Baru 152 Perusahaan Terapkan Industri Hijau, Menperin: Kalau Tidak, Mereka Ketinggalan Kereta

Kompas.com - 06/04/2022, 12:10 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, baru 152 perusahaan yang telah menerapkan industri ramah lingkungan. Dia bilang, dari 152 perusahaan industri peserta penghargaan Industri Hijau tahun 2021, telah dicapai penghematan energi sebesar Rp 3,2 triliun dan penghematan air sebesar Rp 169 miliar.

Ia mengungkapkan, masih banyak industri yang masih belum menerapkan industri hijau tersebut. Disebutkan industri yang mengantongi Izin Operasional Mobilitas dan Kegiatan Industri (IOMKI) mencapai 16.000, sayangnya baru 152 perusahaan yang baru merealisasikan industri hijau.

"Banyak (industri yang belum mengikuti peralihan industri hijau), banyak. Kalau di IOMKI saja kita punya sekitar 16.000 perusahaan industri. Jadi masih jauh sekali. Baru 152 industri yang tadi saya katakan (yang menerapkan industri hijau)," katanya dalam peluncuran Penghargaan Industri Hijau, di Jakarta, Rabu (6/4/2022).

Baca juga: Wujudkan Industri Hijau melalui Percepatan Transisi Energi Bersih dan Digitalisasi Pengelolaan Energi

Maka dari itu, pemerintah terus mengejar belasan ribu perusahaan atau industri agar beralih ke industri ramah lingkungan. Karena menurut Agus, produk yang diciptakan dengan ramah lingkungan bakal diserbu oleh para konsumen.

"Kita ingin mematok mereka yang belum ikut karena tidak ada pilihan seperti yang saya katakan, nanti mereka akan ketinggalan kereta. Karena seperti bangsa-bangsa lain yang sudah mulai berlomba-lomba memproduksi yang berbasis hijau. Arahnya pasti ke sana, enggak akan mundur dari sana. Semua orang di dunia akan mencari produk-produk yang berbasis hijau," lanjut dia.

Sampai dengan tahun 2021 juga telah terbit 31 peraturan menteri tentang standar industri hijau, dan 44 industri manufaktur yang telah tersertifikasi.

Dari program penurunan emisi gas rumah kaca (GRK), berdasarkan hasil capaian yang telah diverifikasi untuk tahun pelaporan 2021, sampai dengan 2020 telah berhasil dilakukan penurunan emisi hingga 2.730.564,26 ton karbon dioksida ekuivalen atau 99,3 persen dari target Nationally Determined Contribution (NDC) Tahun 2030 sektor industri (2,75 juta ton karbon dioksida ekuivalen).

Baca juga: Jokowi Berharap Kawasan Industri Hijau RI Jadi yang Terbersar di Dunia

Pada 2021, juga telah dihasilkan target pengembangan circular economy 2022-2025, yaitu tersedianya sistem informasi circular economy di sektor industri, peningkatan pemanfaatan bahan baku daur ulang dari dalam negeri, peningkatan daya saing produk daur ulang dan produk yang mengandung bahan baku daur ulang, serta regulasi yang mendukung penerapan circular economy di sektor industri.

"Melihat capaian pengembangan industri hijau hingga tahun 2021, maka program yang telah dilakukan selama ini harus tetap dilanjutkan, serta dilakukan evaluasi untuk perbaikan dan peningkatan kualitas program, serta perlu didorong adanya insentif bagi perusahaan industri yang telah menerapkan industri hijau," ucapnya.

Hal ini bertujuan tercapainya target pengembangan industri hijau di tahun 2030 yang pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing industri, efisiensi sumberdaya alam, penurunan tingkat pencemaran, serta pemenuhan target program nasional.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah Indonesia berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca sebagaimana yang dituangkan dalam NDC yang memuat rencana penurunan emisi hingga tahun 2030 sebesar 29 persen dengan usaha sendiri. Kemudian menurunkan emisi hingga 41 persen bila didukung secara internasional.

