BCA: Permintaan Kredit Mulai Meningkat Jelang Puasa dan Lebaran

Kompas.com - 11/03/2022, 19:27 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com – Menjelang puasa dan lebaran, PT Bank Central Asia (BBCA) optimis realisasi pertumbuhan kredit akan tercapai. Hal ini juga seiring dengan pemulihan ekonomi dan kebijakan pemerintah yang mulai melonggarkan PPKM di sejumlah wilayah.

Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim di acara Emitalk: BBCA-The Bluest Chip secara virtual, Jumat (11/3/2022) mengatakan, tahun ini perseroan menargetkan pertumbuhan kredit mencapai 6 hingga 8 persen dibanding tahun lalu 4–6 persen.

Baca juga: BCA Segera Hadirkan Layanan Pengajuan Kredit di Aplikasi Perbankan

“Sebenarnya buat kami, yang kita tunggu adalah bagaimana permintaan kredit mulai meningkat. Saya sudah melihat permintaan ini mulai meningkat terutama memasuki puasa dan Lebaran. Selain itu juga, industri membutuhkan modal kerja,” kata Vera.

Vera mengatakan, dengan adanya peningkatan harga komoditas, tentunya mendorong korporasi membutuhkan modal ‘ekstra’. Hal inilah yang menjadi peluang dan kesempatan bagi BCA untuk mendorong pertumbuhan kredi di tahun ini.

“Korporasi biasanya perlu stok barang, ataupun operasional harian yang berkaitan dengan inventory juga butuh modal yang besar. Saya melihat ada opportunity di sini, dan bagaimana modal kerja korporasi akan mengalami peningkatan dari sebelumnya,” jelas Vera.

Vera menjelaskan, jelang puasa dan lebaran, beberapa industri akan meningkatkan produksinya untuk mencukupi kebutuhan masyarakat. Di tambah lagi, mobilitas sudah mulai menuju normal dengan pengurangan level PPKM di sejumlah wilayah.

Baca juga: BCA Pantau Potensi Dampak Perang Rusia dan Ukraina ke Kinerja Bisnis Perusahaan

“Mendekati lebaran ini, korporasi membutuhkan modal kerja karena industri perlu stok yang lebih banyak. Untuk industri makanan dan minuman pasti kebutuhan modal kerjanya juga tinggi. PPKM juga levelnya sudah diturunkan, mudah-mudahan memasuki April mobilitas sudah normal,” tambah dia.

Situasi yang mulai normal ini juga mendorong daya beli yang meningkat. Dengan demikian beberapa korporasi sudah mulai memikirkan ketersediaan stok produksi untuk periode selanjutnya. Dengan begitu kebutuhan akan modal kerja yang lebih tinggi tidka dapat terelakkan.

“Saya lihat debitur korporasi sudah memikirkan stok untuk periode selanjutnya. Seperti sektor minyak kelapa sawit, yang mungkin arahnya ke refinery. Kami juga melihat, industri melakukan penyesuaian harga yang tidak secara mendadak, dan ini baik untuk menajaga demand tetap stabil,” jelasnya.

Baca juga: Mengenal 3 Produk KPR BCA dan Cara Pengajuannya

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.