Buruh Tolak Tawaran Kemendag Berikan BLT dan Subsidi Minyak Goreng Curah, Ini Alasannya

Kompas.com - 23/03/2022, 17:40 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Partai Buruh yang juga Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menegaskan penolakan dua tawaran dari pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) terkait minyak goreng.

Seperti diketahui, ratusan buruh pada Selasa (22/3/2022) kemarin, melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor Kemendag yang menuntut turunkan harga minyak goreng. Para buruh yang berunjuk rasa itu pun langsung ditemui oleh Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Oke Nurwan.

Beberapa perwakilan buruh pun diajak berdialog sekaligus Kemendag memberikan penawaran, salah satunya pemberian bantuan langsung tunai (BLT) berupa uang tunai untuk pembelian minyak goreng.

Baca juga: Buruh: Minyak Goreng Kemasan Harus Murah, Itu Tugas Pemerintah, Masa Rakyat Suruh Mikir...

"Dalam kesempatan tersebut, beliau (Dirjen Oke) menawarkan bagaimana minyak goreng dalam kemasan itu harganya Rp 24.000 per liter, tapi subsidinya bukan harga minyak goreng tapi subsidinya kita kasih BLT, terus kita tolak. Partai Buruh menolak," kata Iqbal dalam keterangan pers virtualnya, Rabu (23/3/2022).

Alasannya, dengan menggunakan skema pemberian BLT kepada masyarakat maka pasti muncul korupsi. Menurut Said Iqbal, skema BLT ini kerap membuat banyak menteri yang menjabat di Kementerian Sosial akhirnya menyandang status tersangka korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Karena kalau pakai BLT, pasti itu korupsi, pasti. Saya sampaikan pada dia, tunjukkan pada kami Menteri Sosial yang tidak korupsi sebelum Ibu Trismaharini, semua terjebak korupsi KPK. Selalu persoalannya bansos dan BLT. Oleh karena itu, subsidi dalam bentuk BLT kami tolak," ucapnya.

Baca juga: Serikat Pekerja Minta Jokowi Copot Mendag karena Dinilai Tidak Kompeten Selesaikan Masalah Minyak Goreng

Ia menganjurkan agar pemerintah memberikan subsidi dalam bentuk harga minyak goreng kemasan diturunkan menjadi Rp 14.000 per liter. "Tapi subsidi harus di harga minyak goreng kemasan Rp 24.000 dibagi subsidi Rp 10.000 per liter akan ketemu harga eceran tertingginya Rp 14.000 per liter," jelas dia.

Tawaran berikutnya dari Kemendag lanjut Said Iqbal adalah berupa subsidi harga dalam minyak goreng curah. Tawaran itu pun kembali ditolak dengan dua alasan.

"Kemudian subsidi 6,8 miliar dollar AS dari pungutan pajak kelapa sawit sesuai dengan harga internasional dia mau subsidinya ke minyak goreng curah, kami tolak. Karena ada dua alasan, tidak ada perlindungan konsumen di minyak goreng curah dan tidak ada jaminan kesehatan karena dioplos. Bisa mati orang lebih cepat karena minyak jenuh," kata dia.

Baca juga: DPR soal Isu Mafia Minyak Goreng: Tak Perlu Digembor-gemborkan, Langsung Tangkap Saja

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cara Top Up OVO lewat ATM dan m-Banking dengan Mudah

Cara Top Up OVO lewat ATM dan m-Banking dengan Mudah

Spend Smart
Pengunjung Meningkat, Emiten Mal Ini Optimistis Kinerja Keuangan Membaik

Pengunjung Meningkat, Emiten Mal Ini Optimistis Kinerja Keuangan Membaik

Whats New
Pendapatan Nasional: Pengertian, Manfaat, Konsep, dan Rumusnya

Pendapatan Nasional: Pengertian, Manfaat, Konsep, dan Rumusnya

Earn Smart
Saat 'Green Energy' Tenaga Surya dan Angin Ubah Desa Energi Berdikari Cilacap dari Gelap Menjadi Terang...

Saat "Green Energy" Tenaga Surya dan Angin Ubah Desa Energi Berdikari Cilacap dari Gelap Menjadi Terang...

Whats New
G20 Sherpa Meeting ke-2 Bakal digelar di Labuan Bajo, Apa Saja yang Dibahas?

G20 Sherpa Meeting ke-2 Bakal digelar di Labuan Bajo, Apa Saja yang Dibahas?

Whats New
Syarat dan Cara Mencairkan BPJS Ketenagakerjaan 2022, Bisa lewat HP

Syarat dan Cara Mencairkan BPJS Ketenagakerjaan 2022, Bisa lewat HP

Earn Smart
Dapat Tambahan PMN, BUMN Diminta Bisa Memanfaatkannya Secara Optimal

Dapat Tambahan PMN, BUMN Diminta Bisa Memanfaatkannya Secara Optimal

Whats New
MenKopUKM Ajak Pelaku Seni Masuk Ekosistem Digital

MenKopUKM Ajak Pelaku Seni Masuk Ekosistem Digital

Whats New
Minat Mendaftar MyPertamina Tinggi, Warga Diharap Makin Bijak Konsumsi BBM

Minat Mendaftar MyPertamina Tinggi, Warga Diharap Makin Bijak Konsumsi BBM

Whats New
Pemerintah Berencana Kembangkan Klaster Industri Kimia di IKN

Pemerintah Berencana Kembangkan Klaster Industri Kimia di IKN

Whats New
Jangan Sampai Tertipu, Ini Syarat dan Cara Melamar Kerja di PT PLN (Persero)

Jangan Sampai Tertipu, Ini Syarat dan Cara Melamar Kerja di PT PLN (Persero)

Whats New
KAI Gandeng Operator KA Malaysia, Latih 92 Pekerja LRT Jabodebek

KAI Gandeng Operator KA Malaysia, Latih 92 Pekerja LRT Jabodebek

Whats New
Summarecon Agung Bakal Bagikan Dividen Rp 99,05 Miliar

Summarecon Agung Bakal Bagikan Dividen Rp 99,05 Miliar

Rilis
BTN Incar Tambahan Dana Murah dari Transaksi 'BTN Bisnis', Targetnya Rp 7 Triliun

BTN Incar Tambahan Dana Murah dari Transaksi "BTN Bisnis", Targetnya Rp 7 Triliun

Whats New
Kehadiran Investor Strategis Diharapkan Bisa Dongkrak Kinerja Garuda Indonesia di Masa Mendatang

Kehadiran Investor Strategis Diharapkan Bisa Dongkrak Kinerja Garuda Indonesia di Masa Mendatang

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.