BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan APRIL Asia Group

Luncurkan Melayu Merindu, APR dan Mitra Dukung Pelestarian Budaya Wastra Riau

Kompas.com - 29/03/2022, 10:39 WIB
Yakob Arfin Tyas Sasongko,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Produsen serat viscose, Asia Pacific Rayon (APR), meluncurkan kampanye "Melayu Merindu" untuk memajukan industri fesyen di Tanah Air.

Sebagai informasi, Melayu Merindu merupakan program yang digagas oleh Badan Perwakilan Daerah (BPD) Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Riau.

Dalam penyelenggaraannya, BPD API Riau berkolaborasi dengan APR, Wiyasa TFA, Tokopedia, serta Swara Gembira.

Adapun peluncuran Melayu Merindu digelar secara hybrid di Jakarta Fashion Hub, Senin, (28/03/2022).

Kampanye tersebut diselenggarakan untuk melestarikan kekayaan budaya Nusantara, khususnya wastra Melayu, sekaligus menghubungkan sektor hulu (industri tekstil) dan hilir (industri kreatif dan fesyen).

Baca juga: Menilik Potensi Industri Pulp dan Kertas Berkelanjutan sebagai Penggerak Perekonomian Indonesia

Tak hanya itu, kampanye tersebut juga dibuat untuk mengembangkan potensi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) fesyen dengan memaksimalkan potensi budaya wastra Riau dalam setiap kreasi yang dihasilkan.

Dengan begitu, fashionpreneur dan creativepreneur baru di Tanah Air dapat semakin berkembang.

Ketua Badan Perwakilan Daerah (BPD) API Riau sekaligus Direktur APR Basrie Kamba mengatakan, pasar fesyen di Indonesia sangat besar. Potensi tersebut dapat dioptimalkan pelaku UMKM, termasuk yang berada di Riau, untuk mengembangkan lini bisnisnya.

"Kami selalu mendukung setiap upaya dan aspirasi untuk memajukan UMKM di bidang tekstil dan fesyen, serta memperkenalkan budaya Riau Melayu kepada generasi yang akan melestarikan budaya ini ke depannya,” ujar Basrie dalam launching dan konferensi pers Melayu Merindu, Senin.

Basrie menjelaskan, Melayu Merindu merupakan aksi nyata dalam mendukung komitmen keberlanjutan satu dekade APR2030. Salah satu komitmen tersebut, yaitu mengembangkan sentra tekstil di Provinsi Riau.

Baca juga: Resmikan Jakarta Fashion Hub, Sandiaga Uno Apresiasi Upaya APR Dukung Sektor Fesyen Indonesia

Ia menyebut, sebanyak sembilan pelaku UMKM fesyen bersama 12 perajin batik dan tenun terlibat dalam kampanye “Melayu Merindu”. Mereka menghasilkan beragam produk fesyen wanita yang dikombinasikan dengan wastra khas Melayu.

“Sebanyak 12 karya fesyen yang diciptakan para perajin Riau diharapkan dapat memperkuat gerakan #IndonesiaBerkain sekaligus memperkenalkan ragam budaya Indonesia bagi generasi milenial dan gen Z,” ungkap Basrie.

Basrie menuturkan, pelaku UMKM fesyen serta para perajin batik dan tenun telah mendapatkan pelatihan mengenai pengembangan produk dan strategi marketing oleh Wiyasa TFA.

Ketua Badan Perwakilan Daerah (BPD) API Riau sekaligus Direktur APR Basrie Kamba mengatakan, Melayu Merindu merupakan aksi nyata dalam mendukung komitmen keberlanjutan satu dekade APR2030. Salah satu komitmen tersebut, yaitu mengembangkan sentra tekstil di Provinsi Riau.Dok. APR Ketua Badan Perwakilan Daerah (BPD) API Riau sekaligus Direktur APR Basrie Kamba mengatakan, Melayu Merindu merupakan aksi nyata dalam mendukung komitmen keberlanjutan satu dekade APR2030. Salah satu komitmen tersebut, yaitu mengembangkan sentra tekstil di Provinsi Riau.

Mereka juga mendapat pendampingan serta didorong untuk menggunakan bahan baku serat viskosa yang berkelanjutan dari APR secara gratis.

“APR merupakan produsen serat viscose-rayon terintegrasi pertama di Asia yang menghasilkan 100 persen serat rayon terbarukan dan biodegradable atau mudah terurai untuk memenuhi kebutuhan bahan baku tekstil nasional ataupun mancanegara,” kata Basrie.

