Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ferdy Hasiman
Peneliti

Peneliti di Alpha Research Database. Menulis Buku Freeport: Bisnis Orang Kuat Vs Kedaulatan Negara, Gramedia 2019. dan Monster Tambang, JPIC-OFM 2013.

Proyek Smelter ANTM & Kolaborasi BUMN

Kompas.com - 12/05/2022, 08:28 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SEJAK 12 Januari 2014, semua perusahaan tambang sejenis emas, tembaga, nikel, mangan, dan bauksit wajib membangun pabrik smelter atau pabrik pengolahan dalam negeri agar memberi efek pelipatan (multiple effect) bagi pembangunan. Dengan aturan itu, semua perusahaan tambang tak diperkenankan lagi melakukan ekspor mineral mentah karena dianggap merugikan negara dan hanya mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) tanpa ada nilai tambah ekonomi.

Dengan menjual mineral mentah, harga menjadi sangat murah. Sementara jika diolah dahulu dalam pabrik, harga mineral meningkat dan berefek pada lapangan kerja dan peningkatan penerimaan negara.

Baca juga: Antam Gandeng PLN untuk Pasok Listrik di Smelter Feronikel Haltim

Semua perusahaan tambang milik perusahaan global, BUMN (Badan Usaha Milik Negara), dan swasta sibuk membangun pabrik smelter, seperti PT Freeport Indonesia yang sudah sibuk merencankan pembangun pabrik smelter tembaga di Gresik, Jawa Timur (belum jalan sampai sekarang) ataupun PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang membangun smelter feronikel di Halmahera Timur (FeniHaltim) sejak tahun 2012.

Dalam tulisan ini, saya hanya ingin mengulas proyek FeniHaltim milik ANTM. Proyek FeniHaltim menarik karena ini adalah proyek kolaborasi antar sesama BUMN, yang melibatkan ANTM dan Perusahaan Listrik Negara (PLN).

ANTM sebagai pemilik proyek yang memiliki konsensi nikel (hulu) dan PLN ambil bagian dalam memasok listrik agar proyek hilir (pengolah nikel menjadi feronikel) bisa berjalan cepat. Baik ANTM maupun PLN sama-sama ingin untung dalam proyek tersebut.

Proyek itu menjadi menarik karena kemajuan proyek sudah mencapai 90 persen. Pengerjaan proyek mulai dari perlengkapan pabrik sudah berjalan. Merujuk ke beberapa pemberitaan yang saya cermati, proyek FeNiHaltim sudah mencapai 90 persen pengerjaannya.

Dibandingkan perusahaan-perusahaan lain yang sama sekali belum mengalami perkembangan pembangunan smelter, pembangunan smelter FeniHaltim sangat bagus. Freeport Indonesia dan Amman Mineral misalnya, perkembangan pembangunan smelter masih lima persen.

Jaminan itulah yang dilaporkan ANTM kepada menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) tahun 2017, ketika ada kebijakan relaksasi ekspor mineral, ANTM menjadi salah satu perusahaan tambang yang mendapat kuota ekspor dari pemerintah. Pada saat itu ada syarat khusus bagi perusahaan tambang untuk mendapat kuota ekspor, yaitu wajib melaporkan kemajuan pembangunan smelter, bukan karena kedekatan dengan pemerintah atau Dirjen Minerba atau karena ANTM perusahaan BUMN.

Meskipun sejak tahun 2017 proyek smelter FeniHaltim sudah menunjukkan kemajuan berarti, namun sampai sekarang tak kunjung selesai karena negosiasi listrik dengan PLN agar proyek itu beroperasi belum menemukan titik terang.

Kolaborasi saling menguntungkan

Sebagai pemilik proyek, ANTM harus mendapat untung agar mengubah neraca keuangannya, yang dapat dipertanggungjawabkan ke pemegang saham (menteri BUMN) dan rakyat Indonesia. Proyek ini memiliki investasi besar, yaitu mencapai Rp 3,5 triliun. Dengan kapasitas smelter mencapai 13.500 metrik ton feronikel per tahun, ANTM berharap bisa mendapat return of investment (balik modal) cepat dan mendapat untung.

Salah satu pekerja di pabrik feronikel Antam di Pomalaa menunjukan feronikel Dok. Humas PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM Salah satu pekerja di pabrik feronikel Antam di Pomalaa menunjukan feronikel
Jika proyek itu untung, dividen kepada pemegang saham besar dan penerimaan negara juga ikut besar. ANTM juga harus bertanggung jawab terhadap dana investasi yang sudah dikeluarkan untuk pengembangan smelter FeniHaltim. Reputasi ANTM sebagai perusahaan tambang BUMN juga tak dianggap sebelah mata. Jadi, proyek ini bisa dikatakan pertaruhan para manajemen ANTM. Maka, pengolahan bisnisnya perlu hati-hati.

Baca juga: Menilik Prospek Saham ANTM, TINS, dan PTBA Tahun 2022

Banyak yang mengatakan, jika proyek ini berjalan, ANTM bisa meraup untung besar. Apalagi ANTM sudah sejak tahun 1970-an telah membangun pabrik smelter feronikel berkapasitas 27.000 metrik ton di Pomala, Sulawesi Tenggara.

Namun, kita jangan terlalu tergesa-gesa beranggapan bahwa ANTM akan meraup untung besar dari proyek FeniHaltim. Proyek Feni belum bisa beroperasi komersial karena antara ANTM dan PLN belum mencapai kesepakatan bisnis yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Risikonya, proyek itu berjalan lamban dan membutuhkan solusi strategis.

Dalam rangka memperlancar proyek FeniHaltim, PLN melakukan penawaran harga listrik sebesar Rp 595,65 per kilo watt per hour (kwh). Namun, proposal tersebut belum dijawab pihak ANTM. Belum jelas apa alasannya.

Saya juga belum melihat jawaban ANTM. Padahal, proyek FeniHaltim perlu dipercepat karena sejak Oktober 2020, pemerintah sudah menghentikan semua ekspor mineral nikel. UU No.3/2020, tentang Mineral dan Batubara juga memberikan batasan waktu hanya sampai tahun 2023 saja perusahaan tambang diizinkan ekspor mineral mentah.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com