Dalam hal ini, sektor industri berkontribusi kepada upaya mitigasi gas rumah kaca pada 3 sumber emisi yaitu, energi, proses industri dan penggunaan produk, dan limbah industri.

Untuk mempertegas komitmen Indonesia dalam aksi perubahan iklim maka saat ini sedang disusun rencana net zero emission Indonesia 2060. Kebijakan NZE atau karbon netral harus selaras dengan visi Indonesia 2045, dimana pilar ekonomi yang maju dan berkelanjutan harus dikedepankan. Artinya, tidak boleh ada trade-off antara pertumbuhan ekonomi hijau vs target net zero emission.

Baca juga: Bogasari Jadi Pabrik Terigu Pertama yang Raih Industri Hijau

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Milenial, Simak Tips Mengatur Uang secara Bijak

Milenial, Simak Tips Mengatur Uang secara Bijak

Spend Smart
Lima Tips Cuan 'Trading' Kripto Saat Kondisi Pasar Cenderung Turun

Lima Tips Cuan "Trading" Kripto Saat Kondisi Pasar Cenderung Turun

Earn Smart
Risiko Global Meningkat, Bos OJK Sebut Sektor Jasa Keuangan Harus Waspada

Risiko Global Meningkat, Bos OJK Sebut Sektor Jasa Keuangan Harus Waspada

Whats New
Harga Cabai hingga Bawang Naik, Luhut: Saya Usul Bupati Bikin Pertanian Kecil...

Harga Cabai hingga Bawang Naik, Luhut: Saya Usul Bupati Bikin Pertanian Kecil...

Whats New
Kini Berusia 57 Tahun, Telkom Siap Bawa Indonesia Menuju Transformasi Digital

Kini Berusia 57 Tahun, Telkom Siap Bawa Indonesia Menuju Transformasi Digital

Rilis
Kurangi Emisi 30 Persen pada 2030,  Ini Strategi Freeport Indonesia

Kurangi Emisi 30 Persen pada 2030, Ini Strategi Freeport Indonesia

Whats New
Pasar Kripto Dalam Tren 'Bearish', Tokocrypto Gratiskan Biaya 'Trading' dan Beli Bitcoin

Pasar Kripto Dalam Tren "Bearish", Tokocrypto Gratiskan Biaya "Trading" dan Beli Bitcoin

Whats New
Pemerintah Berkomitmen Kembangkan Literasi Keuangan bagi Petani hingga Nelayan

Pemerintah Berkomitmen Kembangkan Literasi Keuangan bagi Petani hingga Nelayan

Whats New
IHSG Ditutup Menguat, Rupiah Masih di Level Rp 15.000 per Dollar AS

IHSG Ditutup Menguat, Rupiah Masih di Level Rp 15.000 per Dollar AS

Whats New
Ke Depan, WNI Tak Perlu Tukar Uang Jika Pergi ke 4 Negara ASEAN Ini

Ke Depan, WNI Tak Perlu Tukar Uang Jika Pergi ke 4 Negara ASEAN Ini

Whats New
PMN Lambat Cair, Penyelesaian Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Terancam Mundur

PMN Lambat Cair, Penyelesaian Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Terancam Mundur

Whats New
Konsorsium GMR-AP II Resmi Kelola Bandara Kualanamu, Ini Harapan Erick Thohir dan Menhub Budi Karya

Konsorsium GMR-AP II Resmi Kelola Bandara Kualanamu, Ini Harapan Erick Thohir dan Menhub Budi Karya

Whats New
69 Delegasi akan Menghadiri Pertemuan Jalur Keuangan G20 Pekan Depan

69 Delegasi akan Menghadiri Pertemuan Jalur Keuangan G20 Pekan Depan

Whats New
Ini 5 Faktor Penyebab Harga Emas Naik Turun

Ini 5 Faktor Penyebab Harga Emas Naik Turun

Earn Smart
Anjlok Tajam, Simak Rincian Harga Emas Hari Ini di Pegadaian

Anjlok Tajam, Simak Rincian Harga Emas Hari Ini di Pegadaian

Spend Smart
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.