Baca juga: Mendag Lutfi Lepas Produk Viscose Rayon PT APR ke Pasar Global dan Domestik

Dalam kolaborasi tersebut, APR selaku produsen serat viscose yang berkelanjutan mengalokasikan kain berbahan viscose kepada para start-up dan perajin yang dikreasikan dalam koleksi kolaborasi Melayu Merindu.

Oleh karena itu, lanjut Basrie, Melayu Merindu menjadi kesempatan bagi industri tekstil di Riau untuk berkembang.

“Dengan begitu, (program ini) dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tutur Basrie.

Memperkenalkan serat ramah lingkungan

Pada kesempatan itu, Basrie juga memaparkan keterlibatan APR dalam program Melayu Merindu.

Sebagai produsen serat viskosa, lanjut Basrie, APR berperan menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak. Salah satunya dengan API, Tokopedia, Wiyasa TFA, serta Swara Gembira. Tujuannya, untuk mendampingi serta memberdayakan perajin.

Baca juga: Dukung Pemerintah Atasi Perubahan Iklim, Komitmen APRIL2030 Catatkan Kemajuan Nyata

“Hal pertama yang kami lakukan adalah kolaborasi, yakni kolaborasi yang tulus, bukan kolaborasi yang bersifat komersial. Kalau sekadar berprinsip pada aspek komersial, nafasnya pendek sekali. Dalam program ini, kami lebih menekankan pada aspek pendampingan bagi perajin,” terang Basrie.

Berikutnya, imbuh Basrie, pihak APR memperkenalkan serta mendorong perajin untuk menggunakan bahan baku serat viscose yang ramah lingkungan. Dengan begitu, perajin serta pelaku UMKM fesyen dapat mewujudkan prinsip keberlanjutan (sustainability).

“Jangan banggakan nasi goreng, tetapi berasnya dari luar negeri. Demikian pula jangan bangga pada batik, tapi bahan katun yang digunakan (masih) impor dari luar negeri,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Basrie juga mendorong produsen fesyen untuk semakin adaptif dengan memiliki pola pikir open mind seiring perubahan pasar serta perilaku konsumen.

Basrie menilai, produsen industri fesyen juga harus cermat dalam membidik segmen pasar yang tepat.

Baca juga: Menengok Pusat Persemaian Rumpin yang Dikunjungi Jokowi bersama Dubes Negara Sahabat

“Dengan mengikuti fashion show bukan berarti seketika menjadi brand besar. Pemikiran ini memang tidak salah. Namun, hal yang lebih penting adalah fokus pada segmen pasar potensial serta makin inovatif sesuai kebutuhan konsumen,” ujarnya.

Ia pun mendorong pemerintah untuk mendukung keberlanjutan serta optimalisasi bahan baku serat dalam negeri di industri fesyen.

“Pemerintah, dalam hal ini pemerintah daerah (pemda) serta kementerian harus sungguh-sungguh dan secara konstan membatasi para pemasok katun dari luar negeri. Dengan begitu, penggunaan bahan baku serat lokal ramah lingkungan bisa diwujudkan di industri fesyen Tanah Air,” kata Basrie.

Pelaku UMKM fesyen serta para perajin batik dan tenun yang bergabung dalam Melayu Merindu telah mendapatkan pelatihan mengenai pengembangan produk dan strategi marketing oleh Wiyasa TFA. Selain itu, mereka juga mendapat pendampingan serta didorong untuk menggunakan bahan baku serat viskosa yang berkelanjutan dari APR secara gratis.
Dok. APR Pelaku UMKM fesyen serta para perajin batik dan tenun yang bergabung dalam Melayu Merindu telah mendapatkan pelatihan mengenai pengembangan produk dan strategi marketing oleh Wiyasa TFA. Selain itu, mereka juga mendapat pendampingan serta didorong untuk menggunakan bahan baku serat viskosa yang berkelanjutan dari APR secara gratis.

Potensi wastra untuk gaet wisatawan

Pada kesempatan sama, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahudin Uno menyambut baik upaya kolaboratif Melayu Merindu untuk memajukan industri kreatif dan fesyen dengan memaksimalkan potensi wastra Nusantara.

Sandi meyakini, optimalisasi potensi wastra dapat menjadi daya tarik wisata bagi konsumen, baik yang berasal dari lokal maupun mancanegara.

Baca juga: COP26 Digelar, Bagaimana Komitmen Swasta Bantu Cegah Perubahan Iklim?

