2021, Pertumbuhan Pinjaman Fintech di Papua Mencapai 169 Persen

Kompas.com - 07/03/2022, 22:05 WIB
Isna Rifka Sri Rahayu,
Akhdi Martin Pratama

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – East Ventures Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2022 melaporkan Papua merupakan provinsi dengan tingkat pertumbuhan pinjaman fintech tertinggi dibanding provinsi lainnya, yaitu hingga 169 persen.

Berdasarkan laporan tersebut, Papua menduduki peringkat ke-23 secara nasional dalam penggunaan pinjaman fintech selama tahun 2021

“Di Papua juga mengalami peningkatan indikator pinjaman fintech sebesar 169 persen, tertinggi dibanding provinsi lainnya,”kata Panel Experts Katadata Insight Center Mulya Amri saat konferensi pers peluncuran laporan EV-DCI 2022, Senin (7/3/2022).

Baca juga: Terus Melesat, Penyaluran Fintech Lending Tembus Rp 295,8 Triliun

Mulya mengatakan, pertumbuhan penggunaan fintech tersebut tidak dibarengi dengan literasi keuangan.

Pada laporan tersebut indeks literasi digital Papua berada di peringkat ke-32 dari 34 provinsi.

“Ternyata memang pinjaman fintech di Papua meningkat tapi kalau dilihat dari tingkat literasi keuangannya, termasuk yang di bawah,” kata Mulya.

Oleh karenanya, menurut Mulya, diperlukan pembangunan literasi keuangan digital oleh pemerintah di Papua agar pertumbuhan ini dapat berdampak positif bagi masyarakat Papua.

Baca juga: Aturan Baru Fintech P2P Lending Segera Keluar, Simak Poin-poin Pentingnya

Jangan sampai pertumbuhan penggunan fintech justru menjadi bumerang bagi masyarakat Papua karena rendahnya literasi keuangan digital.

“Tapi ke depannya ini kalau tidak segera dibangun literasi keuangan digitalnya bisa jadi permasalahan. Pekerjaan beratnya ini meningkatkan literasinya,” ucapnya.

Menurut David, inklusivitas digital memang dapat mempercepat akselerasi pertumbuhan digital di luar DKI Jakarta. Namun harus diiringi juga dengan kesadaran akan literasi keuangan digital.

“Karena kalau tidak, risikonya nanti bisa banyak orang ketipu, penipuan kalau literasi digitalnya rendah. Seperti sekarang nih lagi banyak crazy rich pasti banyak yang jadi korban. Jadi inklusi lalu literasi (keuangan digital) langsung disusul,” tuturnya.

Baca juga: Penyelenggara Fintech Lending Berguguran, OJK Ungkap Penyebabnya

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com