Generasi Sandwich Harus Mulai Investasi dan Siapkan Dana Pensiun Sejak Awal Kerja

Kompas.com - 10/05/2022, 17:37 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Bukan rahasia kalau generasi sandwich memiliki tanggung jawab besar berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan keluarganya.

Apalagi di banyak negara Asia yang ikatan kekeluargaan memang sangat kuat. Biasanya, anak baru akan keluar dari rumah ketika menginjak usai 25 sampai 30 tahun. Hal ini menjadi salah satu faktor terbentuknya generasi sandwich di Indonesia.

Hal lain yang jadi faktor penyebabnya adalah karena orang tua pada zaman dahulu rata-rata belum memikirkan untuk memiliki investasi atau perencanaan hari tua. Untuk itu, generasi sandwich dapat memulai langkah investasi juga memikirkan dana pensiun untuk dapat memutus rantai tersebut.

Baca juga: Begini Cara Kelola THR untuk Sandwich Generation

Founder OneShildt Financial Planning dan CEO PT Cerdas Keuangan Indonesia Mohamad Andoko mengatakan, generasi sandwich sangat bisa melakukan investasi sedini mungkin.

"Saat ini di Indonesia itu untuk melakukan investasi tidak memperlukan dana yang besar. Misalnya, di reksadana dapat melakukan investasi puluhan ribu. Sedangkan di saham, dapat melakukan investasi bahkan dari Rp 50.000 untuk satu lot," terang dia kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.

Mengutip data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ia mengatakan terjadi petumbuhan investor yang besar sekali pada tahun lalu. Tercatat, sebanyak 7,5 juta investor ada di pasar modal pada tahun 2021. Sementara, pada tahun 2020 jumlahnya tercatat masih 3,9 juta. Dari sana terlihat, kenaikan investor pasar modal Indonesia meningkat sebanyak 93 persen.

Ia memerinci, dari jumlah tersebut sebanyak 60 persen merupakan investor dengan usia di bawah 60 tahun. Sedangkan, sebanyak 22 persen merupakan investor dengan rentang usia 31-40 tahun.

Dari data tersebut, ia menyebut sangat mungkin untuk generasi sandwich melakukan investasi. Namun demikian, Andoko berpesan agar generasi sandwich memulai dari yang kecil, sehingga nantinya dapat menjadi kebiasaan. Dengan begitu, keuntungannya akan lebih terasa di kemudian hari.

Dalam melakukan investasi, Andoko berpesan generasi sandwich perlu mengingat dan berhati-hati pada ungkapan high risk expected high return, bukan high risk high return.

Baca juga: Lewat Asuransi, Milenial Diyakini Bisa Putuskan Rantai Generasi Sandwich

"Kalau high risk high return itu berarti orang berpikir kalau saya menempatkan pada sebuah instrumen investasi berisiko tinggi, saya pasti akan dapat yang return-nya tinggi. Padahal faktanya tidak. Maka, high risk expected high return, saya berharap mendapatkan return yang lebih besar ketika menempatkan investasi di instrumen yang risikonya tinggi," urai dia.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.