Indonesian Insight Kompas
Kelindan arsip, data, analisis, dan peristiwa

Arsip Kompas berkelindan dengan olah data, analisis, dan atau peristiwa kenyataan hari ini membangun sebuah cerita. Masa lalu dan masa kini tak pernah benar-benar terputus. Ikhtiar Kompas.com menyongsong masa depan berbekal catatan hingga hari ini, termasuk dari kekayaan Arsip Kompas.

Safe-Haven Yen Catat Pelemahan Terburuk dalam 20 Tahun terhadap Dollar AS

Kompas.com - 13/04/2022, 15:42 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Memukul daya beli domestik

UBS dalam catatannya yang dikutip AFP mengatakan bahwa pelemahan yen kemungkinan akan memukul daya beli rumah tangga Jepang dan usaha kecil berorientasi domestik yang akan menghadapi biaya impor yang lebih tinggi.

"Pemerintah menawarkan dukungan fiskal dan kemungkinan besar akan memperluas dukungan. Kami pikir intervensi pembelian JPY dimungkinkan jika laju depresiasi dianggap terlalu cepat," lanjut catatan bank Swiss tersebut.

Meski demikian, UBS tidak menutup kemungkinan BoJ melakukan penyesuaian untuk mengatasi kritik publik atas depresiasi yen, sembari menambahkan bahwa BoJ di kepemimpinan Kuroda telah cukup fleksibel dan pragmatis dalam kebijakan-kebijakan sebelumnya.

Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida tidak berkomentar langsung tentang penurunan yen ketika ditanya pada Selasa (12/4/2022), tetapi menekankan pentingnya stabilitas nilai tukar mata uang asing.

"Saya akan menahan diri untuk tidak mengomentari tingkat nilai tukar, tetapi stabilitasnya penting dan saya pikir fluktuasi yang cepat tidak diinginkan," ujar dia seperti dikutip AFP.

Efek tak biasanya

Pelemahan yen terhadap dollar AS yang terus berlanjut, disebut tak selalu berarti efek buruk melulu bagi perekonomian Jepang secara luas. Pelemahan mata uang safe-haven ini diyakini membantu perusahaan eksportir blue-chip seperti Toyota Motor Corp.

Namun, narasi itu semakin banyak mendapat tentangan, seturut lonjakan harga komoditas yang juga memukul sejumlah bisnis dan konsumen, lebih keras dibanding masa-masa sebelumnya. 

"Efek negatif, atau risiko dari pelemahan yen yang sekarang kita lihat, belum pernah terjadi sebelumnya," kata Eiji Hashimoto, ketua Federasi Besi dan Baja Jepang, seperti dikutip Bloomberg di edisi tayang Kamis (7/4/2022),

Hashimoto menambahkan, pelemahan yen pada masa-masa lalu cenderung menguntungkan bagi produsen baja dan industri lain. Namun, lonjakan biaya energi yang berbarengan terjadi dengan kenaikan harga material saat ini menurut dia benar-benar terasa berbeda.

Setahun ini, harga material sudah melonjak 15 persen dan diperkirakan masih akan berlanjut. Harga-harga barang modal untuk perusahaan disebut naik dengan kecepatan tertinggi dalam 40 tahun terakhir, termasuk 25 persen kenaikan besi dan baja pada Februari 2022. 

"Bahan baku kami makin dan makin mahal. Tidak ada keuntungannya bagi kami," kata Hidemi Moriya, petinggi produsen barang berbahan besi di Nagano Jepang, seperti dikutip Bloomberg.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.