KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant
Eileen Rachman dan Emilia Jakob
Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia. EXPERD diperkuat oleh para konsultan dan staf yang sangat berpengalaman dan memiliki komitmen penuh untuk berkontribusi pada perkembangan bisnis melalui layanan sumber daya manusia.

Kelak-kelok Karier

Kompas.com - 07/05/2022, 08:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KITA sudah lama menyadari bahwa karier tidak selalu harus selaras dengan bidang pendidikan tinggi yang ditempuh. Sebuah universitas bergengsi di bidang pertanian sudah melahirkan ribuan sarjana pertanian. Namun, seberapa banyak dari lulusannya yang benar-benar menekuni karier di bidang pertanian?

Sarjana lulusan institusi pendidikan tersebut malahan bertebaran di bank-bank ternama, bahkan tidak sedikit yang menduduki jabatan tertinggi. Pada zaman sekarang, “jalan menikung” seperti itu banyak dilakoni oleh anak muda. Para fresh graduate berbelok ke profesi yang tidak sejalan dengan latar belakang pendidikannya. Tak hanya itu, banyak juga anak muda masa kini yang enggan climbing corporate ladder lagi. Karier dipandang sebagai jalur yang fleksibel, tidak terbatas, dan memiliki banyak sekali tikungan.

Helen Tupper dan Sarah Ellis, penulis buku The Squiggly Career, mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada resep khusus yang memastikan kesuksesan karier seseorang. Menurut mereka, kunci utama dari kesuksesan karier adalah adanya kesempatan belajar yang universal bagi setiap individu di mana pun mereka berada. Dua ahli ini juga menyatakan adanya pergeseran prioritas sasaran karier individu di masa sekarang.

Dengan adanya gig economy dan perkembangan dramatis ekosistem startup, anak muda zaman sekarang tidak lagi mendefinisikan karier sebagai kesabaran meniti anak tangga demi anak tangga selama puluhan tahun. Karier justru dipandang sebagai suatu lahan yang cair dan fleksibel.

Pada ranah karier, mereka lebih bebas berselancar mencari dan menunggangi gelombang yang tepat dan dapat membawa mereka naik ke gelombang yang lebih tinggi lagi.

Hal itu berarti bahwa ada pergeseran keterampilan, ekspektasi, dan prioritas dari tenaga kerja baru. Dengan segala ketidakpastian dalam kehidupan modern saat ini, konsep kelak-kelok karier tersebut membantu kita untuk menyadari perlunya mencari kekuatan agar dapat mengarungi jalur karier yang tidak biasa ini.

Squiggly career

Sarah Ellis dan Helen Tupper mengungkapkan manfaat yang dicari oleh generasi muda dari squiggly career atau karier yang berkelok-kelok adalah having more flexibility in your job to decide if remote work or in-office work is what you prefer. Dengan pola pikir “berliku” seperti itu, kita harus berkeyakinan dapat menemukan peluang sekaligus mengerjakan hal yang kita sukai dalam pekerjaan daripada terus menerus berpikir dan terobsesi pada kenaikan pangkat semata.

Bila merasa tidak terlalu mengerti tentang kesempatan-kesempatan yang ada, kita dapat bertanya pada mentor-mentor yang dapat ditemukan di antara mereka yang sudah memiliki pengalaman pada bidang yang menarik minat kita. Hal yang penting, kita sekarang perlu memiliki pola pikir yang berbeda.

Eileen RachmanDok. EXPERD Eileen Rachman

Pola pikir “berliku” bukanlah pola pikir tentang bagaimana berkelana di dunia karier, tetapi lebih menekankan pada bagaimana kita belajar, berkembang, dan tumbuh dengan cara yang lebih dinamis.

Saat ini, orang sulit membayangkan model bekerja yang nine to five lagi. Batasan jam kerja semakin lama semakin kabur, apalagi dengan model bekerja hybrid atau remote yang saat ini diterapkan banyak perusahaan. Dengan menganut pola pikir bahwa kesempatan ada di mana saja, kita perlu berfokus pada beberapa hal.

Pertama, kekuatan versus kelemahan. Menemukan kekuatan kita saja tidak cukup. Kita perlu mengasah kekuatan yang dimiliki sampai titik yang paling optimal. Setiap orang memiliki kekuatan. Namun, banyak orang yang tidak menyadarinya karena tidak menggalinya. Inilah saatnya bagi kita untuk berusaha menemukan tiga hal yang dapat membuat diri lebih menonjol. Dari sana, kita lebih mudah memadukan kekuatan dengan kesempatan-kesempatan yang ada.

Sebaliknya, bila kita tahu apa kelemahan kita, sudah berusaha untuk memperbaikinya, tapi tidak juga memberikan hasil seperti yang diharapkan, kita juga perlu menerimanya secara legawa. Cari cara bagaimana kekuatan yang kita miliki dapat mengompensasinya.

Kedua, nilai. Ketika kekuatan menunjukkan apa yang mampu kita lakukan, nilai mengidentifikasikan “siapa kita”. Nilai pribadi biasanya tumbuh sejak masa sekolah. Kekuatan prinsip kita akan menunjukkan bagaimana nilai-nilai pribadi tersebut dipegang teguh. Nilai pribadi membuat pengambilan keputusan lebih mudah karena kita tahu apa yang dianggap benar dan tidak benar. Nilai yang kuat juga membantu untuk berempati pada orang lain yang tidak mempunyai nilai yang sama dengan kita.

Kita pun perlu memiliki prinsip bahwa tidak ada nilai yang salah dan benar. Memegang nilai tertentu adalah pilihan, tetapi kita perlu menyelaraskannya dengan nilai organisasi tempat kita bekerja sehingga kontribusi yang diberikan pun tidak setengah-setengah.

Ketiga, kepercayaan diri. Ini menyangkut keyakinan pada kekuatan diri dan kemampuan menginspirasi orang di sekitar kita. Untuk membangun kepercayaan diri ini, kita perlu menggali kekuatan sampai ke akarnya. Kepercayaan diri akan sangat berguna pada saat sedang terpuruk. Terlebih, ketika kita membutuhkan tenaga untuk bangkit lagi. Banyak orang menyebut kekuatan bawah sadar ini sebagai sistem pendukung.

Keempat, pengalaman sukses. Kita memang tidak boleh terlalu berpegang pada masa lalu. Namun, apa yang sudah berhasil dilakukan perlu kita catat sebagai portofolio. Curriculum vitae yang panjang dan tebal merupakan modal karier kita.

Kelima, jejaring sosial atau networking. Banyak manfaat yang dapat dipetik dari jejaring sosial. Menciptakan jejaring sosial bukan sekadar dominasi orang-orang ekstrover. Individu yang introver pun dapat membina hubungan dan persahabatan dengan orang lain.

Network yang baik selalu melahirkan energi. Agar hubungan terasa tulus, kita perlu menjalaninya dengan sepenuh hati, bukan sekadar berharap kemungkinan adanya pertolongan orang lain. Bila kita rajin membina hubungan, network akan bekerja dengan sendirinya ketika dibutuhkan.

Keenam, kemungkinan versus rencana. Pandangan bahwa kita perlu membuat rencana tidak berlaku lagi dalam menyusun karier. Ini dikarenakan kita sudah berpindah ke mental eksplorasi yang selalu mencari tahu mengenai kesempatan-kesempatan lain.

Pada prinsipnya karier sekarang sangat tergantung pada kesadaran kita akan sasaran, motivasi, serta kekuatan belajar dan berkembang. JK Rowling mengatakan, “Whatever money you might have, self-worth really lies in finding out what you do best.”


Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.