"Dengan kehadiran produk kolaborasi hasil karya dari para perajin dan pelaku start-up fesyen Riau yang tergabung dalam API Riau, kami berharap produk lokal Indonesia, utamanya wastra Melayu, dapat kembali berjaya dan bertransformasi menjadi salah satu kebanggan indonesia, khususnya bagi generasi muda," ujar Sandiaga.

Sebagai informasi, Anda dapat membeli produk wastra Riau tersebut melalui platform e-commerce Tokopedia. Berbagai kemudahan pun ditawarkan, salah satunya gratis ongkos kirim (ongkir). Produk fesyen tersebut dapat Anda temukan di sini.

Selain mendukung pelestarian budaya Melayu, konsumen yang membeli produk Melayu Merindu juga turut mendukung tren sustainable fashion di Indonesia.


Terkini Lainnya

Harga Bahan Pokok Kamis 13 Juni 2024, Semua Bahan Pokok Naik, Kecuali Cabai Merah Keriting

Harga Bahan Pokok Kamis 13 Juni 2024, Semua Bahan Pokok Naik, Kecuali Cabai Merah Keriting

Whats New
Mengintip Upaya Jangka Pendek Kementan dalam Menggenjot Produksi Beras

Mengintip Upaya Jangka Pendek Kementan dalam Menggenjot Produksi Beras

Whats New
Tersandung Gagal Bayar, Investree Belum Dapat Tambahan Modal

Tersandung Gagal Bayar, Investree Belum Dapat Tambahan Modal

Whats New
Ini 'Ramalan' Terbaru Bank Dunia Terhadap Ekonomi Indonesia 2024-2025

Ini "Ramalan" Terbaru Bank Dunia Terhadap Ekonomi Indonesia 2024-2025

Whats New
Nyaris 10 Juta Gen Z Menganggur, Kemenko Perekonomian Tawarkan Program Prakerja

Nyaris 10 Juta Gen Z Menganggur, Kemenko Perekonomian Tawarkan Program Prakerja

Whats New
IHSG Bakal Melemah Hari Ini, Simak Analisis dan Rekomendasi Sahamnya

IHSG Bakal Melemah Hari Ini, Simak Analisis dan Rekomendasi Sahamnya

Whats New
 The Fed Pertahankan Suku Bunga Tetap Stabil, dan Berencana Lakukan Pemotongan Tahun Ini

The Fed Pertahankan Suku Bunga Tetap Stabil, dan Berencana Lakukan Pemotongan Tahun Ini

Whats New
The Fed Tahan Suku Bunga, Saham di Wall Street Mayoritas Bullish

The Fed Tahan Suku Bunga, Saham di Wall Street Mayoritas Bullish

Whats New
Tarif Internet Starlink Vs Provider Lokal, Mana Lebih Murah? Ini Penjelasan Kominfo

Tarif Internet Starlink Vs Provider Lokal, Mana Lebih Murah? Ini Penjelasan Kominfo

Whats New
[POPULER MONEY] Kominfo Bantah Beri Karpet Merah ke Starlink | Ditransfer Uang Pinjol Ilegal, Ini yang Harus Dilakukan

[POPULER MONEY] Kominfo Bantah Beri Karpet Merah ke Starlink | Ditransfer Uang Pinjol Ilegal, Ini yang Harus Dilakukan

Whats New
Diperintah Jokowi Akuisisi Perusahaan Kamboja, Dirut Bulog: Pembicaraan Sudah Dilakukan

Diperintah Jokowi Akuisisi Perusahaan Kamboja, Dirut Bulog: Pembicaraan Sudah Dilakukan

Whats New
OJK: Kredit Macet 15 'Fintech Lending' di Atas 5 Persen

OJK: Kredit Macet 15 "Fintech Lending" di Atas 5 Persen

Whats New
Semakin Banyak Negara Adopsi ETF, Minat Aset Kripto Bakal Kembali Meningkat

Semakin Banyak Negara Adopsi ETF, Minat Aset Kripto Bakal Kembali Meningkat

Whats New
Penyeludupan Benih Lobster, Menteri KKP: Triliunan Rupiah Harta Bangsa Ini Melayang...

Penyeludupan Benih Lobster, Menteri KKP: Triliunan Rupiah Harta Bangsa Ini Melayang...

Whats New
Izin Usaha Dicabut, TaniFund Belum Punya Tim Likuidasi

Izin Usaha Dicabut, TaniFund Belum Punya Tim Likuidasi

Whats New
komentar di artikel lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com