Kendaraan Listrik Diklaim Lebih Hemat dan Ramah Lingkungan, Ini Hitung-hitungan PLN

Kompas.com - 28/03/2022, 16:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - PT PLN (Persero) terus mendukung upaya pemerintah untuk meningkatkan penggunaan kendaraan listrik di Indonesia. Kendaraan listrik pun diklaim lebih hemat dan ramah lingkungan ketimbang kendaraan berbasis bahan bakar minyak (BBM).

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, berdasarkan perhitungan pihaknya, kendaraan listrik membutuhkan biaya isi daya yang lebih murah serta menghasilkan emisi yang lebih rendah.

Ia menjelaskan, dengan 1 liter BBM yang kini seharga Rp 13.000, maka kendaraan berbasis BBM bisa menempuh jarak 10 kilometer. Sementara untuk kendaraan listrik, jarak tempuh 10 kilometer hanya membutuhkan daya 1,5 kilowatt-hour (kWh) dengan harga Rp 2.200 per kWh.

Baca juga: Jelang Ramadhan, Bagaimana Stok Minyak Goreng hingga Gula?

Terlebih jika melakukan isi daya melalui fasilitas home charging pada pukul 22.00 WIB-05.00 WIB yang akan dikenakan diskon tarif listrik sebesar 30 persen.

"BBM 1 liter sekitar Rp 13.000 saat ini, itu ekuivalen dengan 1,5 kWh listrik yang saat ini tarifnya Rp 2.200 per kWh. Apalagi kalau menggunakan listrik home charging pada malam hari hanya sekitar Rp 1.500-Rp 1.600 per kWh," ungkap Darmawan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Senin (28/3/2022).

Selain biaya isi daya yang lebih murah dibandingkan kendaraan berbasis BBM, penggunaan kendaraan listrik menghasilkan emisi yang lebih rendah, sekalipun sumber listriknya masih berasal dari pembangkit yang berbasis energi fosil, seperti batu bara.

Darmawan menjelaskan, 1 liter BBM menghasilkan 2,6 kilogram CO2. Artinya per 10 kilometer emisi yang dihasilkan kendaraan berbasis BBM sebanyak 2,6 kilogram CO2.

Sedangkan pada kendaraan listrik, per 1 kWh menghasilkan 850 gram CO2. Artinya jika per 10 kilometer membutuhkan 1,5 kWh, maka emisi yang dihasilkan sebanyak 1,27 kilogram CO2.

Baca juga: Lebih Hemat Pakai Motor Listrik atau Motor BBM? Ini Hitungan Pemerintah

"Dengan kondisi (sumber) listrik yang saat ini yang belum menggunakan EBT (energi baru terbarukan) 100 persen, ini turun ke 1,27 kilogram CO2, artinya ada pengurangan emisi sebesar 50 persen," papar dia.

Ia menambahkan, berdasarkan perhitungan PLN, jika tidak ada konversi secara bertahap dari kendaraan berbasis BBM ke kendaraan listrik, maka pada 2050 emisi yang dihasilkan mencapai 386,5 juta ton CO2.

Namun, dengan upaya peralihan ke energi bersih melalui sektor transportasi ini, maka penggunaan kendaraan listrik diyakini bisa dengan signifikan mendorong penurunan emisi karbon.

"Apabila terjadi business as usual (berjalan seperti biasanya) menggunakan transportasi berbasis BBM, di 2050 itu ada emisi ssi 386,5 juta ton CO2. Tapi dengan kendaraan listrik, ini akan berkurang drastis," kata Darmawan.

Baca juga: Grab Bakal Operasikan 14.000 Unit Kendaraan Listrik Tahun Ini

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.